Wednesday, 23 September 2020


Pengembangan Tambak Udang, Tak Korbankan Hutan Mangrove

21 Jul 2020, 14:00 WIBEditor : Indarto

Hutan mangrove | Sumber Foto:Dok. Indarto

Tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove, karena saat ini sudah ada inovasi cara budidaya, dimana penerapannya tidak membutuhkan lahan yang begitu luas namun hasil panennya melimpah.

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Meski sedang gencar mengembangkan sektor perikanan budidaya, khususnya komoditas udang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) komitmen menjaga kelestarian alam. Hutan mangrove yang tumbuh di pesisir pantai dipastikan tak dialihfungsikan menjadi kawasan tambak udang.

" Pasti akan ada isu lingkungan karena kami sedang gencar mengembangkan budidaya. Tapi saya jamin, ke depan tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove. Justru kami akan menanami mangrove," kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, di Jakarta, Selasa (21/7).

Menteri Edhy memastikan tidak ada lagi pembabatan hutan mangrove, karena saat ini sudah ada inovasi cara budidaya, dimana penerapannya tidak membutuhkan lahan yang begitu luas namun hasil panennya melimpah. Inovasi ini dikenal dengan sistem intensifikasi yang saat ini sedang digalakkan KKP.

Menteri Edhy mengatakan, tambak udang vaname dengan sistem intensifikasi sudah banyak. Gambaran hasil produksinya, satu hektare (ha) tambak udang vaname bisa menghasilkan 10 -15 ton setiap kali panen.

" Sistem intensifikasi lebih produktif dibanding tambak yang pengerjaannya secara tradisional. Kalau dulu itu 10 hektare lahan dapatnya hanya 1 ton. Tapi sekarang 1 hektare lahan bisa menghasilkan 10 -15 ton udang. Dan ini sudah terbukti di banyak tempat di Indonesia," paparnya.

Menurut  Menteri Edhy, pengembangan sektor perikanan budidaya, khususnya komoditas udang sedang digalakkan. Selain amanat Presiden Joko Widodo, sektor ini belum tergarap maksimal. Dari luasan potensi budidaya yang jumlahnya mencapai jutaan ha, baru 10 persen yang tergarap.

" Daya serap budidaya udang sangat tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Untuk pasar internasional, kebutuhannya masih tinggi dan menjanjikan. Sebagaimana diketahui produksi udang nasional baru sekitar 800 ribu -1 juta ton per tahun," paparnya.

Diakuinya,  potensi pasar udang sangat besar. Nah, untuk mendongkrak produksi udang, selain menggunakan sistem intensifikasi, juga akan menerapkan konsep silvofishery.

" Melalui konsep ini, area-area bekas tambak akan kembali ditanami mangrove sembari dimanfaatkan untuk budidaya biota laut lainnya, seperti ikan kerapu, udang windu, dan kakap putih," pungkasnya

Reporter : Dimas
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018