Friday, 18 June 2021


Belajar dari Laut Mati

09 May 2021, 14:50 WIBEditor : Ahmad Soim

Laut mati | Sumber Foto:Memed Gunawan

 

Oleh: Memed Gunawan

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Subhanallah. Hanya karena kebesaran Allah Yang Maha Kuasa, berbagai keajaiban tercipta di dunia ini. Laut Mati yang sudah diketahui lewat bacaan sejak di Sekolah Dasar adalah sebagai contoh. Menurut teori, Laut Mati di Jordan terbentuk karena ada retakan yang muncul sekitar 3 juta tahun lalu di Lembah Sungai Yordan dan kemudian membentuk danau. Iklim kering dan evaporasi yang tinggi meningkatkan konsentrasi kandungan mineral dalam airnya. Laut Mati yang berada pada ketinggian 400 meter di bawah permukaan air laut itu tetap penuh misteri.  

Kadar garamnya mencapai 7 kali kadar garam laut pada umumnya dan mengandung 35 persen mineral sehingga tak mampu ditaklukkan oleh mahluk hidup untuk bertahan di dalamnya. Tak ada mahluk yang mampu hidup dengan kadar garam setinggi itu. Cairan tubuh akan terserap oleh garam.

Tak ada kehidupan. Gumpalan batuan putih garam itu telah mematikan mahluk apa pun dan menyengat kulit dalam waktu singkat kalau tidak segera dicuci habis dengan air tawar. Laut ini penuh misteri yang selalu diperdebatkan dan selalu menjadi perhatian peneliti untuk mengetahui lebih jauh.

“Jangan tengkurap kalau mau masuk ke Laut Mati karena kalau mata dan telinga kemasukan air, akan sangat berbahaya. Harus terlentang dan jangan terlalu jauh dari pantai,” itu peringatan yang ada di internet.

Laut istimewa itu mampu membuat manusia mengambang di permukaan, seolah satu pesan bahwa dia menolak manusia untuk masuk ke dalamnya. Lantas manfaat apa yang diperoleh manusia dari laut yang bergaram tinggi ini? Tak ada kehidupan di dalamnya? Tak ada sumber pendapatan yang bisa dipetik dari keberadaannya?  Tak juga bisa mengairi pertanian karena kadar garamnya begitu tinggi? Sumberdaya alam yang dikategorikan marginalkah?

Tapi Allah selalu menciptakan apa pun yang bisa membawa berkah buat manusia. Tergantung daya kreasi manusia dalam memanfaatkannya. Inilah sederet manfaat yang bisa dipetik dari Laut Mati. Lumpurnya bisa membuat manusia sehat, awet muda dan membuat perempuan menjadi lebih cantik. Airnya mampu menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Lecet di lutut pun segera kering sesudah berendam di Laut Mati. Keajaibannya dan misterinya mampu menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia. 

Sederetan hotel berbintang empat dan lima yang bertengger di sekitar Laut Mati sudah menunjukkan bahwa permintaan terhadap hotel di kawasan ini tinggi dan pendatang pada umumnya bukan wisatawan kelas “backpackers”. Mereka membawa uang untuk dibelanjakan atau dihamburkan di negeri ini. Mereka membanjiri negeri ini dengan dollar, poundsterling, euro, dinar, yen, ringgit dan tentu saja rupiah. Rupiah laku di negara yang kering ini.

Negara ini didominasi oleh lahan kering. Bukan gurun pasir. Ini lahan subur secara kimiawi tapi kekurangan air. Kalau diairi, maka lahan ini memberikan hasil pertanian yang tinggi. Perlu effort untuk mengairinya, tapi tanah ini akan memberikan balasan setimpal berupa hasil pertanian yang melimpah dan berkualitas tinggi.

BACA JUGA:

Dari tanahnya pula berbagai mineral ditambang. Pupuk phosphate kualitas terbaik di dunia dihasilkan dari Yordania yang luasnya hampir sebesar pulau Jawa tapi penduduknya hanya 6.5 juta jiwa itu. Yordania memperoleh devisa besar dari hasil tambang rock phosphate. Indonesia pun mengimpor rock phosphate dari negeri ini. Walaupun tanahnya kering, hasil pertaniannya bagus. Makanan, gandum, buah-buahan, sayuran dan daging melimpah ruah. Ratusan ekor kambing digiring oleh penggembala menyusuri lahan kering berumput tipis yang tumbuh di sana-sini, kadang-kadang melintasi jalan bebas hambatan beriringan sehingga pengemudi kendaraan harus hati-hati dan waspada.

Di Indonesia ditemukan juga danau dengan kondisi serupa Laut Mati. Letaknya jauh dari jangkauan transportasi sehingga mengunjunginya berbiaya mahal. Danau Laut Mati di Rote Ndao, NTT dan pantai Tureloto, Nias, merupakan sumberdaya alam spesial. Sayang belum banyak dikenal wisatawan walaupun sangat berpotensi menjadi objek wisata unggulan. Jarak tempuh yang jauh dan infrastruktur yang belum memadai masih merupakan kendala bagi wisatawan untuk mengunjunginya.

Keindahannya juga memukau, tidak hanya kadar garam yang tinggi, Danau Laut Mati yang ada NTT dan Nias ini juga memiliki pasir yang unik, yakni berasal dari pecahan kulit kerang atau keong serta alam sekelilingnya yang indah khas tropis. Anehnya, meski kandungan garamnya tinggi, ikan mujair yang sebenarnya jenis ikan air tawar juga bisa ditemukan di tempat itu.

Dari kasus di atas, jelas sekali tidak ada buatan Tuhan yang marginal dan tidak bermanfaat, yang ada adalah perbedaan kondisi sumberdaya alam yang memerlukan perbedaan pemanfaatannya. Manusia dituntut untuk berpikir bagaimana memanfaatkan alam sesuai dengan apa yang bisa diberikan alam itu kepada kita. 

Tuhan juga punya cara untuk menciptakan dan mengambil milikNya. Laut Mati yang fenomenal dan menghasilkan banyak dolar itu sekarang sedang mengalami pendangkalan. Para ilmuwan mengendus adanya ancaman. Permukaan air Laut Mati terus menurun dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dari 0,8 sampai 1,2 meter per tahun. Ini terjadi karena penurunan signifikan tingkat air selama 30 tahun terakhir karena pengalihan air dari sungai Yordan dan dari Laut Mati itu sendiri akibat manusia menguras sumber air utamanya di Sungai Yordan, yang digunakan sebagai air minum maupun pengairan pertanian. Kini Laut Mati yang kering meninggalkan jurang-jurang besar dan kosong di bagian bawahnya yang disebut sinkhole.

Pesan tulisan ini jelas dan singkat. Yang pertama, tak ada tanah marginal di dunia ini, yang ada adalah tanah yang berbeda peruntukannya. Kita harus mencari cara bagaimana memanfaatkannya. Yang kedua, kesalahan dalam menjaganya agar tetap lestari akan menghilangkan kemampuan sumberdaya alam tersebut dalam memberikan manfaat kepada umat manusia. Satu peringatan bahwa menjaga kelestarian sumberdaya alam, sama pentingnya dengan menggali manfaat yang diberikan sumberdaya alam tersebut. Wallahualam.

 

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018