Senin, 18 November 2019


Cegah Kekeringan Meluas, Boyolali Manfaatkan Sumur Pantek dan Sumur Dalam

17 Jul 2019, 21:18 WIBEditor : Gesha

Luasan lahan yang terdampak kekeringan di Boyolali | Sumber Foto:DISPERTAN BOYOLALI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Boyolali --- Musim kemarau (MK) tahun ini yang datangnya lebih awal (April) dan dampak MK panjang tahun ini juga dirasakan petani di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (Jateng). Namun, Pemda setempat sudah antisipasi dengan sumur pantek dan sumur dalam.

“Kami sudah ada beberapa solusi agar petani bisa mekakukan pertanaman di musim kemarau tahun ini. Petani bisa memanfaatkan sumur patek dan sumur dalam yang sudah disiapkan di sejumlah kecamatan. Padi yang ditanam pun harus tahan kekeringan seperti jenis Cibagendit,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Supardi kepada tabloidsinartani.com.

Supardi juga mengatakan, petani agar memanfaatkan pompa air kalau di daeranya memang ada potensi sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk tanam padi atau palawija di musim kemarau tahun ini.

“Kalau ada waduk, airnya bisa disedot (seperti Waduk Cengklik) airnya bisa dimanfatakan untuk mengairi sawah di sejumlah kecamatan, seperti di Nagasari. Bahkan,  Air Waduk Cengklik ini masih bisa dimanfaatkan untuk mengisi air Waduk Tirtoyoso di Solo,” papar Supardi.

Menurut Supardi, sumur pantek yang kedalamannya 20 meter juga sudah disiapkan di setiap kawasan pertanian. Begitu juga sumur dalam (kedalamannya 200 meter) juga sudah disiapkan di sejumlah kawasan pertanian di Kecamatan Nagasari, Simo, dan Sambi.

“Pada tahun 2018 kami sudah siapkan pompa air di 19 kecamatan sebanyak 131 unit. Dan pada tahun 2019 ada tambahan pompa air dari provinsi sebanyak 11 unit,”  ujar Supardi.

Supardi juga mengatakan, sumur pompa yang disiapkan tersebut diharapkan mampu membantu petani mengantisipasi musim kemarau tahun ini. “Jadi, jauh-jauh hari kami sudah lakukan antisipasi.  Kami juga berharap segera turun hujan supaya dampak kekeringan tahun ini tak bertambah luas,” tukas Supardi.

Wilayah Terdampak

Lebih lanjut Supardi menuturkan dari sekitar 22 ribu ha lahan pertanian di Boyolali, per Juni 2019 sudah seluas 1.305 ha sawah terdampak kekeringan yang terdiri dari 16 ha (kekeringan ringan), 350 ha (kekeringan berat) dan seluas 939 ha (lahan pertanian puso atau sama sekali tak bisa ditanami).

"Agar tak menambah lahan pertanian yang puso, kami imbau petani supaya tak menanam padi apabila memang sumber airnya sudah tak memungkinkan,”  kata Supardi.

Supardi juga mengungkapkan,  belum lama ini tim Kementan sudah turun langsung ke sejumlah lokasi yang mengalami kekeringan di Boyolali. Mereka melihat langsung kondisi meluasnya kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian di Boyolali.

Sejumlah daerah yang mengalami kekeringan berat umumnya berada di Boyolali bagian Utara. Diantara di Kecamatan Kemusu, Ngandong, Klego, Simo, dan Wonosegoro. Bahkan, di sejumlah daerah (Kecamatan, red) di Boyolali  yang lahan sawahnya terkena puso kebanyak berada di Boyolali bagian utara seperti di wilayah Kecamatan Sambi, Klego, dan  Karanggede .

“Sejumlah kecamatan di Boyolali bagian utara ini tadah hujan. Meskipun lokasi sejumlah kecamatan di Boyolali bagian utara dekat dengan Waduk Kedung Ombo. Tapi, irigasinya tak sampai di sejumlah kecamatan tersebut,” papar Supardi.

Sedangkan  sejumlah kecamatan di Boyolali yang mengalami kekeringan ringan umumnya berada di Boyolali bagian selatan. Seperti, Kecamatan Ngemplak, Mojosongo, Sawit, Banyudono, Ngemplak, dan Nogosari.

“Di Boyolali bagian Selatan memang relatif aman, bahkan  produktivitas padi yang ditanam petani pada MK tahun ini cukup bagus. Sebab, daerah-daerah tersebut  umumnya ada prasarana dan sarana irigasi. Seperti di Sawit (ada mata air dari Cokro Tulung),”  kata Supardi.

Sedangkan di Boyolali bagian Timur, lanjut Supardi, sampai saat ini masih bisa memanfaatkan air yang disalurkan dari Waduk Cengklik. Petani Boyolali bagian Timur, seperti di Kecamatan Gagaksipat, Dibal, Ngemplak, Sawahan sampai saat ini masih dapat pengairan dari Waduk Cengklik. 

“Meskipun debitnya sudah turun,  Waduk Cengklik masih bisa mengairi lahan sawah petani di  7-8 desa. Kalau ada sebagian yang tak terairi masih bisa tanam palawija (jagung atau singkong),” papar Supardi.

Menurut Supardi, daerah-daerah atau kecamatan yang kekeringannya ringan sampai saat ini masih bisa tanam padi setahun sebanyak tiga kali. Apabila debit air dari sejumlah sumber air (umbul) atau waduk berkurang, petani di Boyolali bagian Selatan dan Timur masih bisa tanam padi setahun 2 kali dan yang sekali palawija.

“Tapi, untuk daerah di Boyolali bagian Utara (tadah hujan, red) pada musim kemarau tahun ini umumnya hanya bisa tanam palawija. Itupun kalau masih ada sumber airnya,” tutup Supardi.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018