Tuesday, 03 August 2021


Mengangkat Posisi Tawar Pembudidaya Rumput Laut Nunukan

08 Jul 2021, 11:50 WIBEditor : Yulianto

Rumput laut yang tengah dijemur | Sumber Foto:Ibnu Abas

TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan---Rumput laut merupakan salah satu produk unggulan asal Nunukan, Kalimantan Utara. Pemasarannya bukan hanya di dalam negeri, tapi juga sudah ada yang menembus pasar Korea.

Sayangnya posisi tawar pembudidaya rumput laut Nunukan masih rendah. Dalam pemasaran mereka sangat tergantung pedagang. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Nunukan, Dian Kusumanto mengatakan, penjualan rumput laut di Nunukan saat ini masih sangat tergantung peluncurnya. Setiap pedagang atau pengepul rumput laut  mempunyai peluncur.

 

“Peluncur ini  biasanya petani-petani juga, pedagang menggunakan jasa mereka. Hal inilah yang terkadang  membuat petani rumput laut kurang memiliki posisi tawar apalagi kalau petani sudah meminta uang muka,” katanya.

Karena itu jika harga rumput laut turun akan berpengaruh pada pelaku usaha yang lain, seperti pekerja pengikat bibit. “Kalau pengamatan saya harga Rp 10.000/kg itu keuntungan bagi petani sangat tipis. Jangan sampai harga di bawah itu syukur-syukur bisa naik seperti sekerang ini,” ungkapnya.

Dian mengungkapkan, memasuki tahun 2021 volume penjualan rumput laut rata-rata mencapai 3.000 ton/bulan. Jumlah ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan tahun 2019 dan 2020 yang rata-rata 2.100 ton/bulan.

Dian mengungkapkan, dalam beberapa bulan terakhir ada kenaikan harga rumput laut kering. Jika awal tahun 2021 hanya berkisar Rp 11.000/kg, lalu pada Maret, April dan Mei sampai Hari Raya Idul Fitri  terus bergerak naik dan kini mencapai Rp 14.000/kg.

Sebenarnya menurut Dian, harga rumput laut di gudang Makassar dan Surabaya  itu sekitar Rp 17.500/kg. Semestinya pedagang bisa mengambil dari petani Rp 16.000/kg. Karena petani masih mau dibeli dengan harga di bawahnya, bagaimana lagi,” ujarnya.

Apalagi saat membeli rumput laut, pedagang selalu memperhitungkan kadar air. Selain itu, harga dari eksportir atau buyer juga menjadi patokan para pedagang. Standar SNI dan perdagangan internasional kadar air rumput laut 37-38 persen.

Sementara kebanyakan rumput laut petani kadar airnya masih 40 persen ke atas, sehingga terlalu basah“Sebenarnya di sinilah letaknya salah satu persoalan setiap bisnis komoditi  bahan mentah, permainannya di sekitar itu seperti mutu dan kadar air, sehingga jadi alasan pedagang menekan harga dari petani,” tuturnya.

Selain kadar air menurut Dian, yang menjadi persoalan lain dalam pemasaran rumput laut adalah tingkat atau kandungan  kotoran. Seperti, kotoran tanah atau lumpur, plastik, tiram dan juga lumut. Hal ini terkait dengan  pengelolaan petani yang belum bersih, karena beragam sekali  petani yang ada,” jelasnya.

Untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut, harus ada upaya membangun hilirisasi. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Ibnu Abas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018