Saturday, 23 January 2021


Cacing Sutera, Pakan Alami Penunjang Pembenihan Ikan

01 Dec 2020, 11:48 WIBEditor : Yulianto

Cacing sutera, pakan alami penunjang perbenihan ikan | Sumber Foto:Humas Ditjen PB KKP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Proses budidaya ikan, khususnya pada segmen pembenihan tak bisa dilepaskan dari keberadaan pakan alami. Bahkan, keberadaan pakan alami ini sangat penting untuk menunjang keberhasilan pembenihan ikan.

Pakan alami ini ibarat mata uang logam yang bersisi dua, dimana masing-masing sisinya tak bisa dipisahkan.  Sayangnya,  keberadaan pakan alami  kerap kali dilupakan para pembudidaya. Sebab, tak semua pembudidaya mampu menekuni budidaya pakan alami dengan telaten.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, keberadaan pakan alami menjadi  salah satu kunci sukses saat melakukan pembenihan ikan ataupun udang.  Sehingga, pembudidaya jangan mengganggap sepele pakan alami. Salah satu pakan alami yang sudah popular dan telah dikembangkan sebagian masyarakat adalah budidaya cacing sutera.

Inovasi budidaya cacing sutera (Tubifex) telah dikembangkan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi dengan sistem apartemen. Inovasi budidaya cacing sutera sistem apartemen ini lebih efisien, dan suplai cacing suteranya dapat disediakan sepanjang tahun.

Slamet juga berharap, budidaya cacing sutera sistem apartemen akan menjadi salah satu jawaban atas permasalahan penyediaan pakan alami yang secara umum masih tergantung dari hasil tangkapan alam. "Tubifex, merupakan limiting faktor. Artinya, kalau tanpa tubifex, produksi benih akan terganggu," ujar Slamet, di Jakarta, belum lama ini.



Menurut Slamet,  selain tubifex, pakan alami seperti, rotifera, artemia, moina ataupun daphnia  menjadi bagian penting bagi usaha pembenihan ikan ataupun udang. Karena itu, pembudidaya pun harus didorong untuk mengembangkan pakan alami. Kegiatan budidaya pakan alami terus dikembangkan di UPT Ditjen Perikanan Budidaya, badan riset dan lainnya.

“ Tubifex dan juga pakan alami lainnya seperti daphnia, cladosera, kedepannya punya potensi bisnis menarik, bahkan bisa menjadi skala industri,” papar Slamet.

Slamet juga mengatakan, apabila ingin membangun industri benih ikan yang berhasil, harus juga membangun industri pakan alami. Untuk itu, ke depannya harus ada kelompok atau spesialisasi orang yang khusus membangun rotifera, ataupun memproduksi tubifex, sehingga industrialisasinya dapat berjalan dengan baik.

Guna mencapai tujuan tersebut, lanjut Slamet, pihaknya akan menempuh dengan sejumlah strategi. Pertama,  yaitu input produksi diperlukan secara berkesinambungan.  Kedua, volume sesuai seperti  yang diperlukan. Ketiga, kualitas harus dijamin dan dijaga dengan sebaik mungkin.

“Saya melihat BBPBAT Sukabumi sudah berhasil dengan metode apartemennya, dan BPBAT Tatelu sudah berhasil dengan kolamnya," ujarnya.

Selama ini sudah ada beberapa cara budidaya cacing sutera yang dilakukan masyarakat. Umumnya,  masyarakat melakukan budidaya secara konvensional. Nah, untuk lebih efisien tempat dan biaya, BBPBAT Sukabumi telah mengembangkan inovasi budidaya cacing sutera sistem apartemen.
Inovasi budidaya cacing sutera (Tubifex) dengan sistem apartemen ini terbukti lebih efisien, dan suplai cacing suteranya dapat disediakan sepanjang tahun. Melalui inovasi teknologi inilah, diharapkan kebutuhan cacing sutera terus meningkat di kalangan para pembenih ikan air tawar bisa terpenuhi.

Jumlah kebutuhan cacing sutera sangat besar, seiring kebutuhan  benih yang terus meningkat. Sedangkan  harga cacing sutera  di luar Jawa, cukup mahal, sekitar  Rp 80 ribu rupiah per liter.

Cacing sutera ini merupakan pakan yang berprotein tinggi. Kandungan nutrisi cacing sutera sangat tinggi. Khususnya, untuk proteinnya berkisar 57 persen – 60 persen. Karena nilai gizi yang tinggi ini, membuatnya sangat diminati pembudidaya guna mencukupi kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan benih ikan.

Menurut Kepala BBPBAT Sukabumi, Supriyadi,  sistem apartemen memiliki berbagai keunggulan dibanding konvensional. Keunggulan budidaya cacing sutera sistem apartemen ini diantaranya : 1). lahan yang digunakan lebih efisien karena wadah budidaya yang dibuat vertikal. 2).  Suplai cacing sutera dapat disediakan sesuai kebutuhan dan sepanjang tahun. 3). Kualitas cacing sutera yang dihasilkan lebih baik karena lebih bersih dari kontaminan cemaran di alam. 4). Produktivitasnya lebih tinggi dibanding konvensional.

“Apabila sistem konvensional produktivitas hanya 0,5 liter per meter persegi/bulan, maka produktivitas sistem apartment minimal 1,2 liter per meter persegi/ bulan. Disamping itu, sistem ini menjadi alternatif usaha yang menjanjikan bagi masyarakat,” papar Supriyadi.

Supriyadi juga mengatakan, BBPBAT Sukabumi  telah membuat beberapa percontohan di beberapa daerah. “ Inovasi ini sudah kami kenalkan di kalangan masyarakat, sehingga ke depan akan mampu diadopsi secara massal, khususnya di sentra-sentra perbenihan,” kata Supriyadi.

Bernilai Ekonomi Tinggi

Pakan alami ini juga punya nilai ekonomi tinggi. Bahkan, artemia dan tubifex yang dibudidaya dengan kualitas baik, harganya mahal. Menurut Perekayasa Madya BBPBAT Sukabumi, Dasu Rohmana, harga cacing sutera di tingkat pembudidaya (di Jawa)  Rp 25 ribu/liter.

“Pasarnya juga sudah ada, dan cara budidaya bisa dipelajari. Kami sudah kembangkan budidaya cacing sutera sistem apartemen ukuran bak 2 x 1 meter, terdiri dari empat bak per rak dan satu unit apartemen terdiri dari 4 rak. Dari satu unit bisa panen 12 liter per bak per minggu” kata Dasu.

Dasu mengatakan, budidaya cacing sutera sebenarnya mudah. Bibitnya bisa ambil dari alam, setelah itu bisa dipanen pada usia 30 hari. “Setelah berkembang biak, cacing sutera bisa dipanen tiap seminggu sekali. Setiap, panen harus disisakan sebagian untuk pengembangan produksi seminggu mendatang,” ujarnya.

Budidaya cacing sutera ini sudah didesiminasikan ke sejumlah daerah. Hanya saja, untuk budidayanya perlu keuletan dan kesabaran. Apabila budidayanya ditangani dengan baik, dipastikan akan bernilai tambah. Bahkan, akan mampu meningkatkan kesejahteraan pembudidaya.

Reporter : Humas Ditjen Perikanan Budidaya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018