Wednesday, 17 August 2022


Gerakan Mekanisasi, Penyuluh Banyumas Bangun BUMP

29 Jul 2022, 16:48 WIBEditor : Yulianto

Koperasi Galuh Tani | Sumber Foto:Dok. Koperasi Galuh tani Kembang

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan) kini sebuah keniscayaan bagi petani. Sayangnya, implementasi di lapangan masih menghadapi banyak kendala. Namun hadirnya Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) seperti BUMP-Koptan Galuhtani Kembang di Banyumas, Jawa Tengah menjadi solusi bagi petani.

Pendiri dan Ketua Dewan Pengawas BUMP Koptan Galuhtani Kembang, Bambang Riyanto saat webinar Dukungan Alsintan Dalam Moderenisasi Pertanian yang diselenggarakan Tabloid Sinartani, Rabu (27/7) mengakui, banyak permasalahan/kendala implementasi alsintan yang dihadapi petani di lapangan.

Pertama, harga alsintan yang mahal, sehingga petani tidak akan mampu membeli alsintan. Saat ini alsintan lebih banyak dikelola kelompok tani (Poktan) atau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Kedua, dalam mengelola alsintan butuh biaya yang tidak sedikit. “Kadang ada kelompok tani yang dibantu alsintan, tapi tidak mampu mengelolanya, sehingga rusak dan terbengkalai,” ujarnya.

Ketiga, dalam mengelola alsintan perlu manajemen. Misalnya, bagaimana mengatasi permintaan petani, kemudian mengatasi alsintan yang rusak. Semua itu bisa ditangani jika ada manajemen. Karena itu UPJA butuh manajemen yang professional,” kata Bambang yang juga Koordinator Penyuluh Kecamatan Baturaden ini.

Kendala keempat, menurutnya, UPJA sebagai unit usaha yang baru didirikan untuk bisa mandiri perlu fasilitasi kegiatan dan pendampingan. Sebab, jika UPJA yang baru berdiri, maka akan sulit bersaing dengan yang sudah berjalan.

Kelima, lanjut Bambang, perlu mengubah pola pikir petani. Kadang petani merasa harus memiliki. Padahal seharusnya alsintan tak harus dimiliki petani, tapi saat petani membutuhkan, layanan jasa alsintan ada. “Kebayakan petani meminta bantuan alsintan, tapi tidak berpikir bagaimana memelihara alsintan itu,” katanya.

Dirikan BUMP

Dengan berbagai permasalahan tersebut, Bambang yang juga seorang penyuluh pertanian ini menggerakkan petani mendirikan UPJA sebagai unit usaha yang berintegrasi secara manajemen dari hulu sampai hilir. UPJA tersebut dikelola satu badan usaha.

“Terkadang petani membutuhkan jasa alsintan, tapi saat ingin membayar kesulitan dalam permodal. Kalau UPJA yang harus membayar, tidak mungkin,” tegasnya. Karena itu, Bambang menggagas BUMP Koptan Galuhtani Kembang yang terdapat unit sarana permodalan.

Kita buat badan usaha yang terintegrasi dari hulu sampai hilir, kami ada unit sarana permodalan.  Jadi kalau ada petani yang kesulitan bayar boleh pinjam, namun syaratnya harus jadi anggota. Nanti yang memberikan pinjaman unit tersendiri,” tambahnya.  

Bambang mengatakan, solusi lain yang bisa dilakukan ialah pendampingan dan bimbingan manajemen oleh penyuluh. Lalu sistem kerja secara professional baik pembagian tugas manejemen, mulai dari manajer, bagian administrasi dan keuangan, serta operator alsintan dan kesejahteraan operator harus diperhatikan. “Tentunya pengawasan berkala agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan,” katanya.

BUMP-Koptan Galuhtani Kembang sendiri merupakan kelembagaan petani yang berawal dari paguyuban penyuluh dan kontak tani se-Kecamatan Sumbang. Pada tahun 2018, paguyuban Galuhtani Kembang mendirikan Usaha Pengelolaan Jasa Alsintan (UPJA)

Pada yahun 2019, UPJA Galuhtani Kembang mendapatkan kepercayaan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Banyumas untuk mengelola beberapa alsintan. ”Paguyuban Galuhtani Kembang bermusyawarah membentuk BUMP-KOPTAN Galuhtani Kembang pada Kamis 17 Oktober 2019,” ungkap Bambang.

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018