Senin, 18 November 2019


Indramayu Terus Perbaiki Saluran Sekunder Kandanghaur dan Disiplinkan Gilir Giring

09 Jul 2019, 10:01 WIBEditor : Gesha

Perbaikan tanggul dan disiplinitas petani gilir air harus ditingkatkan | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu --- Wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) khususnya Indramayu terus menjadi sorotan di saat musim kemarau, karena menjadi salah satu kabupaten sentra pangan yang sangat terdampak. Berbagai upaya pun tengah dilakukan.

Berdasarkan laporan dari Penyuluh (POPT) di lapangan bahwa terdapat 5 kecamatan di Indramayu yang telah mengalami kekeringan dengan total luas terkena 634 Ha dan terancam 6.430 Ha.

Salah satu sumber masalah adalah terdapatnya tanggul yang mengalami kerusakan pada bangunan saluran sekunder Kandang Haur (B.Khr 4). Hal ini menyebabkan terhentinya pasokan air irigasi di 5 kecamatan (Kec. Haurgeulis, Gabuswetan, Kandanghaur, Bongas dan Anjatan) yang mengancam lahan sawah mencapai 3.000 Ha dan air bersih untuk 6.900 konsumen.

Karena itu, BBWS dan PJT II beserta para Kelompok Tani telah melakukan perbaikan 2 siphon agar segera mengalirkan air ke wilayah Kandanghaur. Pada masa penanganan, air dapat dioptimalkan pada wilayah lain dengan melakukan percepatan tanam agar tidak terdampak kekeringan. Setelah air dapat dialirkan melalui 2 siphon maka debit air akan dimaksimalkan untuk dialirkan ke wilayah Kandanghaur selama 3 - 5 hari.

Sedangkan pada Daerah Irigasi (DI) Rentang, disiplinitas petani gilir giring air terus ditingkatkan. Karena selama ini kekeringan pada DI Rentang disebabkan karena tidak tertibnya petani dalam melaksanakan jadwal tanam dan jadwal gilir giring air.

Sehingga berdampak pada lahan sawah di daerah hilir yang tidak mendapat pasokan air sesuai dengan jadwalnya. Terdapat 4 kecamatan yang lahan sawahnya terancam kekeringan yaitu Kec. Losarang, sebagian Kec. Kandang Haur, Kec. Lelea dan sebagian Kec. Terisi dengan total mencapai 3.500 Ha.

Bupati Indramayu dan Pengelolah Daerah Irigasi Rentang juga telah berkomitmen untuk menggelontorkan air maksimal (25 meter kubik/detik).

Saat ini, Pemkab Indramayu telah mengeluarkan kebijakan ‘37’ untuk gilir giring distribusi air baku di saluran induk Cipelang, terutama pada saluran induk barat untuk musim tanam gadu (MT II) 2019. Kebijakan ‘37’ itu berarti tiga hari untuk BBT 14 ke hulu yang merupakan wilayah PSDA Cikedung dan tujuh hari BBT 14 ke hilir yang merupakan wilayah PSDA Losarang.

Untuk diketahui, pasokan air di Bendung Rentang tergantung dari suplai Waduk Jatigede. Dan penambahan debit air, tergantung pada kebutuhan riil petani di lapangan.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018