Wednesday, 26 February 2020


KKP Bangun GGN Berkapasitas 12 Ribu Ton

05 Feb 2020, 14:18 WIBEditor : Indarto

Produksi garam rakyat dari program Pugar | Sumber Foto:Dok. Humas dan KLN KKP

Enam GGN tersebut masing-masing berkapasitas 2.000 ton, sehingga total daya tampung semuanya sebanyak 12.000 ton.

TABLOIDSINARTANI.COM, Pati---- Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meresmikan Gudang Garam Nasional (GGN) di Kabupaten Pati, Jawa Tegah (Jateng). Peresmian GGN di Pati ini mewakili lima GGN lainnya yang tersebar di sejumlah daerah, seperti  Demak, Jepara, Indramayu, Pamekasan dan Aceh Utara. Sedangkan nilai pembangunan masing-masing GGN sebesar Rp 2,5 miliar.

 Menteri Edhy menerangkan,  “Pembangunan GGN bertujuan memudahkan petani garam dalam menyimpan hasil panen sehingga kualitas garam yang diproduksi tetap terjaga,” ujar Menteri Edhy, di Pati, Jateng (5/2).

Setelah dilengkapi dengan GGN,  para petambak diharapkan lebih giat memproduksi garam rakyat, karena sudah ada akses pergudagannya. GGN ini diharapkan mampu menampung produksi garam rakyat di saat musim panen tiba, sehingga kualitasnya terjaga.

Peresmian  GGN di Pati ini menambah total gudang yang sudah dibangun di Jateng sebanyak sembilan unit. Tiga GGN lainnya ada di Brebes dengan rincian dua berkapasitas 2.000 ton dan satunya lagi 1.000 ton. Kemudian yang di Rembang kapasitas penyimpanan mencapai 1.000 ton.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Edhy juga menerima keluhan petambak garam, karena harga garam rakyat saat ini jatuh di level Rp 250/kg, dibanding sebelumnya harganya mencapai ribuan/kg. Jatuhnya harga garam rakyat ini salah satunya dikarenakan adanya impor garam.

Menteri Edhy mengaku sudah berkoordinasi dengan Menko Perekonomian, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, untuk memecahkan persoalan tersebut. “Kami juga ingin garam dalam negeri semuanya terserap dan harganya kembali stabil sehingga tidak ada petani yang merugi,” ujarnya.

Menurut Menteri Edhy, KKP  juga melakukan koordinasi dengan Kementerian PUPR untuk pembangunan infrastuktur jalan menuju lokasi tambak. Karena salah satu penyebab tingginya ongkos produksi garam adalah tingginya biaya angkut garam dari tambak menuju lokasi penyimpanan. 

"Semua kita lakukan secara koordinasi. Tapi yang perlu digarisbawahi, pemerintah tidak akan membiarkan petambak garamnya sengsara," kata Edhy.

Tingkatkan Kualitas Garam Rakyat dengan Pugar

Petambak garam di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa bolehkan sedikit lega. Pasalnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga saat ini komitmen meningkatkan kualitas garam rakyat melalui pengembangan usaha garam rakyat (Pugar).  Program Pugar yang diinisiasi Direktorat Jasa Kelautan Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) sejak tahun 2016 juga sebagai perwujudan dari UU No.7 Tahun 2006 tentang  pemberdayaan petambak garam.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Aryo Hanggono, menjelaskan produksi garam nasional tahun 2019 mencapai 2,85 juta ton.  Dari produksi garam nasional tersebut, tidak terlepas dari program Pugar yang dikembangkan KKP.

“Melalui Pugar, petambak garam kami dorong untuk mengaplikasi sejumlah inovasi teknologi produksi garam seperti geomembran dan integrasi lahan. Selain mampu meningkatkan produksi garam petani, aplikasi inovasi teknologi tersebut juga berhasil meningkatkan kualitas garam rakyat,” papar Aryo Hanggono, di Pati, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (5/2).

Guna mendorong produksi dan stabilitas harga garam rakyat,  KKP melalui program Pugar menjaga stok  garam rakyat dengan membangun   27 Unit Gudang Garam Nasional (GGN) sesuai SNI 8446:2017 yang berdaya tampung 2.000 ton. GGN ini nantinya akan berfungsi sebagai tempat penyimpanan garam rakyat ketika  musim panen tiba.

Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Rokmin Dahuri mengatakan pentingnya perbaikan dan pengembangan sistem logistik garam nasional serta perbaikan kuantitas dan kualitas data

Melalui  penelitian dan pengembangan aplikasi teknologi berbasis garam non-evaporasi,  diharapkan Indonesia dapat berswasembada garam bahkan menjadi pengekspor garam utama dunia.

“ Garam sebagai komoditas, sehingga bisa dibuat penetapan harga dasar yang menguntungkan petambak garam dan sekaligus tidak memberatkan konsumen," ujarnya.

 

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018