Sunday, 18 October 2026


Misi Laut Dalam BRIN–OceanX Ungkap 14 Spesies Megafauna di Sulawesi Utara

26 Jan 2026, 11:00 WIBEditor : Gesha

Misi laut dalam BRIN bersama OceanX berhasil mengungkap 14 spesies megafauna di perairan Sulawesi Utara, sekaligus memetakan gunung bawah laut dengan teknologi canggih dan metode riset mutakhir.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Misi laut dalam BRIN bersama OceanX berhasil mengungkap 14 spesies megafauna di perairan Sulawesi Utara, sekaligus memetakan gunung bawah laut dengan teknologi canggih dan metode riset mutakhir.

Misi laut dalam kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama organisasi eksplorasi laut global OceanX berhasil mengungkap kekayaan biodiversitas perairan Indonesia.

Dalam ekspedisi terbaru di Sulawesi Utara, tim peneliti berhasil mengidentifikasi 14 spesies megafauna sekaligus memetakan struktur gunung bawah laut yang selama ini minim tersentuh riset.

Keberhasilan tersebut dicapai melalui program OCEANX–BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2, yang dilaksanakan pada 5–24 Januari 2026.

Misi ini berfokus pada penelitian biodiversitas laut, oseanografi, hingga pengamatan fish aggregating device (FAD) atau rumpon.

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menyebut ekspedisi ini menjadi bagian penting dari upaya Indonesia menuju kemandirian eksplorasi laut dalam. Menurutnya, penguatan armada kapal riset, sumber daya manusia, dan pendanaan harus terus didorong secara berkelanjutan.

“Leg kedua ini tidak hanya mengumpulkan data ilmiah, tetapi juga memperkuat kapasitas nasional dalam riset laut dalam. Ini fondasi menuju kemandirian eksplorasi samudra Indonesia,” ujar Nugroho, akhir pekan lalu.

Laporan dari kapal riset canggih OceanXplorer mengungkapkan, selama misi berlangsung, tim berhasil mengidentifikasi 14 spesies megafauna. Temuan tersebut terdiri dari 10 spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu.

Peneliti mamalia laut Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Sekar Mira, menjelaskan sebagian besar mamalia laut teridentifikasi melalui pengamatan udara menggunakan helikopter kapal. Jenis yang teramati antara lain paus sperma dan paus berparuh.

“Yang menarik, kami menjumpai Indopacetus pacificus atau paus paruh Longman. Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi catatan baru bagi daftar biodiversitas perairan Indonesia,” kata Sekar.

Selain observasi visual, ekspedisi ini juga memanfaatkan teknologi mutakhir environmental DNA (eDNA) metabarcoding.

Metode ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan paus dan megafauna lain hanya dari jejak genetik yang tertinggal di air laut, tanpa harus bersentuhan langsung dengan satwa.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo, menyebut pendekatan ini sebagai terobosan besar dalam riset laut dalam. “Ibaratnya, kita berburu paus tanpa membunuh paus. Whaling tanpa harpoon. Kita bisa mempelajari distribusinya, baik horizontal maupun vertikal,” ujarnya.

Ekspedisi laut dalam ini juga didukung dua kapal selam berawak, Nadir dan Neptune, dengan fungsi berbeda. Nadir difokuskan untuk dokumentasi visual dan media, sementara Neptune digunakan untuk kebutuhan ilmiah, termasuk pengambilan sampel air, biota laut, dan spesimen menggunakan lengan robotik.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN sekaligus Lead Scientist ekspedisi, Pipit Pitriana, menegaskan data yang diperoleh akan memperkaya basis informasi biodiversitas Sulawesi Utara.

Data ini diharapkan menjadi pijakan ilmiah bagi perumusan kebijakan konservasi laut di Indonesia.

Apresiasi juga disampaikan Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian. Ia menekankan pentingnya dokumentasi hasil riset dan penyimpanan seluruh sampel di repositori ilmiah nasional. Amarulla menegaskan BRIN akan melanjutkan riset laut dalam menggunakan kapal penelitian nasional dengan standar teknologi yang tidak kalah canggih.

“Hasil penelitian ini harus tercatat dengan baik. Ke depan, riset akan kita lanjutkan dengan kapal kita sendiri dan peralatan yang setara, bahkan lebih maju,” tegas Amarulla.

Temuan 14 spesies megafauna dan pemetaan gunung bawah laut Sulawesi Utara ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia, sekaligus membuka babak baru eksplorasi laut dalam berbasis sains dan teknologi.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018