Thursday, 06 August 2020


Antisipasi Banjir, KKP Siapkan Asuransi Bagi Pembudidaya Kecil

09 Jan 2020, 14:42 WIBEditor : Indarto

Pembudidaya udang menjadi salah satu obyek APPIK | Sumber Foto:Humas KKP dan KLN

Analisa dari tren kejadian lima tahun terakhir, banyak usaha pembudidayaan yang terdampak banjir dengan nilai kerugiannya besa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta-- Curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir akan berdampak terhadap aktivitas usaha budidaya ikan di berbagai daerah di Indonesia. Guna mengantisipasi dampak tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya  mengimbau seluruh pelaku usaha budidaya mempersiapkan mitigasi sejak dini melalui Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK).

Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi realisasi asuransi bagi pembudidaya ikan kecil yang terdampak banjir. “Asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil ini sebagai upaya membantu meringankan dampak kerugian ekonomi pembudidaya akibat bencana alam,” kata Slamet Soebjakto, di Jakarta, Kamis,  (9/1).

Menurut Slamet, tingginya curah hujan beberapa hari belakangan telah menyebabkan banjir cukup parah di sejumlah titik di tanah air. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan memprediksi  cuaca ekstrim akan berlanjut hingga beberapa pekan ke depan. 

“Bagi kawasan yang menjadi langganan banjir, kami harapkan untuk melakukan berbagai upaya meminimalisasi dampak kerugian ekonomi, misalnya dengan memanen lebih awal ikan yang dibudidayakan,” ujarnya.

Slamet juga mengatakan, analisa dari tren kejadian lima tahun terakhir, banyak usaha pembudidayaan yang terdampak banjir dengan nilai kerugiannya besar. Apalagi berdasarkan tren data BMKG, curah hujan saat ini merupakan yang tertinggi dalam 150 tahun terakhir.

“ Tentu, kita tidak berharap kejadian tersebut terulang, namun langkah antisipatif perlu kita dorong," ujar Slamet.

Menurut Slamet, APPIK  diperuntukan bagi pembudidaya ikan kecil yang terdampak bencana,  seperti banjir, tanah longsor dan lainnya.  “ Oleh karenanya saya mengimbau kepada dinas terkait untuk segera mendata para pembudidaya yang mengalami kegagalan produksi akibat bencana. Nanti datanya kirim ke kami agar segera ditindaklanjuti," jelasnya.

Dikatakan,  asuransi bagi pembudidaya ikan kecil ini jangkauan objeknya telah diperluas. Apabila  semula hanya diperuntukan bagi usaha budidaya udang, saat ini diperluas untuk usaha budidaya ikan lain seperti bandeng, patin dan budidaya ikan tawar lainnya.

" Pembudidaya selain udang, masih didominasi oleh pembudidaya ikan kecil. Di sisi lain, pembudidaya ikan kecil ini sulit bangkit pasca kerugian akibat kegagalan produksi. Oleh karena itu, asuransi ini diharapkan akan meminimalisir dampak kerugian ekonomi dan menstimulan agar usaha budidaya kembali dilakukan," papar Slamet.

Data KKP menyebutkan, hingga tahun 2019 bantuan pembayaran premi asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil terealisasi sebesar Rp 7,3 miliar, dengan luas lahan budidaya  20.837,44 Ha. Sedangkan  jumlah pembudidaya mencapai 15.026 orang.

Secara rinci data asuransi bagi pembudidaya ikan kecil tahun 2017 telah mengcover 3.300 Ha yang diberikan kepada 2.004 orang. Selanjutnya, pada  tahun 2018 mengcover 10.220 Ha untuk 6.914 orang, dan pada  tahun 2019 mengcover 7.316 Ha untuk 6.108 orang.

Sedangkan tahun 2020 target realisasi asuransi tersebut dapat mengcover 5.000 Ha lahan usaha pembudidayaan baru, sehingga akan lebih banyak pembudidaya ikan yang dapat merasakan manfaat asuransi. Adapun anggaran utk bantuan pembayaran premi asuransi  pembudidaya sebesar Rp 3 miliar. 

Menurut Slamet, nilai maksimum pertanggungan untuk komoditas udang/polikultur sebesar Rp 7,5 juta per hektar/tahun. Ikan patin per tahunnya sebesar Rp 3 juta per 250 m2, nila tawar dan lele maksimum pertanggungan sebesar Rp 4,5 juta per 200 m2/tahun.

Sedangkan untuk nila payau nilai pertanggungan maksimum sebesar Rp 5 juta per hektar/tahun. Komoditas lainnya yaitu bandeng maksimum pertanggungan per tahunnya sebesar Rp 3 juta/hektar.

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018