
Adanya kunjungan lapang ini diharapkan peserta Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 bisa mengaplikasikan manfaat dam parit maupun bangunan air lainnya sebagai bentuk antisipasi perubahan i
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung Barat ---- Setelah 3 hari melakukan in class training, peserta Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 diajak kunjungan lapang ke dam parit di Desa Girimukti, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.
Sebanyak 58 orang peserta yang datang dari 25 Kabupaten di 8 Provinsi terlihat antusias meskipun cuaca terik ketika tiba di Desa Cipongkor.
Mereka melihat secara langsung dam parit dengan bantuan pemerintah senilai Rp 120 juta dan dibangun secara swakelola oleh masyarakat.
Ketua Poktan Trio Aren, Asep Heri menerima langsung rombongan dan menjelaskan proses pengajuan dam parit yang disetujui oleh Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian pada tahun 2018 silam.
"Dulu kami harus buat bendungan sementara dari bambu dan jerami. Tapi sering jebol. Sehingga atas desakan masyarakat, Poktan mengajukan proposal untuk memperoleh bantuan embung. Tapi ternyata setelah disurvei, lebih cocok dibuat dam parit," tuturnya.
Untuk diketahui, dam parit dibangun dengan membendung sungai kecil atau parit alami. Dalam pengembangan dam parit, sungai yang dibendung memiliki debit minimal 5 liter per detik dan dengan luas lahan usaha tani yang dapat diairi minimal 25 ha.
Kasubdit Iklim Konservasi Air dan Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Andi Halu menuturkan jika dam parit merupakan upaya antisipasi perubahan iklim terutama kemarau.
"Karena memang manfaat infrastruktur air seperti embung, dam parit maupun long storage baru terasa ketika kemarau datang," tuturnya.
Di Desa Girimukti ini, keberadaan dam parit mampu meningkatkan indeks pertanaman menjadi 2,5 dengan luas sawah yang terlayani adalah 50 hektar karena terhubung dengan jaringan irigasi tersier sepanjang 3 km.
Adanya kunjungan lapang ini diharapkan peserta Pelatihan Kapasitas Petugas dan Petani Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Tingkat Usaha Tani (API-TUT) 2019 bisa mengaplikasikan manfaat dam parit maupun bangunan air lainnya sebagai bentuk antisipasi perubahan iklim terutama kemarau.