Wednesday, 14 April 2021


Diversifikasi Garam Rakyat Agar Bernilai Tambah

20 Jul 2020, 14:39 WIBEditor : Indarto

Garam rakyat | Sumber Foto:Dok. Biro Humas dan KLN

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa garam krosok dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi karena mengandung berbagai kadar mineral yang berperan penting bagi kesehatan tubuh. Sebagai contoh, kandungan mineral magnesium memilik

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sebagian besar produksi garam di Indonesia dihasilkan dari tambak rakyat yang berpusat di beberapa lokasi seperti Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur  (NTT), dan Sulawesi Selatan. Upaya untuk mensejahterakan petambak garam rakyat pun terus dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan berbagai diversifikasi usaha.

Peningkatan nilai tambah melalui diversifikasi atau penganekaragaman produk garam, bisa berdampak positif bagi pelaku usaha. Selain membuka lapangan kerja, diversifikasi bisa menjadi upaya menuju kemandirian garam, menaikkan pendapatan petambak garam sekaligus meningkatkan kesejahteraan petambak garam.


Direktur Jasa Kelautan Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL), Miftahul Huda mengatakan, ada beberapa upaya untuk meningkatkan produksi garam rakyat melalui program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar) dan pembangunan Gudang Garam Nasional.

" Untuk mendorong nilai tambah petambak garam, kita juga  membangun konsep Sentra Ekonomi Garam Rakyat (Segar)," ujar Huda, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Senin (20/7).

Sementara itu, Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Nilanto Perbowo mengatakan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa garam krosok dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi karena mengandung berbagai kadar mineral yang berperan penting bagi kesehatan tubuh. Sebagai contoh, kandungan mineral magnesium memiliki banyak manfaat diantaranya melembutkan dan menghaluskan kulit.

"Zat pengikat oksigen dan hemoglobin di dalam darah yang dapat memberikan sensasi relaksasi serta mengurangi stress saat berendam dengan larutan garam,” kata Nilanto.

Nilanto mengatakan, salah satu contoh pengembangan produk garam lokal ialah diolah menjadi produk kesehatan dan kecantikan seperti yang dilakukan Septi Ariyani. Bahkan, kesuksesan Septi menunjukkan bahwa garam lokal bisa berdaya saing sekaligus berkompetisi dengan produk negara lain.

"Diversifikasi produk ini dapat menjadi alternatif ceruk pasar baru bagi garam lokal, di luar pasar garam industri,” ujar Nilanto.

Hal senada diungkapkan,  Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi KKP, Budi Sulistiyo. Menurut Budi,  diversifikasi produk turunan garam yang bisa dikembangkan cukup potensial. Diantaranya dengan memanfaatkan limbah garam atau bittern yang diolah menghasilkan magnesium.

" Petambak  bisa memadukan satu rangkaian produksi tambak garam dengan artemia.  Sehingga bisa menjadi salah satu solusi kebutuhan pakan pada perikanan budidaya," papar Budi. 

Reporter : Dimas
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018