
Hardadi, mantan tahanan yang kini sukses dengan singkong keju D9
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong mungkin dikenal sebagai makanan kampung, makanan kelas bawah dan tidak modern. Namun di tangan Hardadi, singkong diolah menjadi produk pangan yang memiliki cita rasa unik modern. Soal rasa, jangan diragukan lagi.
Jika sempat ke Kota Salatiga, maka sempatkan ke Jalan Argowiyoto No. 8 Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo. Singkong keju D9, begitulah nama merk makanan yang diproduksi Hardadi sejak tahun 2009. Bukan hanya kios singkong D-9, Hardadi juga membuka Cafe Telo.

Di balik kesuksesannya, pria kelahiran Sragen, 3 Agustus 1971 itu sempat mengalami masa-masa kelam. Suami dari Diah Kristanti itu bekerja serabutan, bahkan ia pernah mendekam di Rutan Kelas 1 Surakarta selama enam bulan karena kasus narkoba.
Bebas dari tahanan pada 9 Agustus 2009, Hardadi tersadar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Ayah tiga orang anak ini mencoba berdagang singkong keju menggunakan gerobak dibantu istrinya di lapangan Pancasila Kota Salatiga.
Hardadi mengakui, tak mudah memperkenalkan singkong keju ke masyarakat. Dirinya mencoba memperkenalkan produk olahannya tersebut, bahkan bersedia mengantarkan ke rumah pemesan, meski hanya membeli Rp 5.000. Awalnya ia memproduksi singkong keju kurang lebih 10 kg, tapi kerap tersisa.
“Awal saya jualan singkong keju ini masih di rumah. Belum lewat outlet seperti saat ini. Semua kontak yang ada di HP saya sms semua. Mulai dari teman, saudara, hingga tetangga. Siapa yang mau beli singkong meskipun hanya lima ribu rupiah saja, saya antar sampai rumah,” ujarnya.
Nomor Kamar Tahanan
Namun Hardadi yakin sukses tidak diperoleh secara instan. Secara perlahan ketika masyarakat mulai mengenal singkong keju, omsetnya pun perlahan meningkat. “Singkong kami ini adalah singkong pilihan. Jadi memang pada dasarnya sudah enak, tapi kita masaknya pakai keju, di luarnya ada krispi, tapi di dalamnya lembut,” kata alumni IAIN Walisongo tersebut.
Bersama istrinya, ia kemudan berpikir untuk mencari nama untuk produk singkong keju olahannya. Kamar saat tinggal Di LP Surakarta selama 6 bulan bernomor D-9 menjadi inspirasi Hardadi untuk membuat merek dan brand. Hal itu juga menjadi pengingat agar dirinya tak lagi terjerumus lagi ke dalam perbuatan terlarang tersebut.
Ketika produksi singkong keju masih relatif sedikit, Hardadi biasa mendapat suplai dari Salatiga dan sekitarnya. Namun dengan berkembangan permintaan, ia kemudian mendatangkan bahan baku dari Wonosobo, Magelang, Ngablak, dan kota lainnya.
“Setidaknya dalam sehari Singkong Keju D-9 dan Café Telo membutuhkan 3 hingga 5 ton singkong. Bahkan saat liburan panjang, saya harus menyediakan 6 ton bahan baku,” tuturnya. Beberapa jenis bahan baku yang digunakan Hardadi adalah singkong Gathutkaca, Bayeman, Kaporo, Singkong Ketam, dan Singkong Item.
Perjalanan panjang Singkong Keju D-9 memasuki babak baru. Toko dan cafe Telo tak hanya menyajikan singkong keju. Beragam produk olahan mulai Singkong Keju, Sambel Matah, Singkong Daging Sapi, Kolak Singkong, Singkong Mayones, Singkong Keju Original, Singkong Keju Coklat, Pancake Telo, Burger Telo, Kolak Singkong, Cream Sup Telo dan masih banyak varian makanan lainnya.
“Ada puluhan menu, kami juga melayani singkong original frozen yang cocok untuk pemudik mampu bertahan hingga 3 sebulan. Sudah dikemas hanya tinggal goreng saja,” ujarnya pada Tabloid Sinar Tani.
Bagi yang penasaran dengan varian olahan singkong keju D-9 Salatiga, dapat melihat akun media sosial milik Hardadi yaitu cafe telo D9 atau singkong keju D9 (facebook) dan cafetelo_D9 (Instagram)