Jumat, 22 Februari 2019


Dampak Ganda Bantuan Alsintan

12 Peb 2019, 11:49 WIBEditor : Yul

Bantuan besar-besaran Alsintan pada 4 tahun terakhir mengubah wajah pertanian Indonesia lebih modern.

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Bantuan besar-besaran alat dan mesin pertanian (alsintan) pada 4 tahun terakhir telah mengubah wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern. Efek domino dari bantuan alsintan pun terjadi. Bukan hanya itu, produksi pangan pun terdongkrak, kesejahteraan petani pun terangkat.

Di era yang makin maju dan serba milenial, modernisasi pertanian memang mutlak dilakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat berbasis pertanian. Program mekanisasi tidak hanya berperan nyata dalam meningkatkan produksi pangan. Tapi di sisi lain juga terbukti menjadi solusi dalam kelangkaan tenaga kerja pertanian.

“Modernisasi pertanian melalui mekanisasi merupakan solusi efisien menggantikan pola usaha manual. Mekanisasi juga sebagai solusi mengatasi berkurangnya tenaga kerja pertanian karena bermigrasi ke sektor industri dan jasa,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Seperti diketahui, jumlah terbanyak tenaga kerja pada sektor tanaman pangan adalah petani yang sudah berusia lebih kurang 60 tahun kemudian disusul usia antara 40 hingga 45 tahun. Dampak nyata adanya kelangkaan dan usia lanjut tenaga petani untuk mendukung budidaya tanaman padi adalah rendahnya kapasitas kerja tanam padi per satuan luas lahan dan mahalnya biaya tanam.

Sejak 2014-2018, Kementerian Pertanian telah menyalurkan sebanyak 370.378 unit alsintan. Alsintan tersebut berupa rice transplanter, combine harvester, dryer, power thresher, corn sheller dan rice milling unit, traktor dan pompa air. Kalkulasi pemerintah dengan mekanisasi dapat menghemat biaya produksi hingga 30?n menurunkan susut panen 10%. Mekanisasi juga menghemat biaya olah tanah, biaya tanam dan panen dari pola manual Rp 7,3 juta/ha menjadi Rp 5,1 juta/ha.

Petani Rasakan Manfaat

Modernisasi pertanian melalui alsintan ternyata mulai dirasakan petani. Contohnya, Gapoktan Madiun Bersatu di Dusun Parit Madiun, Kecamatan Sei Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Saat ini petani sangat menggantungkan kegiatan tanam pada mesin transplanter Jarwo 2:1. Apalagi biaya tanamnya lebih murah.

Untuk biaya tanam padi secara manual dengan metode tanam Jarwo sebesar Rp 1,8 juta/ha, sedangkan dengan Jarwo Transplanter hanya Rp 1,4 juta/ha. Artinya petani bisa menghemat Rp 400 ribu untuk biaya tanam. Dampak ganda lainnya, produktivitas padi dengan metode tanam Jarwo meningkat rata-rata dari 3,3 ton menjadi sekitar 4,7 ton/ha.

Petani di Kabupaten Subang, Jawa Barat juga merasakan keuntungan alsintan. Jika tanam manual, petani harus mengeluarkan ongkos sebesar Rp 3,5 juta/ha, maka dengan Jarwo Transplanter hanya Rp 1,8 juta/ha. Perbedaan yang mencapai Rp 1,7 juta bagi petani sangat besar dan bisa digunakan untuk kegiatan lainnya. Bukan hanya itu, petani di Subang juga mendapatkan hasil lebih tinggi, karena produktivitas padi dengan metode tanam Jarwo mencapai 7,6 ton/ha.

Fakta lainnya, dirasakan juga Kelompok Tani Suka Maju, Dusun Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Selama ini petani harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 2 juta/ha untuk biaya tanam secara manual. Sedangkan dengan transplanter Rp 1,9 juta/ha. Rata-rata produktivitas padi dengan metode tanam Jajar Legowo mencapai 7,5 ton/ha.

Direktur Alsintan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah mengatakan, rata-rata persepsi petani pengguna mesin transplanter jarwo 2:1 yakni sebagai solusi mulai munculnya kelangkaan tenaga kerja tanam, sekaligus meningkatkan efisiensi waktu dan biaya tanam yang akhirnya akan menurunkan biaya usaha tani padi.

Dampak nyata penggunaan mesin tanam padi menurut Andi Nur terlihat dari hasil pengamatan di tingkat petani. Pengguna mesin transplanter menunjukkan rata-rata kinerja 1 mesin transplanter dengan 1 orang operator dan 2 asistennya dapat menggantikan antara 15-27 hari orang kerja (HOK), sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1-1,2 ha/hari.

Keuntungan lain dari cara tanam dengan mesin transplanter adalah munculnya usaha pembibitan padi. Sebab, untuk tanam dengan menggunakan alsintan tersebut memerlukan bibit khusus, yaitu umur bibit harus kurang dari 18 hari. Bibit juga harus ditaruh pada kotak mesin (tipe dapog,-red) sesuai ukuran mesinnya. Rata-rata kebutuhan bibit sebanyak 250-300 dapog/ha.“Penggunaan mesin transplanter, membuat usaha pembibitan secara dapog menjadi peluang bisnis baru bagi petani, sehingga membuka peluang kerja tenaga tanam yang tersisih karena adanya mesin transplanter,” tuturnya.

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018