Friday, 22 January 2021


Gerpari, Produksi Pakan Berbahan Baku Lokal

23 Nov 2020, 13:15 WIBEditor : Indarto

Pakan mandiri | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan sangat melimpah di Indonesia.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Gerakan Pakan Mandiri (Gerpari) dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya sejak tahun 2015 silam, saat ini sudah menuai hasil. Bahkan, sejumlah kelompok pengolah pakan mandiri telah mampu memproduksi pakan mandiri dengan mengandalkan bahan baku lokal.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, pakan ikan merupakan komponen yang sangat penting dalam proses budidaya. Karena itu, pembudidaya ikan yang menggunakan pakan mandiri  mampu menekan biaya produksi budidaya minimal 30 persen.

 

“ Selain itu, pakan mandiri mampu meningkatkan keuntungan yang diperoleh pembudidaya karena biaya produksi yang dikeluarkan semakin rendah,” ujar Slamet Soebjakto, dalam webinar bertajuk “ Dengan Pakan Mandiri, Budidaya Tetap Jaya di Tengah Pandemi”, di Jakarta, Senin (23/11).

 

Slamet mengungkapkan, pemerintah memang terus menggalakkan dan mendukung program Gerpari. Diharapkan program ini akan bermunculan atau kedepannya tercipta pakan-pakan mandiri yang  menggunakan bahan baku lokal.

 

“ Bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan sangat melimpah di Indonesia, baik jenis hewani maupun nabati. Ia mencontohkan untuk bahan baku hewani dapat memanfaatkan potensi kekerangan,” katanya. 

 

Sedangkan bahan baku jenis nabati cukup banyak, seperti tanaman legum atau dikenal dengan indigofera. Selain itu, saat ini KKP tengah mengembangkan maggot sebagai bahan baku pakan alternatif pengganti protein tepung ikan. 

 

“Kita kalau bersama-sama serentak semua lapisan untuk menyediakan bahan baku lokal ini. Saya yakin bisa,” ujarnya.

 

Menurut Slamet, keberadaan pakan mandiri akan semakin strategis.  KKP akan terus meningkatkan produksi perikanan budidaya khususnya ikan air tawar karena menduduki hampir 60 persen dari produksi perikanan budidaya.

 

“ Karena itu, pakan mandiri menjadi penting untuk dikembangkan, karena kita sama-sama tahu bahwa biaya terbesar dalam usaha budidaya adalah pakan,” papar Slamet.

 

Dikakatan, kelompok pengolah pakan atau pembudidaya yang memproduksi pakan secara mandiri semakin banyak. Pihaknya juga mengapresiasi kepada pembudidaya, kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) dan kelompok pakan ikan mandiri (pokandri). 

 

“Saya terus terang saja memberikan aspresiasi yang sangat besar dan terima kasih karena pertumbuhan pakan mandiri sangat pesat dan kami akan terus mendukung program ini,” kata Slamet. 

 

Menurut Slamet, program pakan mandiri ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah sehingga perlu dukungan dari kelompok masyarakat, akademisi, peneliti dan stakeholder lainnya. “Pakan mandiri untuk kita bersama-sama. Dengan pakan mandiri kita akan majukan perikanan budidaya,” ujarnya.

 

Direktur Pakan dan Obat Ikan KKP, Mimid Abdul Hamid mengatakan, berbagi informasi terkait kesuksesan pakan mandiri perlu dilakukan sehingga nantinya penerapan pakan mandiri oleh pembudidaya semakin luas serta semakin berkesinambungan.

 

Menurut Mimid , beberapa produk yang sudah dihasilkan oleh kelompok pakan mandiri  harganya lebih rendah Rp 1.000  per kg- Rp 3.000 ribu per kg dibandingkan dengan pakan komersial/pabrikan.  Misalnya pakan patin dengan protein 25 persen dihargai sekitar Rp 5.500-  Rp 6.000  per kg. Protein 28 – 30 persen  harganya bisa Rp 6.000 –Rp 7.000 per kg.

 

Mimid juga mencontohkan, pada pakan ikan lele yang proteinnya 30 persen  bisa d isekitar Rp 8 .000-  Rp 8.500 per kg. Begitu juga pakan mandiri untuk ikan air payau sekarang sudah bisa diproduksi oleh salah satu kelompok pakan mandiri, seperti di Indramayu maupun di Jawa Timur”.

 

“Di Indramayu, pakan udang sudah bisa diproduksi dengan protein 25 persen dengan harga dikisaran Rp 8. 000 per kg. Dan kelompok pakan mandiri di Jawa Timur bisa memproduksi pakan udang dan pakan bandeng,” katanya.

 

Pakan mandiri untuk ikan air laut juga sudah dapat diproduksi oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Untuk pakan bawal bintang dengan kandungan protein 40 persen bisa diproduksi dengan harga Rp 12,5 ribu per kg dan pakan mandiri untuk kakap putih bisa diproduksi dengan harga sekitar Rp 13,5 ribu per kg.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018