Monday, 10 August 2020


Nurani Telah Mati (19)

01 Jul 2020, 12:06 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

TABLOIDSINARTANI.COM - “BANG TOKEK agak kalem akhir-akhir ini. Biasanya galak,” kata si Lele sambil berjalan menuju perempatan Sektor Satu.

“Segitu itu kalem, ya. Lagian dia udah gak minta diloli lagi, ha ha.”

“Ada mainan baru kali. Tuh si Entok pantatnya yang songgeng semakin bergoyang aja sejak dia sering berduaan sama bang Tokek.”

“Lecet kali, ha ha…”

“Lu berani ngomong kalau di belakang dia, ya,” kata Bong.  

“Tapi bang Tokek gak suka sama perempuan. Si Entok sih dibawa-bawa karena ada pesanan.”

“Sok tahu, Lu!”

“Ehhh, Lu lagi. Gua kasih tahu. Cemburu, ya.”

“Ngapain cemburu. Cemburu sama perempuan milik orang se-Republik? Gila, Lu. Gua nih Lele Dumbo yang ganteng, tahu! Ha ha ha….” si Lele mengakhiri perdebatannya sambil pergi mengangkat dagangannya.

BACA JUGA: Nurani Telah Mati (18)

Hari rutin pun mulai. Kendaraan mulai memadat, gulungan asap yang hitam kental menyapu jalan dihembuskan oleh knalpot Metro Mini. Hari masih pagi tapi kesibukan sudah terlihat memadat.

“Segeralah macet,” doa para anak jalanan.

Macet adalah kesempatan. Lampu merah hanyalah waktu yang pendek untuk transaksi, tetapi macet adalah berkah, karena penumpang kesal, haus, perlu cari pelampiasan, sehingga jalan akan berubah menjadi pasar kaget.

“Macetlah ya Tuhan. Dengar doa kami orang yang terlantar.”

Bong terbatuk dan tak bisa menghindar dari debu dan asap mobil, karena masih melayani pembeli kacangnya sambil berlari kecil.

***

KABAR SERAM merebak di antara anak jalanan. Serentetan pembuhuhan kejam oleh seorang pedophil maniak terungkap di Jakarta. Seorang laki-laki setengah baya telah ditangkap dan diadili. Dalam pemeriksaan dia mengakui telah membunuh sejumlah anak yang telah dipaksa dikencaninya. Beberapa mayat anak-anak ditemukan di tempat yang berbeda setelah sebelumnya dianiaya.

Dunia media ramai menyuarakan kekejaman yang terjadi pada anak jalanan. Anak jalanan adalah yang paling mudah jatuh ke tangan manusia yang mengalami kelainan seperti ini. Anak-anak ini sangat mudah diperdaya hanya dengan memberi sesuatu yang nilainya sangat kecil karena mereka didesak kebutuhan. Kehidupan yang dekat dengan maksiat itu mudah menjerumuskan mereka.

Kekejaman itu seakan mudah terkubur oleh berita lain yang susul menyusul. Tidak terlihat upaya spektakuler untuk mengungkap kejadian ini. Beda dengan kasus kejahatan yang menimpa orang terhormat. Biasanya seluruh kekuatan bergerak untuk melakukan penyelidikan sehingga dalam waktu yang relatif singkat kejadian itu bisa terungkap. 

Bong termangu di pinggir jalan. Keadaan di Sektor Satu mengalami perubahan besar. Semua orang merasakannya tetapi anak-anak itu tidak banyak membicarakannya. Kelompok mereka yang tadinya besar, anggotanya banyak, secara perlahan menyusut. Banyak sekali anggotanya yang sudah pindah tempat, bahkan pindah kota. Sebagian pulang kampung dijemput orangtuanya.

Si Caruk yang biasa datang beberapa kali dalam seminggu di Sektor Satu sudah tidak pernah muncul lagi. Demikian juga si Loren. Dia pindah ke kawasan Senen, walaupun kadang-kadang datang membawa kawan-kawannya yang sudah dewasa dan berbadan besar. Sementara pendatang baru, kebanyakan anak-anak yang lebih kecil mulai memenuhi jalan. Mereka umumnya  menjadi joki untuk melewati kawasan “Three in One”. Pakaiannya lebih rapi sehingga pantas untuk menemani pengendara dan penumpang mobil mewah.

Kedatangan si Loren dan kawan-kawannya dari kawasan Senen tidak disukai bang Tokek karena mereka tidak pernah kulonuwun dan tidak mengikuti aturan yang dibuat bang Tokek. Mereka anak-anak yang sudah gede dan tidak pernah merasa jeri pada bang Tokek. Ini semacam penyusupan yang akan mengurangi wibawanya di sekitar Sektor Satu.

Sesudah enam tahun Bong berada di lingkungan itu suasana mulai berubah. Badan si Bong sudah bertambah besar dan tinggi walaupun termasuk kurus. Si Lele juga makin tinggi dan si Loren sudah bergaya pemuda dan banyak cerita tentang perempuan yang dikencaninya setiap minggu.

Sementara bang Tokek yang sejak dulu berperawakan kecil tidak berubah menjadi lebih besar. Hanya bertambah tua. Bang Tokek itu umurnya sudah lebih dari 40 tahun. Pengaruhnya pada anak-anak di Sektor Satu makin lama makin luntur karena anak-anak semakin berani. Tidak lagi jeri sesudah badan mereka lebih besar dari bang Tokek. Apalagi pendatang baru sudah mulai bermunculan. Sebagian adalah pindahan dari tempat lain seperti Senen, perempatan Rawamangun dan Kampung Melayu.

Sesudah enam tahun terlewat dalam pengembaraannya, Bong sudah mengalami begitu banyak kejadian. Dia sudah memutuskan untuk sekolah lagi. Kini ijazah Persamaan SLTP tanpa terasa sudah di tangannya. Dia sangat bangga tetapi sekaligus bingung karena ijazah itu tidak mempunyai dampak apa-apa terhadap pekerjaannya.

Jadi pedagang asongan itu tidak memerlukan persyaratan sekolah. Orang buta huruf dan lulusana SMP, SMA atau perguruan tinggi bisa bersaing di jalanan hanya dengan modal keberanian dan adu fisik. Sekolah tidak menentukan. Tapi ada kebanggaan tersembunyi dalam dadanya ketika selembar kertas itu ditunjukkan sama bang Polo. Hadiah 100 ribu rupiah yang diterimanya dan bang Polo bukanlah uang banyak. Tetapi nilai kebahagiaan yang dirasakan Bong hampir-hampir tak tertampung dalam kedua tangannya.

“Ini adalah 100 ribu rupiah kedua yang mengubah hidupnya di Jakarta. Yang pertama adalah pemberian dari Tuaq Barat, dan yang kedua dari bang Polo,” pikirnya.

Dunia jalanan semakin padat. Tempat strategis yang menghasilkan uang seperti tikungan yang ramai dan tempat memutar kendaraan menjadi rebutan. Kekuasaan selalu dipegang oleh kelompok yang paling kuat. Sesudah tempat itu dikuasai, boss tidak perlu ada di sana menjadi pak Ogah[1] tetapi cukup memberikan perlindungan kepada petugasnya. Pokoknya selalu ada Godfather yang akan melindungi. Dan Godfather atau boss hanya cukup mengutip upeti sebagai jasa pengamanan melalui penggunaan nama besarnya.

Bang Tokek resah karena mulai ada orang yang berani mengutak-atik kekuasaannya. Kawasaan kekuasaannya jadi incaran pendatang baru yang mempunyai kekuatan. Dia mulai menarik simpati anak buahnya dengan cara yang lebih bersahabat. Agar mereka tidak ikut-ikutan berontak. Lahan itu sangat mudah memberikan penghasilan. Dan orang lain mulai mengetahuinya.

Secara perlahan penyusupan terjadi dan orang mulai mencoba mengukur kekuatannya dengan mengganggu kecil-kecilan.

“Makanya dia mulai baik, tidak seperti biasanya,” kata si Lele.

“Gak pernah dia menyapaku dengan cara seperti itu. Ini perubahan besar,” jawab Boing.

“Bener,” Bong menimpali.

Akhirnya sesuatu yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Perkelahian untuk memerebutkan lahan pak Ogah berlangsung di daerah kekuasaan bang Tokek. Dua orang terluka tertusuk pisau dan tiga orang lainnya memar-memar. Segumpal dendam telah ditancapkan disebuah perempatan yang tak pernah sepi dari kesibukan Jakarta.

Bang Tokek tergeletak tak berdaya di rumah kontrakannya. Punggungnya terluka lebar. Sayatan pisau gilette merobek baju dan kulitnya. Darah mengalir sampai membuat bang Tokek terkapar kehabisan darah. Tubuhnya tak bisa bergerak karena sayatan dalam itu mengenai jaringan syarafnya. Perkelahian yang sangat pengecut itu dilakukan serabutan dan keroyokan. Dunia yang mengedepankan kekuatan fisik itu ternyata dibarengi dengan cara licik dan pengecut.

Bong simpati terhadap kejadian yang menimpa bang Tokek. Tapi akhirnya semakin menyadari bahwa itulah yang akan terjadi di dunia jalanan. Cepat atau lambat.

Kini Bong dan kawan-kawannya hidup dalam ketakutan. Mereka tidak ikut-ikutan dalam perkelahian massal itu, tetapi dendam telah disebar di dada anak-anak muda di daerah itu. Dendam itu akan terus berlanjut untuk alasan yang tidak masuk akal.

 

 

(Bersambung ke: Bang Polo Mengajariku Berlari)

 

[1] Orang yang membantu mengatur lalu lintas dengan mengutip bayaran dari pengendara.

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018