Minggu, 18 Agustus 2019


Kemarau, Ditjen PSP dan Petani Indramayu Terus Upayakan Pengairan Sawah

25 Jul 2019, 16:27 WIBEditor : Gesha

Direktorat Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) terus mengupayakan beragam cara agar petani mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka. | Sumber Foto:DYAH

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu --- Kementerian Pertanian khususnya Direktorat Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) bersama petani terus mengupayakan pengairan sawah di daerah yang dilanda kekeringan, salah satunya di Indramayu.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Sarwo Edhy menuturkan Kementerian Pertanian di tahun 2019 sudah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi musim kemarau. Diantaranya menyebarluaskan Informasi Prakiraan Iklim Musim Kemarau Tahun 2019 dan peningkatan kewaspadaan terhadap kekeringan kepada seluruh Gubernur dan Dinas Provinsi terkait.

BMKG memang memprediksikan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih kering, dan terasa panas terik dari pada tahun sebelumnya. Bahkan kekeringan diprediksi tahun ini tak terjadi seperti pada 2015 silam. Adapun daerah dengan potensi kekeringan kategori Awas antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Kabupaten Indramayu menjadi daerah yang langganan dilanda kekeringan setiap tahunnya. "Total luas lahan di Indramayu yang terancam kekeringan 6.935 Ha dan telah terselamatkan 2.589 ha," tutur Sarwo.

Karenanya, Direktorat Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) terus mengupayakan beragam cara agar petani mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka.

Sarwo mencontohkan penanganan kekeringan di Desa Soge Kecamatan Kapetakan Kabupaten Indramayu yang terkena dampak seluas 250 hektar dan umumnya umur tanaman padi sudah mencapai 30 hari setelah tanam (HST).

Untuk mengairi sawah, petani mengambil air dari saluran pembuang menggunakan pompa 3 inchi, sehingga dalam 24 jam bisa mengairi lahan seluas 1 hektar.

Sedangkan petani yang menggunakan pompa ukuran 10 inchi, dalam 7 jam bisa mengairi seluas 1 hektar. "Untuk bisa mengalirkan air ke saluran, petani menggunakan pompa modifikasi supaya bisa dipompa dengan pompa ukuran 3 inchi atau 10 inchi," tambahnya.

Long Storage

Guna menjaga ketersediaan sumber air,  Ditjen PSP juga berencana akan membangun long storage di lokasi tersebut.

Untuk diketahui, Long Storage adalah bangunan penahan air yang berfungsi menyimpan air di dalam sungai, kanal dan atau parit pada lahan yang relatif datar dengan cara menahan aliran untuk menaikkan permukaan air sehingga cadangan air irigasi meningkat.

Ditjen PSP sendiri menganggarkan Bantuan Pemerintah untuk kegiatan Pengembangan Embung Pertanian (termasuk long storage) sebesar Rp. 120.000.000,- (seratus dua puluh juta rupiah) per unit yang bisa digunakan petani untuk kegiatan fisik (pembelian bahan konstruksi dan biaya tenaga kerja).

Adapun syarat untuk bangunan long storage, memiliki volume tampungan minimal 500 meter kubik. Luas lahan usaha tani pun diupayakan minimal 25 Ha untuk Tanaman Pangan, 5 Ha untuk Hortikultura, 5 Ha untuk Perkebunan dan 5 Ha untuk Peternakan (HMT).

Reporter : Dyah Susilokarti
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018