Sabtu, 14 Desember 2019


Percantik Kota Sekaligus Bahan Pangan Dengan Urban Farming

27 Jun 2019, 05:35 WIBEditor : Gesha

Tuti dan Rika, dua emak-emak penggiat urbab farming di Pesanggrahan | Sumber Foto:Clara

Melihat peluangnya yang cukup menjanjikan dengan modal yang tidak terlalu besar, Rika tertarik untuk menerapkan hidroponik di pekarangan rumahnya.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pertanian perkotaan atau familiar disebut urban farming merupakan solusi masyarakat kota besar yang ingin bercocok tanam. Kini virus urban farming tersebut telah banyak dilakukan oleh warga Ibukota, salah satunya Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Mendengar kata Pesanggrahan, biasanya yang terlintas adalah pemukiman karena didominasi oleh pemukiman warga. Tapi ternyata ibu-ibunya kreatif banget ! Mereka biasa menerapkan urban farming untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Berdasarkan penuturan dari salahsatu warga yang menerapkan urban farming, Rika, awalnya dengan menanam sayur-sayuran secara hidroponik karena ada penyuluhan dari Dinas Pertanian Jakarta.

Melihat peluangnya yang cukup menjanjikan dengan modal yang tidak terlalu besar, Rika tertarik untuk menerapkan hidroponik di pekarangan rumahnya.

“Jadi ada pelatihan mengenai hidroponik dari dinas. Saya tertarik karena dengan menanam sayuran hidroponik saya dapat menghemat untuk kebutuhan akan serat,” katanya saat diwawancara tabloidsinartani.com.

Modal yang digunakan pun tidak banyak karena medianya tidak menggunakan rockwool, melainkan busa yang lebih murah.

Selain itu, harga benihnya pun kalau dikalkulasikan cukup murah. “Saya biasanya untuk beli benih di supermarket. Itu 1 kantongnya, seharga Rp 11 ribu dan mendapatkan 1.000 seed. Jadi kalau misalkan jadi semua, itu menghasilkan tanaman sebanyak 1.000. Tentu saja jatuhnya jauh lebih murah dibandingkan kita beli sayuran yangh sudah jadi pada umumnya,” jelas Rika yang aktif juga bergabung di komunitas hidroponik.

Selain Rika yang memanfaatkan pekarangan rumahnya dengan hidroponik adalah Tuti. Dia sudah menekuni kegiatan hidroponik sejak 2 tahun lamanya.

Yang ditanaminya berbagai macam sayuran. Ada kangkung, selada, kale, seledri, kailan, pokcoy, sawi dan masih banyak lainnya.

“Jadi yang ditanam dengan hidroponik adalah sayuran-sayuran yang cepat tumbuhnya, bukan yang umbi. Tetapi untuk yang ditanam di polybag, itu lebih beragam lagi. Bahkan Kelompok Tani saya mencoba menanam padi,” terangnya.

Tidak hanya memanfaatkan pekarangan, lahan yang terbengkalai oleh Kelompok Tani-nya (Kelompok Tani Dahlia), ditanami berbagai macama tanaman. Terutama tanaman sayuran, buah dan tanaman obat.

“Jadi kan di dekat JORR itu ada sepetak lahan tidak dimanfaatkan. Kelompok Tani Dahlia meminta untuk dapat memanfaatkannya dengan menanam berbagai macam tanaman dan ternyata diperbolehkan. Sekarang kan lahannya jadi hijau dan bermanfaat bagi warga sekitar,” jelas Tuti.

Apakah hasilnya dijual? Tuti menjelaskan untuk menjual hasil dari tanaman hidroponik memang belum menjadi prioritas utama karena masih kalah saing dengan hasil yang dijual di pasar.

Padahal sebenarnya dari segi supplai cukup banyak bahkan dapat dikatakan hasilnya organik dan harganya cukup terjangkau (misalnya: satu sayuran pokcoy dijual Rp 2.500).

Tetapi untuk menembus ke supermarket, sedikit sulit. Banyak beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. “Ya kita jualnya sebatas dari obrolan saja atau permintaan pribadi karena untuk tembus ke market yang lebih luas, sedikit kesulitan. Jadi saya mewakilkan dari ibu-ibu yang Kecamatan Pesanggrahan yang berkecimpung di pertanian urban farming, khususnya tanaman hidroponik kalau bisa oleh pemerintah dibantu pemasarannya karena hal tersebut yang kami butuhkan saat ini,” pungkasnya. 

 

 

 

Reporter : Clara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018