Monday, 10 August 2020


Bang Polo Mengajariku Berlari (20)

02 Jul 2020, 06:22 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

TABLOIDSINARTANI.COM

Kamu hidup dengan akalmu

Tulang kakimu itu hanya tongkat

Dunia itu digenggam oleh pikiranmu

Lama sekali Bong membaca surat yang diterimanya siang itu. Surat panggilan untuk bekerja di perusahaan catering besar yang melayani beberapa perusahaan penerbangan dalam negeri. Dia mencoba jujur waktu mengirimkan lamaran. Pengalaman kerja tiga tahun sebagai pembantu di Asrama Mahasiswa.

“Aku tidak perlu malu, seperti itu nasihat Bang Polo.”

“Tak ada pekerjaan yang hina. Di manapun kita bekerja, dan jadi apapun, semuanya adalah berkah. Ingat, kalau kamu bekerja sebaik-baiknya, kamu akan jadi pekerja terhebat. Jadi guru terhebat, jadi pengusaha terhebat, jadi supir terhebat, dan jadi pembantu terhebat. Perjalanan hidup kamu masih panjang. Tetap berusaha dan berdoa,” begitu nasihat Polo waktu dia mengeluh bahwa nasibnya belum beranjak sesudah lulus dari SMK dan mengambil jurusan Akutansi.

BACA JUGA:Nurani Telah Mati (19)

Bong sempat kecewa ketika setahun sesudah lulus SMK tidak juga bisa memperoleh pekerjaan yang layak. Tiga tahun di SMP dan empat tahun di SMK telah melontarkan umurnya menjadi 22 tahun. Setelah dua tahun bekerja di asrama kini umurnya sudah 24 tahun. Umur yang penuh dengan angan-angan dan cita-cita. Banyak keinginan dan harapan. Tapi apa yang bisa diraihnya dengan hanya menekuni pekerjaan sebagai pembantu? Menjadi unta yang bolak balik Makkah-Madinah tanpa jadi haji seperti seloroh temannya?

Lamunannya melayang ke masa delapan tahun yang lalu ketika dia kenal Bang Polo pertama kali. Laki-laki yang tidak bisa berjalan tapi mengajarinya  berlari.

“Aku punya kaki dan tangan lengkap dan sehat, tapi tidak menggunakannya dengan baik karena pikiranku terkekang oleh pikiran yang beku.”

Surat panggilan itu dilipatnya dan didekap di dadanya. Rasa syukur menyelimuti dadanya. Tiba-tiba saja dia teringat amak dan inak-nya. Hal yang tidak pernah dirasakannya selama bertahun-tahun di Jakarta. Mungkin rupanya pun sudah dia lupakan mengingat marahnya yang begitu menakutkan.

 “Apakah doa orangtua sedang berperan kali ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Bong perlu lima kali datang menemui Polo sampai akhirnya Bong memutuskan untuk sekolah lagi. Tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai pengasong, menjual apapun yang bisa dijual di antara mobil dan bus yang hilir-mudik di sampingnya. Tanpa takut. No Fear. Dia seperti sedang mengikuti perlombaan itu sambil tak henti berpikir tentang sekolahnya. Membaca apapun yang bisa dibaca.

“Sesuai seperti yang disarankan oleh Bang Polo. Aku sudah bisa membaca lebih lancar.”

“Aku akan sekolah lagi, Bang. Sekarang apa yang harus aku lakukan,” tanya Bong.

“Apa yang harus kamu lakukan menurut kamu?” Polo balik bertanya.

“Aku harus belajar baik-baik?”

“Terus?”

“Aku harus menabung untuk bayar uang sekolah.”

“Itu kamu pikirkan belakangan. Sekarang Abang ingin kamu berjanji tidak akan berubah pikiran lagi. Tidak putus di tengah jalan.”

Bong diam beberapa saat. Apa yang dikatakan Polo baru saja dipahaminya. Ini keputusan akhir. Tidak boleh berubah lagi.

“Kamu sanggup?”

“Ya, Bang,” katanya pasti.

“Kamu sanggup?”

“Ya, Bang. Pasti. Abang bantu saya, kan?”

“Dibantu atau tidak, kamu harus sanggup. Kita gak tahu kalau kita akan sama-sama terus. Kalau Abang pindah? Kalau Abang mati? Misalnya…”

“Jangan, dong Bang,” Bong meringis.

***

“Aku bisa ngatur waktu, Bang. Pertemuan dan tutorial hanya hari Saptu dan  Minggu  dari jam 10 sampai dengan jam 3 sore.  Aku akan belajar komputer juga. Apa sih tutorial, Bang? ”

“Itu bimbingan. Kalau kamu ada pertanyaan dan ingin penjelasan, tanyakan waktu itu. Banyak tanya, jangan diam. Kamu harus berani. Kalau mau pakai komputer datang aja ke tempat Abang. Jangan sungkan.”

“Terima kasih, Bang. Abang janji untuk bantu aku, kan?”

“Aku janji. Kalau kamu dapat angka bagus, Abang kasih hadiah.”

“Apa Bang hadiahnya?”

“Kamu harus gendong Abang ha ha ha …”

“Kamu jangan tanya hadiah sekarang. Tekadkan dalam hatimu kamu ingin belajar. Apapun yang berguna. Jangan berhenti belajar, sampai tua.”

“Ya, Bang. Ujiannya dua kali setahun.”

“Bagus. Sekarang kamu menjadi murid SMP, jangan lupa itu. Sambil kerja jualan, menjadi asongan. Simpan duitmu baik-baik. Abang bantu cari pinjaman. Tapi kamu harus usahakan bayar. Yang Abang kasih itu hadiah, yang Abang pinjami, harus kamu bayar.”

“Dalam bahasa Inggrisnya, Mere mah mere, Hutang mah hutang,” kata Polo tertawa.

“Ya, Bang.”

‎"Ini Kereta Terakhir, Bong.... Dua kata yang selalu terngiang di telingaku. Hadist Rasulullah mengatakan ‘Tsuma Takuunu Khilafatan 'ala minhajin Nubuwah....’ Artinya ‘Tidak ada kesempatan yang lain setelah itu’. Itu kata saudaraku yang bijak. Semoga kita dijadikan penumpang kereta itu.....‌”

Bong tertunduk. Dia tidak mengerti kata-kata itu, tapi hatinya saat itu begitu terharu. Lama dia tidak peduli dengan ibadah. Kehidupan jalanan telah memisahkan dia dari cara hidup beradab dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Makanya, dari dulu Abang bilang, jangan lupa sholat. Ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Itu perlu dilakukan oleh kita dalam keadaan apapun.”

“Abang mau menolong siapa pun yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Tanpa melihat suku atau agama yang mereka anut. Abang tidak mengharapkan apapun dari kalian. Hanya ingin melihat kalian bisa memperbaiki hidup. Untuk keberhasilan kalian sendiri, jangan lupakan ibadah kalian. Lakukan sebaik-baiknya. Karena semua keberhasilan yang kalian raih itu terjadi karena izin Tuhan.”

Hujan sejuk dan siraman air pegunungan serasa mengguyur tubuhnya. Bong memejamkan matanya merasakan nikmat yang tidak bisa diterangkan dengan kata-kata. Dia seperti sedang berada di puncak bukit bersalju dengan udara nyaman dan bersih. Dia seperti terbang ke angkasa melihat dunia bersama malaikat.   Sesaat dia lupakan kawan-kawannya Boing, Loren, Lele, Jaipong dan lain-lain. Ada keinginan baru yang akan dikejarnya. Yang baru.

“Bang Polo yang jalannya saja susah itu telah mengajariku berlari. Dengan pikiranku, bukan dengan kakiku,” bisiknya.

“Mahasiswa itu hanya seangin lebih hebat dari kalian anak jalanan,” kata Polo suatu hari.

“Dia bisa sangat pintar sehingga mampu menggenggam dunia. Tapi dia bisa terperosok menjadi orang yang mudah dikendalikan. Hanya demo dan hura-hura melupakan tugasnya sebagai manusia.”

(Bersambung ke: Mengejar Angin)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018