Kamis, 23 Mei 2019


Urbanisasi dan Infrastruktur Jadi Tantangan Berat Pertanian

14 Mei 2019, 11:05 WIBEditor : Yulianto

Jaringan irigasi yang rusak | Sumber Foto:Julian

Berdasarkan hasil studi EIU, infrastruktur yang kurang memadai menyulitkan distribusi dan penyimpanan stok pangan sehingga memicu biaya lebih besar sekaligus memperbesar jumlah stok pangan yang terbuang sebelum sampai ke tangan konsumen (food loss) m

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Asia, yang diperkirakan menjadi rumah bagi 4,9 miliar orang pada tahun 2030, akan mengalami peningkatan konsumsi pangan lebih dari dua kali lipat per kapita dalam 12 tahun mendatang. Sementara itu, populasi di Asia yang semakin bertambah dipengaruhi urbanisasi yang kian tinggi di negara-negara berkembang di Asia. Hal ini merupakan tren yang berkontribusi mengurangi pasokan pangan domestik.

Hasil penelitian The Economist Intelligence Unit, berjudul From Farm to Fork menunjukkan terdapat enam megatren yang dapat memengaruhi kelangsungan rantai pasokan pangan, termasuk urbanisasi, demografi populasi penduduk desa yang menua, kelangkaan sumber daya pangan, integrasi rantai pasokan, ritel modern, stok pangan yang terbuang sebelum sampai ke tangan konsumen (food loss) dan sampah makanan (food waste).

 Di Indonesia, urbanisasi diperkirakan semakin cepat. Pada 2010, setengah dari total populasi tinggal di kota, bahkan menurut Bank Dunia, 68% populasi akan tinggal di kota pada 2025. Urbanisasi menjadikan pola makan masyarakat makin beragam dan butuh sumber daya pangan lebih besar, terutama ketika mengkonsumsi daging. Sementara itu, perekonomian Indonesia semakin jauh bergeser dari ekonomi agraria karena lapangan pekerjaan pedesaan makin tergeser oleh perkotaan.

Penyediaan infrastruktur yang memadai juga merupakan tantangan bagi rantai pasokan pangan di Indonesia. Berdasarkan hasil studi EIU, infrastruktur yang kurang memadai menyulitkan distribusi dan penyimpanan stok pangan sehingga memicu biaya lebih besar sekaligus memperbesar jumlah stok pangan yang terbuang sebelum sampai ke tangan konsumen (food loss) maupun sampah makanan (food waste).

Di Indonesia, sebagai contoh, terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan antara daerah penghasil beras dan daerah yang membutuhkan beras karena infrastruktur yang kurang memadai, keamanan distribusi stok pangan dan topografi. Para pakar mencatat bahwa aktivitas perdagangan dan distribusi pangan dari daerah menjadi tidak efisien jika jaringan transportasi dan kapasitas pelabuhan tidak memadai serta ketiadaan fasilitas penyimpanan.

Tren lain yang diungkapkan dalam penelitian ini meliputi kelangkaan sumber daya pangan. Produksi dalam negeri akan dipengaruhi, terutama kelangkaan sumber daya pangan dan isu keberlanjutan pangan. Hal ini diprediksi menjadi lebih buruk dalam jangka panjang karena perubahan iklim.

Bahkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksikan bahwa 40% lahan di negara-negara ASEAN akan terus mengalami degradasi yang semakin parah. Selain itu, persaingan untuk mendapatkan air juga akan semakin meningkat karena pertumbuhan urbanisasi, dan 40% penduduk Asia akan mengalami krisis air parah pada tahun 2030, dan hal ini diprediksi menjadi lebih parah dengan adanya perubahan iklim.

Saat ini sektor pertanian adalah pengguna utama pasokan air, namun pada tahun 2030, Asia akan membutuhkan 65% lebih banyak air untuk keperluan industri, dan 30% lebih banyak untuk penggunaan domestik.

Arief Susanto, Corporate Affairs Director, Cargill Indonesia, mengatakan, seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta memiliki peranan penting dalam menemukan solusi untuk menjawab tantangan rantai pasokan pangan. Pihaknya bekerja sama dengan para petani, pemerintah, industri, pelanggan dan konsumen untuk membangun masa depan pangan yang lebih berkelanjutan.

Melalui berbagai pengalaman kami yang dipadukan dengan teknologi baru serta wawasan terkini untuk menciptakan masa depan pangan yang aman, kami memenuhi kebutuhan industri pangan dan konsumen akan bahan pangan yang berkelanjutan, termasuk meningkatkan penelusuran serta transparansi rantai pasokan global,” katanya.

 

Reporter : Julian
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018