Tuesday, 21 January 2020


Pakan Mandiri, Bisa Menjadi Usaha yang Menggiurkan

09 Dec 2019, 12:04 WIBEditor : Yulianto

Amien Cahyo pembuat pakan mandiri | Sumber Foto:Dok. Humas KKP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Gerakan Pakan Mandiri (Gerpari) yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) sejak empat tahun silam, saat ini sudah dirasakan manfaatnya bagi pembudidaya ikan skala kecil. Bahkan, bagi sejumlah masyarakat, kegiatan pembuatan pakan mandiri bisa menjadi usaha yang prospektif dan menguntungkan.

Praktisi pakan mandiri, Amien Cahyo mengaku, Gerpari saat ini tak sekadar memberi jaminan ketersediaan pakan ikan bagi pembudidaya ikan skala kecil. Gerpari pun sebagai langkah nyata kelompok pembuat pakan mandiri (Pokanri) untuk memenuhi kebutuhan pakan berbahan baku lokal.

“Bagi sebagian masyarakat atau Pokanri, Gerpari bisa menjadi lahan bisnis yang menggiurkan. Sebab, tak hanya ikan saja yang perlu pakan berbahan baku lokal, berkualitas dengan harga murah. Unggas, seperti bebek dan ayam broiler pun perlu pakan berbahan baku lokal,” kata Amien Cahyo, di Jakarta, pekan lalu.

Amien mengaku, pembuatan pakan mandiri apabila ditekuni dengan baik tak hanya membantu pembudidaya ikan untuk mendapatkan pakan berkualitas dengan harga murah. Pakan mandiri pun bisa menjadi pilihan bisnis yang menguntungkan.

Menurut Amien, pabrik pakan mandiri yang dikembangkannya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng) saat ini produksinya mencapai 3 ton/hari. Berkat dua mesin pakan berkapasitas produksi 3 ton/hari yang dimilikinya, Amien bisa memanfaatkan produksi pakan mandiri untuk mensuplai budidaya nila yang ada di Wonosobo, Jateng seluas 2 ha.

“Selain untuk kebutuhan sendiri, kami juga mensuplai kebutuhan pakan mandiri untuk komunitas pembudidaya ikan dan komunitas unggas (bebek dan ayam broiller) yang membutuhkan,” ujarnya.

Amien mengatakan, sekitar 70 persen pakan mandiri yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pakan budidaya nila miliknya di Wonosobo. Sisanya, sekitar 30 persen bisa dijual ke komunitas pembudidaya ikan dan komunitas unggas.

Sedangkan harga pakan mandiri yang dihasilkan dipatok dengan harga terjangkan bagi pembudidaya ikan, yakni Rp 6.000/kg (pellet apung). Sedangkan, untuk pakan bebek hanya dipatok dengan harga Rp 5.000/kg.

Apabila dikalkulasi dengan produksi pakan sebanyak 3 ton/hari, Amien paling tidak bisa mengantongi omset penjualan pakan mandiri sekitar Rp 18 juta/hari (kotor). “Karena itu, kami akan tingkatkan produksinya. Kami akan nambah 2 mesin pellet lagi supaya kapasitas produksinya bisa mencapai 5 ton/hari,” paparnya.

Amien juga mengatakan, selama ini suplai bahan baku pakan mandiri tak ada masalah. Sebab, di sekitar Pati ini banyak bahan baku pakan dari bungkil kacang kedelai (BKK), ikan ricah, jagung, dan bahan baku lainnya.

Menurut Amien, pakan mandiri berbahan baku lokal yang bagus tak hanya dilihat dari tingginya kandungan protein dalam pakan tersebut. “Yang tak kalah penting adalah kandungan omega 3 dalam pakan. Karena itu, kami dalam membuat pakan juga mencampurnya dengan vit adictive, minyak ikan, litsin dan enzim. Paling tidak, ada 3-5 persen kandungan omega 3 dalam pakan yang kami buat,” paparnya.

Bagaimana cara mengolah formulasi pakan mandiri berbahan baku lokal?

Reporter : Advetorial
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018