Saturday, 26 September 2020


Melongok Potensi Tambak Udang di Garut Bagian Selatan

22 Jun 2020, 16:49 WIBEditor : Indarto

Budidaya udang | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Prospek bisnis budidaya udang jauh lebih menggiurkan dibanding usaha di sektor lain. Bahkan, budidaya udang saat ini masih menjadi primadona ekspor dan sangat diandalkan untuk meraup devisa.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Garut-- Sepanjang pesisir selatan Jawa Barat (Jabar), khususnya di  Garut bagian selatan memiliki potensi tambak yang bisa dioptimalkan untuk usaha budidaya udang berkelanjutan. Potensi ini bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, dari sisi prospek bisnis, budidaya udang jauh lebih menggiurkan dibanding usaha di sektor lain. Bahkan, budidaya  udang saat ini masih menjadi primadona ekspor dan sangat diandalkan untuk meraup devisa.

" Disamping itu, usaha budidaya udang juga memicu multiplier effect bagi penyerapan tenaga kerja dari masyarakat," kata Menteri Edhy saat panen udang di  PT Dewi Laut Aquaculture, di Garut , Senin (22/6).

Menurut Menteri Edhy, KKP akan memfasilitasi kebutuhan pelaku usaha guna memastikan bisnis udang nasional berjalan dengan baik. KKP juga mengapresiasi inovasi tekonologi budidaya udang yang dilakukan PT Dewi Laut yang berhasil menggenjot produktivitas dengan optimal.

" Dari hitungan target ekspor sebesar 250 persen pada  tahun 2024, atau sebesar 1,29 juta ton, maka dalam lima tahun ke depan Indonesia harus mampu mengoptimalkan lahan tambak minimal 100.000 ha," jelasnya.

Budidaya Udang Berkelanjutan di Lahan Eksisting

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, ke depan pesisir selatan Jawa akan menjadi sasaran pengembangan budidaya tambak khususnya udang.  Pengembangan budidaya udang di pesisir selatan Jawa akan memanfaatkan potensi lahan eksisting saat ini melalui intensifikasi.

" Di  pesisir selatan Jawa, termasuk Garut hingga saat ini mulai bermunculan aktivitas budidaya udang. Ini tentu sangat menggembirakan dari sisi ekonomi. Cuman disini saya tekankan bahwa pengembangan tersebut dengan memanfaatkan lahan eksisting bukan alih fungsi," jelas Slamet.

Slamet juga mengatakan,  KKP sudah menetapkan pedoman bagi pelaku usaha bagaimana mendorong pengelolaan budidaya secara berkelanjutan. Bahkan, pihaknya telah mendorong daerah untuk memberikan perlindungan kawasan melalui kebijakan penataan ruang.

"Secara legalitas, perizinan juga harus mengacu RTRW dan didalamnya sudah harus masuk  pertimbangan mengenai kelestarian lingkungan dan lain lain," ujarnya.

Menurut Slamet,  budidaya udang ini dilakukan secara terukur, dan bertanggungjawab baik secara sosial maupun aspek lingkungannya. " Kita tidak ingin mengulang kesalahan sama saat ambruknya udang windu akibat pengelolaan yang tidak terukur," ujar Slamet.

Guna mempercepat pengembangan kawasan di daerah-daerah potensial, pada tahap awal tahun ini KKP akan bangun percontohan budidaya udang berkelanjutan di lima daerah potensial. Antara lain di Aceh Timur, Sukamara, Lampung Selatan, Cilacap, Sukabumi dan Buol.

"Percontohan ini sebagai tahap awal, targetnya bisa diadopsi masyarakat dan secara langsung mampu menarik investor masuk," ujarnya.

Sementara itu General Manajer PT Dewi Laut Aquaculture, Bobby Indra Gunawan mengatakan,  pesisir selatan Garut masih steril dari sumber cemaran. Sehingga  sangat layak untuk budidaya udang.

Bobby mengatakan,  dalam pengelolaan proses produksi budidaya, pihaknya selalu menerapkam good management practices. Selain itu , tetap  menjamin agar lingkungkan tetap terjaga dengan baik.

Total luas lahan yang dikelola PT Dewi Laut Aquaculture seluas 10 ha. Dari luasan tersebut  untuk lahan kolam budidaya kurang lebih seluas 4 Ha. Sedangkan sisanya yakni kolam treatment dan IPAL.

"  Saat ini produktvitas pada kisaran 40-45 ton/ha dengan produksi per tahun mencapai 400 ton. Saya optimis, prospek udang ini sangat bagus ke depan," kata Bobby.

Menurut Bobby, selama masa pandemi  covid-19 KKP  hadir,  ketika harus order sarana produksi seperti kapur dari Jawa Timur yang  sempat mengalami kendala.Namun,  dengan surat permohonan yang telah dikirimkan oleh KKP kepada gugus tugas percepatan penanganan covid-19 dapat memberikan kelancaran bagi proses produksi.

"  Selain itu, kami juga berharap agar Pemerintah selalu memberikan kemudahan perizinan," ujar Boby.

Bobby juga mengatakan,  total panen udang vaname saat ini sebanyak 165 ton,  dengan masa pemeliharaan selama 105 hari. Sedangkan ukuran  udang yang dipanen sebanyak 30 ekor per kg. 

 

Reporter : Dimas
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018