Thursday, 22 October 2026


IPB University Ajari Warga Bali Pantau Terumbu Karang Secara Ilmiah

02 Oct 2026, 09:04 WIBEditor : Gesha

IPB University melatih warga Bali memantau terumbu karang secara ilmiah demi restorasi berkelanjutan

TABLOIDSINARTANI.COM, Buleleng – IPB University mengajari warga Bali memantau terumbu karang secara ilmiah. Metode ini bikin progres restorasi laut bisa diukur lebih akurat.

Upaya memulihkan terumbu karang di pesisir Bali Utara memasuki tahap penting. 

Bukan cuma soal menanam atau membangun struktur restorasi, kondisi karang yang sudah dipulihkan juga harus dipantau secara rutin agar perkembangannya bisa diketahui secara akurat.

Hal inilah yang diperkenalkan IPB University kepada masyarakat Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali.

Melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026, tim IPB University memberikan pelatihan kepada warga dan pengelola konservasi pesisir mengenai cara mengamati kondisi terumbu karang menggunakan metode ilmiah yang terstandar.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dilaksanakan pada 11 September 2026 dan diikuti 25 peserta. 

Mereka berasal dari kelompok masyarakat lokal, pemandu wisata bahari, serta pengelola kegiatan konservasi pesisir.

Yang menarik, warga tak hanya mendapatkan materi di dalam ruangan. 

Mereka juga langsung diajak turun ke area restorasi untuk mempraktikkan teknik pemantauan terumbu karang di bawah air.

Program tersebut dilaksanakan melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University dengan menggandeng Biorock Indonesia sebagai mitra.

Selama ini, pengamatan terumbu karang di kawasan restorasi Desa Sumber Klampok masih banyak dilakukan melalui pengamatan visual secara umum.

Cara tersebut memang dapat memberikan gambaran awal. 

Namun, untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan restorasi, dibutuhkan data yang lebih terukur dan dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.

Di sinilah metode ilmiah mulai memainkan peran penting.

IPB University memperkenalkan sejumlah metode pemantauan terumbu karang, di antaranya Line Intercept Transect (LIT), Underwater Photo Transect (UPT), serta sensus visual terhadap biota yang berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang.

Melalui metode tersebut, kondisi dasar perairan dan perkembangan tutupan karang dapat dicatat secara lebih sistematis.

Peserta juga diperkenalkan dengan teknik penggelaran tali transek sepanjang 50 meter. 

Tali tersebut menjadi acuan untuk melakukan pengamatan dan pencatatan kondisi substrat bentik di sepanjang jalur yang telah ditentukan.

Tak berhenti di situ, warga juga dilatih menggunakan underwater slate untuk melakukan pencatatan ketika berada di bawah air.

Dokumentasi melalui fotografi bawah air juga menjadi bagian dari pelatihan. 

Dengan begitu, kondisi koloni karang dapat direkam dan menjadi bagian dari data pemantauan.

Langkah ini membuat proses evaluasi restorasi tidak lagi sekadar berdasarkan kesan visual. 

Perubahan kondisi ekosistem dapat didokumentasikan dengan data yang lebih terstruktur.

Ketua Tim Dospulkam IPB University, Dr. Ir. I Wayan Nurjaya, M.Sc., mengatakan keberlanjutan restorasi terumbu karang membutuhkan pengamatan dan evaluasi secara konsisten.

Menurutnya, pemulihan terumbu karang tidak selesai hanya dengan memperbaiki kondisi fisiknya. 

Perkembangan ekosistem juga harus diketahui melalui pemantauan ilmiah.

"Upaya restorasi terumbu karang tidak berhenti pada tahap pemulihan fisik saja, tetapi membutuhkan evaluasi dan pengamatan ilmiah yang konsisten," ujar I Wayan.

Ia berharap pelatihan tersebut membuat masyarakat Desa Sumber Klampok mampu mengumpulkan data mengenai kesehatan karang secara mandiri.

Dengan adanya data kuantitatif, keberhasilan restorasi bisa diukur secara lebih akurat. 

Data tersebut sekaligus dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.

Pendekatan seperti ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat lebih jauh dalam kegiatan konservasi.

Masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi ikut memahami bagaimana kondisi ekosistem di wilayah mereka sendiri dipantau dan dievaluasi.

Kegiatan Dospulkam 2026 di Sumber Klampok juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra teknologi restorasi, dan masyarakat lokal.

IPB University membawa kepakaran akademik, khususnya dalam metode pengamatan ekosistem perairan. 

Sementara itu, Biorock Indonesia memiliki pengalaman dalam penerapan teknologi struktur restorasi terumbu karang.

Keduanya kemudian dipertemukan dengan masyarakat yang berada langsung di kawasan pesisir.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk melakukan transfer pengetahuan dan keterampilan teknis.

Harapannya, kemampuan pemantauan tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai, tetapi bisa terus diterapkan oleh masyarakat.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si., menilai pendekatan berbasis sains penting untuk memperkuat konservasi yang dilakukan masyarakat.

Menurutnya, metodologi ilmiah harus dapat digunakan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat yang berada di garis depan konservasi.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kapasitas masyarakat agar mampu menghasilkan dan memahami data lingkungannya sendiri.

"Kehadiran FPIK IPB University di Desa Sumber Klampok bersama Biorock Indonesia bukan sekadar mendampingi, melainkan melahirkan citizen scientists atau ilmuwan warga lokal yang memiliki kapasitas ilmiah mandiri," kata Beginer.

Setelah mendapatkan materi, peserta kemudian mengikuti demonstrasi dan praktik lapangan di area restorasi perairan Desa Sumber Klampok.

Di lokasi tersebut, peserta mempraktikkan penggelaran tali transek, pencatatan substrat bentik, serta dokumentasi kondisi koloni karang di bawah air.

Kegiatan berlangsung secara interaktif bersama tim akademisi IPB University dan Biorock Indonesia.

Praktik lapangan menjadi bagian penting karena metode pemantauan terumbu karang membutuhkan keterampilan teknis. 

Peserta tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu menerapkannya ketika berada di lingkungan bawah laut.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada tahapan pengamatan mulai dari menentukan jalur transek, mengidentifikasi kategori substrat, melakukan pencatatan hingga mengambil dokumentasi foto bawah air.

Data yang diperoleh dari pengamatan lapangan tersebut kemudian menjadi baseline data atau data awal bagi pengelolaan restorasi di kawasan tersebut.

Data awal ini penting karena dapat menjadi titik pembanding untuk pemantauan berikutnya.

Jika pengamatan dilakukan secara berkala dengan metode yang sama, perubahan kondisi terumbu karang dapat dilihat dengan lebih jelas.

Desa Sumber Klampok memiliki potensi pengembangan pemulihan ekosistem laut berbasis masyarakat. 

Kawasan pesisir tersebut juga berkaitan erat dengan aktivitas wisata bahari dan kegiatan konservasi.

Karena itu, keberadaan sistem pemantauan yang terukur menjadi penting. 

Data kondisi terumbu karang dapat membantu masyarakat dan pengelola memahami perkembangan kawasan restorasi. 

Pada saat yang sama, informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah pengelolaan berikutnya.

Program Dospulkam 2026 IPB University juga tidak hanya membahas kondisi karang. 

Peserta mendapatkan pemahaman mengenai fungsi ekologis terumbu karang, keanekaragaman biota asosiasi, serta hubungan teknologi restorasi dengan proses pemulihan ekosistem pesisir.

Dengan pemahaman tersebut, konservasi diharapkan tidak berjalan secara parsial.

Restorasi dilakukan, kemudian kondisinya dipantau. Hasil pemantauan menjadi bahan evaluasi, lalu digunakan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Pola semacam itu membuat kegiatan pemulihan ekosistem memiliki dasar data yang lebih kuat.

Tim Dospulkam IPB University yang dipimpin I Wayan Nurjaya diperkuat sejumlah akademisi FPIK IPB University. Mereka antara lain Dr. Inna Puspa Ayu, S.Pi., M.Si. dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Dr. Ir. Nyoman Metta N. Natih, M.Si. dan Nadya Cakasana, S.Kel., M.Si. dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. 

Turut terlibat Dr. Veralianta Br. Sebayang, S.P., M.Si. dari Program Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi serta tim mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University.

Keterlibatan berbagai bidang keilmuan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan ekosistem pesisir membutuhkan pendekatan multidisiplin.

Terumbu karang bukan hanya persoalan biologi laut.  

Ekosistem tersebut juga berkaitan dengan masyarakat pesisir, wisata bahari, ekonomi lokal hingga keberlanjutan sumber daya laut.

Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu kunci agar kegiatan konservasi bisa berjalan dalam jangka panjang.

Program ini sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 14 atau Life Below Water, yang berkaitan dengan upaya menjaga dan memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan. 

Bagi Desa Sumber Klampok, kehadiran metode pengamatan terstandar memberi satu tambahan penting dalam perjalanan restorasi terumbu karang.

Kini, kondisi bawah laut tak hanya bisa dilihat, tetapi juga dicatat, didokumentasikan, dan dibandingkan berdasarkan data. 

Dari sinilah upaya pemulihan terumbu karang punya fondasi yang lebih kuat. Warga mendapat keterampilan, pengelola memperoleh data awal, sementara akademisi dan mitra teknologi dapat terus mendorong pengelolaan ekosistem pesisir yang berbasis ilmu pengetahuan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018