Sabtu, 07 Desember 2019


Tahun 2020, Masyarakat Bisa Budidaya Udang Jerbung

21 Agu 2019, 17:03 WIBEditor : Gesha

udang jerbung atau udang putih ini nantinya bisa menjadi alternatif budidaya masyarakat. Diharapkan, udang asli Indonesia yang dikembangkan melalui program pemuliaan buatan (seleksi breeding) bisa diaplikasi ke masyarakat pada 2020 mendatang. | Sumber Foto:HUMAS DJPB

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Keberhasilan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dalam mengembangkan varietas udang baru, berupa udang jerbung  patut diapresiasi. Mengingat, udang jerbung atau udang putih ini nantinya bisa menjadi alternatif budidaya masyarakat. Diharapkan, udang asli Indonesia yang dikembangkan melalui program pemuliaan buatan (seleksi breeding) bisa  diaplikasi ke masyarakat pada 2020 mendatang.

Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Rahardjo mengatakan, saat ini BBPBAP Jepara sudah memproduksi 20 juta benih jerbung. Dari jumlah tersebut,  sebanyak 12 juta dari indukan buatan (bukan tangkapan dari alam). “Kita targetkan tahun 2020 budidaya udang jerbung benar-benar bisa diaplikatif ke masyarakat. Lalu sebagaimana fungsi balai, setelah pembenihan kami selanjutnya akan lakukan restocking (pemulihan) stok di alam,” kata Sugeng.

Hal yang hampir sama juga diungkapkan Perekayasa Madya dari Balai Besar BBPBAP Jepara, Abidin Nur. Menurut Abidin,  seleksi breeding telah menghasilkan sejumlah induk jerbung Generasi-1 (G-1). Sebagian dari induk tersebut digunakan untuk reproduksi dalam menghasilkan benih calon G-2 pada tahun 2019.

“Kemudian, untuk produksi calon induk G-3 dilakukan melalui pemeliharaan pada bak tertutup dan biosekuriti lebih terkontrol.  Sehingga, setiap generasi udang jerbung yang dihasilkan dapat memiliki performa pertumbuhan benih yang semakin baik sehingga masayarakat pembudidaya dapat melakukan diversifikasi usaha budidaya udang selain windu dan vaname,” papar Abidin.

Abidin menuturkan,  program ini diawali melalui proses produksi nauplius (larva stadium tingkat pertama) dari induk alam dan selanjutnya menghasilkan benih G-1 dan G-2 melalui pemijahan di unit pembenihan.  Benih dari masing-masing sumberdaya genetik dipelihara di tambak melalui seleksi, penjarangan dan pemisahan jantan dan bentina.  Pada periode ini berlangsung minimal 6 bulan untuk mencapai ukuran induk ≥ 40 gram untuk betina dan ≥ 25 gram untuk jantan.

Saat dimintai tanggapannya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, sangat mengapresiasi keberhasilan yang dilakukan BBPBAP Jepara. “Saya bangga atas pencapaian ini, sehingga udang jerbung dapat dijadikan komoditas alternatif bagi pembudidaya ikan karena secara teknis dan ekonomi lebih menguntungkan. Selain itu untuk mengoptimalkan spesies lokal,” kata Slamet.

Menurut Slamet, pemuliaan buatan ini dilakukan karena tuntutan pembudidaya untuk memelihara udang dengan kepadatan tinggi. Pemuliaan buatan ini juga untuk mengantisipasi  tuntutan pembudidaya yang menginginkan pertumbuhan udang dengan cepat dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

“Kami juga berharap, program breeding ini dapat memicu peningkatan produksi udang jerbung nasional melalui usaha budidaya terutama pada level ekstensif atau pembudidaya dengan tingkat teknologi sederhana,” papar Slamet.

Menurut Slamet, apabila dibandingkan udang windu, siklus reproduksi udang jerbung lebih cepat, selain itu tingkat perkawinannya juga tinggi. “Jika siklus reproduksi udang windu perlu satu tahun, udang jerbung diatas enam bulan sudah bisa menjadi induk. Sehingga dengan keberhasilan ini akan meningkatkan ketersediaan induk dan benih udang jerbung ke depan,” pungkas Slamet.

Reporter : INDARTO
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018