Sabtu, 17 Agustus 2019


Peluang Usaha Jamu Kekinian Makin Cespleng !

13 Jun 2019, 14:36 WIBEditor : Gesha

Dari ramuan jamu tradisional ternyata bisa diolah menjadi lebih kreatif dengan hadirnya jamu kekinian yang dikemas dengan lebih modern | Sumber Foto:JAMU MOMMY

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Jamu memang menjadi minuman tradisional khas Indonesia, bahkan sudah tidak diragukan lagi manfaatnya bagi tubuh. Nah sekarang, produk jamu mempunyai banyak alternatif seperti serbuk, seduh simplisia hingga langsung minum. Peluang usahanya juga ternyata menarik jika bisa digeluti.

Produk jamu kekinian tersebut adalah Jamu Mommy yang digeluti oleh Yulianty. Wanita asal Jakarta ini mengembangkan bisnisnya dengan memproduksi jamu botolan kemasan 250 dan 500 mililiter (ml).

Produksi Jamu Mommy mengandalkan remah-rempah Nusantara seperti temulawak, kunyit, beras kencur, dan sari asem yang punya khasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Bahkan Yulianty sengaja meracik jamunya agar bisa dikonsumsi oleh segala usia, termasuk yang berusia 1,5 tahun.

Sejak 2015, Yulianty meracik jamu tradisional namun kekinian ini. Usahanya sendiri ternyata tidak bisa langsung diterima masyarakat. “Ada yang ngerasa aneh lah minum jamu tapi langsung botolan begini. Dan lain-lain responnya,” tuturnya. Namun dirinya tidak patah arang dan kini dalam sebulan bisa terjual 1000 botol aneka rasa jamu kekinian kreasinya.

Ada sembilan varian jamu yang ditawarkan Jamu Mommy. Ada kunyit asem, temulawak, rosella, beras kencur, alang-alang, barley, lohankuo, sari asem, dan wedang jahe. Harga jamu berkisar di antara Rp25.000 sampai Rp45.000 per botol. “Jamu kami hanya tahan sehari di luar ruangan. Tapi kalau disimpan di kulkas bisa tahan dua bulan,” kata Yulianty.

Sampai saat ini Jamu Mommy baru hanya bisa dipesan melalui jalur daring di akun Instagram @mommydrink. “Kita juga sedang usaha untuk bisa dipesan online dengan menggunakan ojek online,” tuturnya.

Tak hanya Yulianty yang merasakan banjir pesanan dari usaha jamu kekinian. Nova Dewi Setiabudi, pemilik Suwe Ora Jamu juga mengatakan hal serupa dan booming permintaan banyak terjadi setahun terakhir.

“Permintaan tinggi ini terjadi seiring dengan kesadaran mengkonsumsi minuman sehat dan berbahan baku alami,” tuturnya. Hampir seluruh lapisan usia yang mengkonsumsi jamu tradisional namun kekinian ini.

Dalam sehari, perempuan asal Semarang ini bisa memproduksi 200 botol per varian jamu kekinian yang dibuatnya. Nova dibantu oleh 25 orang di bagian produksi. Sampai sekarang, proses pembuatannya masih homemade. Ia juga menggunakan bahan baku, rempah-rempah alami.

Harganya dibandrol sekitar Rp 30.000 per botol (330 cc). Ada delapan varian jamu yang diproduksi yaitu kunyit asem, wedang jahe, beras kencur, rosella, alang-alang, asem jawa, temulawak, dan kayu manis. Konsumennya pun tidak hanya dari sekitar Jakarta tapi juga wilayah lain. Bahkan, produknya sudah masuk ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Amerika dan lainnya.

Dibuat Es Krim

Lain lagi dengan café jamu yang ada di pinggiran Semarang yang mengolah jamu menjadi beragam es krim, parfait, latte hingga frappe. Salah satu varian andalannya adalah STMJ (susu telor madu jahe) yang umumnya disajikan hangat. Di Makuta Café, Semarang, STMJ ini memiliki rasa hangat jahe tetap terasa sampai ke tenggorokan meski disajikan dalam bentuk es krim.

Selain STMJ, juga tersedia es krim dalam rasa kunyit asam dan moringa atau daun kelor. Uniknya, rasa daun kelor ini mirip seperti matcha, sehingga penikmat jamu serasa tidak mengkonsumsi jamu!.

Semua bahan baku alami dan terjamin kualitasnya. Campuran pewarna buatan, warna kuning didapat dari kunyit, hijau dari daun kelor atau moringa dan putihnya es krim STMJ asli dari hasil seduhan susu-telor-madu-jahe.

Jangan khawatir khasiatnya hilang, proses pembuatan es krim menggunakan pemanasan di bawah suhu 100 derajat celsius sehingga gak merusak struktur kandungan kimia di dalam jamu. Racikan jamu dicampur dengan homemade custard base, hasilnya es krim jadi lebih lembut dan creamy.

Kafe jamu pertama di Semarang ini digagas oleh Alessandro Budiono (27) dan keluarga. Ia adalah generasi ke-3 Nyonya Meneer, cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia.

Semua racikan jamu di Makuta Cafe bersumber dari resep asli sang kakek, Hans Pangemanan yang mendampingi Nyonya Meneer mengembangkan usaha jamu pada zaman dahulu. Jadi cukup dengan berkunjung ke sini, kamu bisa menikmati cita rasa otentik jamu khas Nyonya Meneer.

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018