Minggu, 21 Juli 2019


UPJA Karya Bersama Sosialisasikan Dryer ke Petani

13 Jun 2019, 11:47 WIBEditor : Yulianto

Dryer milik UPJA Karya Bersama | Sumber Foto:Muhsn

Dryer berkapasitas 6 ton/hari telah dioperasikan pada Februari 2019 lalu. Kini, penggunaan dryer bantuan Kementerian Pertanian pada akhir tahun 2018 tersebut terus disosialisasikan ke petani.

TABLOIDSINARTANI.COM,  Demak---Harapan manajemen UPJA Karya Bersama untuk mengoperasikan dryer atau mesin pengering padi sudah terlaksana. Bahkan, dryer berkapasitas  6 ton/hari telah dioperasikan pada Februari 2019 lalu.  Kini, penggunaan dryer bantuan Kementerian Pertanian pada akhir tahun 2018 tersebut  terus disosialisasikan ke petani.

Manajer UPJA Karya Bersama, Muhson mengatakan, sangat bangga UPJA yang dikelola sejak tahun 2015 lalu bisa mengoperasikan dryer. Nantinya petani Desa Megonten, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng) saat panen di musim penghujan bisa memanfaatkan mesin pengering padi tersebut. Kami juga berharap para “juragan” yang biasa membeli padi petani juga bisa memanfaatkan dryer  yang kami miliki,” kata Muhson, di Demak, Rabu (12/6).

Menurut Muhson, karena dryer-nya baru dioperasikan Februari lalu, maka yang memanfaatkan mesin pengering tersebut masih sebagian kecil petani  di sekitar Desa Megonten. Kebetulan, panen  padi awal tahun di Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jateng bertepatan dengan musim kemarau. Sehingga,  petani yang memanfaatkan mesin pengering tersebut relatif sedikit.

“Karena itu kami terus melakukan sosialisasi ke petani supaya mau memanfaatkan mesin pengering pada saat panen di musim hujan. Jadi, petani Desa Megonten ke depan tak usah kawatir menjemur padi  ketika musim hujan tiba,” papar Muhson.

Muhson mengatakan, kehadiran alat pengering padi tentunya sangat bermanfaat bagi petani di Kabupaten Demak, Jateng. Pasalnya, sejumlah petani padi di Demak sangat kesulitan menjemur padi di musim penghujan, karena lantai jemur mereka terbatas. Lantaran lantai jemurnya terbatas, padi yang mereka jemur tingkat kekeringannya pun tak maksimal.  

“Mesin pengering padi ini akan kami kelola dengan baik. Petani  kami harapkan bisa memanfaatkan alat pengering ini dan tak perlu repot lagi menjemur padi saat panen di musim penghujan,” jelasnya.

Menurut Muhson,  sebelum mengoperasikan mesin pengering padi tersebut, manajemen UPJA Karya Bersama mendapat pelatihan cara mengoperasikanya dari dinas terkait. Bahkan, dalam hal pengelolalaan manajemen UPJA Karya Bersama juga akan berkoordinasi dengan dinas terkait. Sebab, cara  mengoperasikan dan mengelola dryer ini berbeda dengan rice transplanter, traktor maupun combine hervester.

Muhson mengatakan, manajemen UPJA Karya Bersama akan memaksimalkan pengelolaan mesin pengering padi berkapasitas 6 ton/hari  tersebut. Untuk mengoptimalkan mesin pengering padi tersebut, manajemen UPJA Karya Bersama ke depan akan membeli gabah petani yang baru saja dipanen. Gabah tersebut, selanjutnya akan dikeringkan dengan dryer. Setelah dikeringkan, gabah tersebut langsung diolah di mesin penggilingan.

Ia menjelaskan, mesin pengering tersebut akan terhubung atau terintegrasi dengan mesin penggilingan padi milik UPJA Karya Bersama. Karena itu, pengelolaan mesin pengering padi tersebut bisa disatukan dengan mesin penggiling padi.

Menurut Muhson, padi yang dikeringkan dengan dryer,  kadar airnya bisa ditekan  sekitar 16-20/jam.  Karena itu petani tak usaha kawatir, produksi padi yang dihasilkan pada musim penghujan akan turun. Berkat dryer inilah, kami berharap produksi padi di musim penghujan  masih tetap tinggi,” pungkas Muhson.

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018