Sunday, 18 October 2026


Biofertizinc, Teknologi Baru BRIN yang Bisa Hemat NPK 25 Persen dan Tingkatkan Hasil Panen

30 Jul 2026, 06:23 WIBEditor : GESHA

BRIN mengembangkan Biofertizinc, pupuk hayati berbasis mikroba yang mampu menghemat pupuk NPK hingga 25 persen sekaligus meningkatkan hasil panen padi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- BRIN mengembangkan Biofertizinc, pupuk hayati berbasis mikroba yang mampu menghemat pupuk NPK hingga 25 persen sekaligus meningkatkan hasil panen padi.

Banyak petani mengira tanaman padi yang kurang subur selalu disebabkan kekurangan pupuk. Padahal, masalahnya belum tentu karena pupuk kurang. Bisa jadi unsur hara di dalam tanah sebenarnya masih ada, tetapi tidak bisa diserap oleh akar tanaman.

Inilah yang kini menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berdasarkan hasil penelitiannya, sekitar 2,9 juta hektare sawah di Indonesia mengalami defisiensi zinc (Zn). Kondisi ini membuat pertumbuhan tanaman tidak maksimal, hasil panen menurun, bahkan kualitas beras ikut berkurang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN mengembangkan Biofertizinc, yaitu pupuk hayati berbasis mikroba yang mampu mengembalikan unsur zinc agar bisa diserap tanaman. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mampu menghemat penggunaan pupuk NPK hingga 25 persen.

Peneliti Pusat Riset Tanaman BRIN, Dr. Etty Pratiwi, menjelaskan bahwa jutaan hektare sawah di Indonesia sebenarnya masih memiliki kandungan zinc. Masalahnya, unsur tersebut terikat dengan fosfor (P) akibat penggunaan pupuk NPK yang terlalu tinggi selama bertahun-tahun.

Akibatnya, tanaman tidak mampu menyerap zinc meskipun unsur tersebut masih berada di dalam tanah.

"Yang menjadi masalah bukan zinc-nya hilang, tetapi zinc tidak tersedia bagi tanaman karena terikat oleh fosfor," jelas Etty kepada tabloidsinartani.com. Rabu (29/07).

Kondisi ini banyak ditemukan di lahan sawah yang dipupuk secara intensif menggunakan NPK. Akibatnya, petani sering menambah dosis pupuk karena menganggap tanaman kekurangan hara, padahal akar tanaman kesulitan menyerap unsur yang sudah ada di dalam tanah.

Etty menjelaskan, bagi petani, zinc mungkin bukan unsur yang sering dibahas seperti nitrogen atau kalium, namun perannya sangat penting.

“Zinc membantu pembentukan enzim, mempercepat pertumbuhan tanaman, memperkuat akar, membantu pembentukan bulir padi, hingga meningkatkan kualitas gabah. Jika tanaman kekurangan zinc, gejalanya bisa berupa pertumbuhan kerdil, daun menguning, anakan sedikit, hingga hasil panen tidak maksimal,”jelas Etty.

Tidak hanya itu, zinc juga merupakan mineral penting bagi tubuh manusia. Beras yang memiliki kandungan zinc lebih tinggi dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan mendukung upaya menurunkan angka stunting.

Cara Kerja Biofertizinc

Berbeda dengan pupuk kimia yang langsung menambahkan unsur hara ke tanah, Biofertizinc bekerja menggunakan bakteri pelarut zinc.

“Mikroba tersebut menghasilkan asam organik yang mampu melepaskan ikatan antara fosfor dan zinc. Setelah ikatan itu terurai, zinc kembali tersedia dan bisa diserap akar tanaman. Dengan kata lain, Biofertizinc membantu tanaman memanfaatkan cadangan zinc yang selama ini "terkunci" di dalam tanah,” bebernya.

Pendekatan ini dinilai lebih ramah lingkungan karena memperbaiki fungsi alami tanah, bukan hanya menambah pupuk kimia.

Salah satu keunggulan Biofertizinc adalah mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Dalam uji lapangan BRIN di Bogor, Subang, dan Gunungkidul, penggunaan Biofertizinc mampu mengurangi dosis pupuk NPK hingga 25 persen tanpa menurunkan produksi. Bahkan, hasil panen justru meningkat.

Bagi petani, temuan ini tentu menarik. Pengeluaran untuk membeli pupuk bisa ditekan, sementara hasil panen tetap terjaga. Selain itu, penggunaan pupuk yang lebih efisien juga membantu menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.

BRIN juga mencatat penggunaan Biofertizinc mampu meningkatkan kandungan zinc yang tersedia di dalam tanah hingga sekitar 20 persen. Tidak hanya tanah yang menjadi lebih subur, kandungan zinc pada bulir padi juga meningkat antara 10 hingga 22 persen. Artinya, petani bukan hanya mendapatkan hasil panen lebih baik, tetapi juga menghasilkan beras dengan kualitas gizi yang lebih tinggi.

Terbukti di Lapangan

Efektivitas Biofertizinc bukan hanya terlihat di laboratorium, tetapi juga telah dibuktikan melalui serangkaian uji lapangan di berbagai daerah dengan karakteristik tanah yang berbeda. Pengujian dilakukan mulai dari lahan sawah irigasi hingga lahan tadah hujan untuk memastikan teknologi ini dapat bekerja pada berbagai kondisi budidaya.

Salah satu hasil yang cukup mencolok diperoleh dari pengujian di lahan sawah Sukamandi. Di lokasi tersebut, penggunaan Biofertizinc mampu meningkatkan produktivitas padi dari sekitar 5,95 ton menjadi 8,25 ton gabah per hektare. Tidak hanya hasil panen yang meningkat, tanaman juga memiliki batang yang lebih kokoh sehingga lebih tahan rebah saat diterpa angin kencang maupun hujan lebat. Kondisi ini tentu menjadi nilai tambah bagi petani karena risiko kehilangan hasil akibat tanaman roboh dapat ditekan.

Selain memberikan hasil yang menjanjikan, Biofertizinc juga dirancang agar mudah diterapkan oleh petani. Produk ini tersedia dalam dua bentuk, yakni cair dan padat. Untuk formulasi cair, aplikasinya dilakukan dengan merendam akar bibit sebelum pindah tanam atau disemprotkan sesuai dosis yang dianjurkan.

Sementara itu, formulasi padat digunakan sebagai pelapis benih sebelum ditanam. Menurut BRIN, kedua formulasi tersebut memiliki masa simpan hingga satu tahun sehingga cukup praktis untuk disimpan dan digunakan di lapangan.

Meski demikian, Peneliti Pusat Riset Tanaman BRIN, Etty Pratiwi, mengingatkan bahwa Biofertizinc bukanlah pengganti pupuk NPK. Petani tetap membutuhkan pupuk makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman. Bedanya, keberadaan

Biofertizinc membantu unsur hara yang sudah ada di dalam tanah menjadi lebih mudah diserap akar. Dengan penyerapan yang lebih efisien, penggunaan pupuk NPK dapat dikurangi hingga sekitar 25 persen tanpa menurunkan hasil panen. Kondisi ini tidak hanya membantu menekan biaya produksi, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.

Melihat hasil tersebut, BRIN kini mulai mendorong Biofertizinc memasuki tahap hilirisasi. Teknologi ini telah dilisensikan kepada perusahaan swasta untuk diproduksi dalam skala yang lebih besar. Saat ini prosesnya masih menunggu penyelesaian izin edar sebelum dapat dipasarkan secara luas kepada petani di berbagai daerah.

Ke depan, Biofertizinc diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan defisiensi zinc yang diperkirakan masih terjadi di sekitar 2,9 juta hektare lahan sawah Indonesia. Bagi penyuluh pertanian, inovasi ini juga dapat menjadi materi pendamping dalam mengedukasi petani mengenai pentingnya pemupukan berimbang dan pemanfaatan pupuk hayati.

Pasalnya, menjaga kesuburan tanah tidak cukup hanya dengan menambah dosis pupuk kimia. Yang tidak kalah penting adalah memastikan unsur hara yang sudah ada di dalam tanah benar-benar tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Dengan cara itulah produktivitas bisa terus ditingkatkan, biaya produksi menjadi lebih efisien, sementara kualitas lahan tetap terjaga untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018