Wednesday, 28 October 2026


Berkat Dam Parit, Petani Masih Bisa Tanam Meskipun Kemarau

27 Jun 2019, 18:48 WIBEditor : Gesha

Berkat adanya dam parit di Desa Girimukti bisa terus tanam dan panen

Untuk pengembangan dam parit, sungai yang dibendung memiliki debit minimal 5 liter per detik dan dengan luas lahan usaha tani yang dapat diairi minimal 25 ha.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung Barat --- Panen tengah dilakukan petani Cipongkor di akhir bulan Juni 2019 ini. Meskipun kemarau dan debit air sungai kecil, ternyata petani masih semangat bertanam untuk musim tanam ke 3 berkat adanya dam parit.

Panas terik begitu terasa di Desa Girimukti Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tetapi petani tetap semangat untuk panen.

"Kurang lebih di Desa Girimukti ini ada sekitar 156 hektar untuk sawah disini. Irigasi teknisnya ada 112 hektar dan 44 hektarnya adalah tadah hujan. Dengan produktivitasnya sekitar 6,9 ton/hektar saat musim rendeng," beber Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Cipongkor, Solihin ketika kunjungan lapang peserta Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 di Desa Girimukti, Kamis (27/6).

Permasalahan seringkali timbul ketika menghadapi musim kemarau di Desa Girimukti, debit air yang seharusnya mengairi sawah di awal pertanaman justru tidak bisa mengalir karena kecil.

"Kami sampai harus pakai bambu dan jerami untuk membendung sementara air agar bisa masuk ke jaringan irigasi. Tapi bendungan sementara itu juga jebol kalau hujan turun," cerita Ketua Poktan Trio Aren, Asep Heri.

Asep menambahkan karena bosan terus menerus harus membuat bendungan sementara, sedangkan padi harus ditanam terus maka Poktan Trio Aren mengajukan untuk memperoleh bantuan infrastruktur air berupa dam parit.

Sejak tahun 2018, dam parit tersebut sudah bisa melayani 50 hektar sawah. Indeks pertanaman pun meningkat dari 2 kali menjadi 2,5 kali.

"Sebelumnya, cuma 2 kali. Itu juga yang (musim) kedua, (produksi) susah payah. Kalau sekarang bisa 2,5 kali dan tidak susah payah," jelas Asep.

Dam parit tersebut tersambung dengan jaringan irigasi tersier sejauh 3 km untuk bisa mengairi sawah seluas 50 ha.

Dalam mengajukan infrastruktur air tersebut, Asep menuturkan dirinya mengajukan untuk pembuatan embung awalnya namun setelah survei ternyata lebih cocok untuk menggunakan tipe dam parit dengan memanfaatkan sungai yang melintas.

"Kita dapat bantuan Rp 120 juta dan kita bangun dengan swakelola dan gotong royong dengan masyarakat," tuturnya.

Dalam pengelolaan, perawatan dan pengaturan air, masyarakat juga dilakukan bersama-sama. "Kami mengangkat Kepala Sawah yang bertanggung jawab dalam mengatur dan inspeksi air," urainya.

Apalagi jika ada beberapa bagian sawah yang longsor atau rusak sehingga terjadi kebocoran air irigasi. "Kalau bocornya hanya sedikit, ya diperbaiki swadaya. Tapi disini lumayan sering longsor dan itu kita gotong royong," tuturnya.

Antisipasi Kemarau

Bangunan air seperti dam parit di Desa Girimukti ini memang sebagai bentuk antisipasi ketersediaan air selama musim kemarau. Sehingga meskipun debit air kecil, air masih bisa teralirkan ke sawah-sawah petani.

"Kita bangun untuk antisipasi kekeringan sehingga petani bisa menambah pertanaman dalam setahun, dari 1 kali menjadi 2 kali, 2 kali menjadi 3 kali," tutur Kasubdit Iklim Konservasi Air dan Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Andi Halu.

Insfrastruktur air ini juga sangat berguna dalam pengelolaan air lahan kering maupun tadah hujan.

Berbeda dengan embung, dam parit dibangun dengan membendung sungai kecil atau parit alami. Untuk pengembangan dam parit, sungai yang dibendung memiliki debit minimal 5 liter per detik dan dengan luas lahan usaha tani yang dapat diairi minimal 25 ha.

Tak hanya itu, agar dampak dam parit bisa lebih besar maka pembangunannya bisa secara bertingkat dari hulu ke hilir dalam satu aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) mikro. Model pengembangan dam parit bertingkat di DAS hulu sangat ideal untuk dikombinasikan dengan pengelolaan air dan sedimen di waduk atau embung besar.

Namun, Andi Halu memperingatkan agar pemeliharaan air sungai dan bangunan air tersebut harus dirawat. "Biar saat musim kemarau debit air tidak kecil tapi musim hujan air meluap, sebaiknya perawatan, pemeliharaan dan konservasi harus dilakukan dari hulu ke hilir," tuturnya.

Misalnya dengan pengerukan sedimen sungai yang sebaiknya dilakukan secara rutin sebelum musim penghujan datang.

Kemudian perawatan rutin seperti membersihkan sampah yang menghalangi aliran air. Semuanya bisa dilakukan dengan komitmen bersama di desa setempat.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018