Abon Ikan Andalan Nur Hasanah
TABLOIDSINARTANI.COM, Batu Malang – Berawal banyaknya permintaan dari para tetangga untuk membuat abon, produk abon ikan Nur Hasanah terus berkembang. Bukan hanya diminati warga sekitar, abon ikan Takanz juga banyak dipesan konsumen dari berbagai daerah di Indonesia.
Abon yang biasanya terbuat dari serat daging sapi dan ayam ini memiliki cita rasa enak dan gurih, karena itu tidak heran bila makanan yang satu ini banyak diminati. Namun ada yang berbeda dari produk abon yang diproduksi Nur Hasanah, alih-alih menggunakan bahan yang umum, ia lebih memilih ikan untuk bahan baku abonnya.
Nur Hasanah mulai membuat abon sejak 2015. Dari yang awalnya hanya memproduksi untuk memenuhi permintaan tetangga, abon buatan ibu rumah tangga asal Batu Malang ini sudah banyak dikenal.
“inspirasi menbuat abon itu ketika banyak ibu-ibu pesan minta dibuatkan abon untuk anak-anak mereka, saya bantu menbuat abon,” kenangnya.
Nur Hasanah menjelaskan,bahan yang digunakan untuk membuat abon antara lain bawang, daun jeruk, gula, garam, penyedap rasa dan tentunya ikan segar,
Setelah semua bahan siap, langkah berikutnya yang dilakukan adalah ikan segar yang sudah dibersihkan diberi cairan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis. Kemudian dikukus atau direbus, setelah itu baru disisir dagingnya secara manual dengan menggunakan garpu atau alat lainnya.
Langkah selanjutnya diukep bersama bumbu, apabila sudah berkurang kadar airnya prosesnya digoreng. Ditiriskan dan dituntaskan kadar minyaknya dengan alat spiner.
“Awalnya saya membuat secara manual jadi masa simpannya hanya 1 bulan, setelah menggunakan alat spiner bisa bertahan sampai 6 bulan,”jelas wanita yang pernah memproduksi stik rasa susu ini. .
Nur mengatakan di awal memproduksi abon, ia menjualnya kepada teman-teman dekat dan menjajakan abonnya setiap pagi sebelum berangkat bekerjadi empat jualan oleh-oleh yang banyak di kota Batu Malang.
‘Harga abon ikan saya jual Rp 25 ribu per bungkus sedangkan bila di online saya jual Rp 28 ribu per bungkus dengan berbagai varian mulai dari lele, tuna, hingga cakalang,” jelas Nur.
Penyebab seorang pengusaha gagal karena semua dilakukan sendiri, seperti yang dilakukan Nur saat ini dimana proses produksi, hingga marketing masih dikerjakanya sendiri. Kaena itu Nur berharap ada pihak yang bisa memfasilitasi usahanya.
“Saat ini saya berfikir untuk mengurangi komposisi bahannya agar dapat bersaing dengan produk yang sudah beredar di masyarakat. Kalau kita pergi ke toko swalayan akan kita temukan abon dengan kisaran harga Rp 10 ribu, pasti konsumen akan memmilih harga itu tanpa melihat kualitas,”pungkasnya.