Thursday, 06 August 2020


Nurani Telah Mati (18)

30 Jun 2020, 10:28 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

TABLOIDSINARTANI.COM

Dunia melahirkan kearifan di tanah gersang

Membangun kebesaran lewat pengorbanan

Menghancurkan dengan pembiaran

Dunia anak langit seperti sedang kiamat di kawasan Sektor Satu. Semua pahlawan cilik sedang berkabung.

Kejadian yang menyedihkan berlangsung berturut-turut tanpa memberi kesempatan jeda sedikit pun.  Hari berlalu tanpa meninggalkan apapun bagi Bong dan kawan-kawannya. Tak ada yang tersisa buat bekal hidupnya, apakah bekal harta, cinta, pengalaman, pelajaran atau apapun yang pernah muncul dalam impian. Hidup itu dijadwal jam demi jam, hari demi hari untuk melakukan kegiatan yang sama dan selalu yang membosankan.

“Sebetulnya sangat menyakitkan,” pikirnya.

“Tapi karena terus terjadi setiap saat, kesakitan tidak lagi dirasakan. Karena seluruh badannya sudah kebal. Nyamuk pun sudah tak mau lagi menghisap darahku,” kata Bong kepada dirinya sendiri.

BACA JUGA: Kutukan Sang Nasib (17)

Mereka tidak sadar kalau sebenarnya jiwanya sudah mati rasa. Perasaan manusia selembar demi selembar lepas menguap menyisakan raga kasar yang semakin buta hati. Tapi tak urung hatinya tersentuh. Kesedihan sempat mampir beberapa menit ketika kawannya yang selalu gembira mati. Mati meninggalkan mereka yang masih dalam kehidupan tak menentu.

Menurut mereka, istilah ‘mati’ lebih cocok karena kata ‘meninggal’ itu berarti ada yang ditinggalkan semisal anak, orangtua, atau jasa dan pengalaman yang bisa jadi pelajaran buat sesama. Tapi bagi mereka mati hanyalah persoalan mencapai batas, ketika hidup harus berakhir. Mati adalah berhenti hidup. Pas seperti hidup yang sedang dialaminya.

Si Calung penggembira yang bisa memainkan gitar itu mati dalam tidur sesudah sakit beberapa hari. Badannya melingkar, lututnya hampir bersentuhan dengan dadanya, pertanda bahwa bahwa sebelum mati dia menderita kedinginan. Selama beberapa hari badannya panas tinggi, menggigil disertai batuk yang ngohkoy[1].  Mukanya pucat dan tidak mau makan.

Lele dan Bong menyisihkan uangnya untuk membeli makanan yang lebih baik buat kawannya yang sakit ini. Karena buat mereka, sakit itu punya konsekuensi besar. Sakit itu sangat berpeluang besar berlanjut menjadi mati. Sakit berarti tidak bisa bekerja, berarti tidak mempunyai uang, berarti tidak bisa makan, berarti semakin sakit, dan berarti berpeluang besar untuk mati.

Tidak ada kaitan antara sakit dengan berobat karena kalau sakit mereka tidak akan berobat. Dibiarkan saja sampai sembuh sendiri. Berobat itu memerlukan uang. Dan sekali berobat, yang belum tentu bisa langsung sembuh itu, memerlukan uang hasil 5 hari mengasong. Itu tidak masuk akal. Tapi untuk makanan si Calung yang sedang sakit, kawan-kawan baiknya rela menyediakan makanan dengan ikhlas.

Makanan sudah tersedia tapi si Calung tetap tidak mau makan. Selera makannya hilang. Dari badannya keluar bintik-bintik merah seperti digigit beribu-ribu nyamuk.

“Kamu makan dulu Lung, supaya badanmu kuat. Aku gak mau kamu mati muda,” kata Bong bergurau sambil menyodorkan nasi putih dengan dua potong ayam goreng.

“Aku sudah tua Bong. Siapa bilang aku muda. Semua orang di Sektor Satu ini sudah bosan melihatku memainkan gitar dan ngasong, he he…” katanya lemah.

“Ukuran tua itu bukan umur, tapi kebosanan. Kalau aku sudah bosan, muak, dengan pekerjaan ini, maka lebih baik pekerjaan itu aku tinggalkan,” katanya, tiba-tiba dia pintar berfalsafah.

Senyumnya masih membentang walaupun badannya menggigil. Rahangnya bergerak-gerak dan mulutnya bergetar. Matanya menyipit dan ujungnya mengedip kecil. Gitarnya disandarkan ke dinding bangunan tua. Angin sore yang agak ramah mengalir lewat pintu dan jendela yang terbuka tak berkaca. 

Sudah beberapa bulan mereka tinggal di bangunan yang terbengkalai itu. Mereka selalu mengatakan bahwa bangunan itu hotel bintang lima. Sangat nyaman dibandingkan dengan kolong jembatan layang. Lagi pula tidur di sana tidak ada yang melarang. Polisi tidak akan mengusirnya karena tidak ada seorang pun yang keamanannya terganggu.

“Percaya sama aku, kamu nggak kelihatan pintar dengan ngomong ngaco kayak begitu. Kaya orang bingung. Kalau mau mati jangan bikin bingung orang, ya. Macem-macem aja kamu, ha ha..”

“Kamu harus ke dokter barangkali, Lung. Tuh badanmu penuh dengan bintik merah. Kayak digigit nyamuk. Jangan-jangan kamu kena demam berdarah, kayak si Jingkok yang pulang kampung diambil orangtuanya,” sambung Lele.

“Sok tahu, emangnya kamu dokter? Kenapa kamu pikir itu demam berdarah?” potong bang Tokek.

“He he.. Bang. Abis dia demam, terus ada bintik-bintik merah seperti darah… Aku pikir apalagi kalau bukan demam berdarah. Lagian, cuma itu penyakit yang aku tahu, karena sering disebut-sebut di koran bang Dewa,” jawab Lele sekenanya.

“Ah, kamu kan sudah tahu kalau kamu ngidap macem-macem penyakit. Sok sehat, Lu. Tuh koreng sama kurap di badanmu. Apa itu bukan penyakit?”

“Siapa tahu si Calung kena malaria. Kan di sini banyak nyamuk?” sahut yang lain.

“Sudah! Kalian ngaco semua,” bentak bang Tokek.

“Heh, Calung, dengerin aku, nih. Jangan percaya kalau kamu sakit. Itu hanya pikiranmu. Hayo bangun. Kamu biasanya kuat. Jangan manja. Sakit kamu akan hilang kalau kamu berpikir bahwa kamu sehat,” kata bang Tokek memberi semangat.

“Kalian kasih makan dia yang bagus. Hidup harus gotong rotong kata Bung Karno juga.”

“Abang kenal dia, Bang?”

“Siapa? Bung Karno? Semua orang juga tahu. Semua presiden aku tahu. Kamu pikir aku bodoh? Kita semua wajib tahu presiden kita. Mereka presiden kita. Makanya aku larang kalian menghina presiden.”

“Tapi dia nggak kenal Abang, ya.”

“Ya nggak dong. Kamu gila. Kalau presiden ngapalin orang se-Republik, kapan dia bisa kerja? Mereka harus kerja keras seperti kita,” katanya.

Sore itu bang Tokek sengaja menyempatkan menengok Calung. Dia suka sama Calung yang pintar bercanda dan menyanyi. Lagu ‘Anak Jalanan’ yang menyentuh ciptaan kawan mereka sendiri wajib dihafal oleh semua grupnya tak terkecuali. Tapi hanya si Calung yang bisa menyanyikannya dengan baik. Diiringi gitar pula. Makanya dia agak banyak dapat duit setiap harinya. Bang Tokek pun kebagian rezeki setoran paling besar dari dia.

Bong meninggalkan makanan yang belum disentuh si Calung sejak siang. Sebotol air kemasan juga dia letakkan di samping kawannya itu.

“Siapa tahu malam-malam dia lapar. Biarkan makanan itu tersedia di sampingnya,” pikirnya.

Tapi malam terlewat begitu saja. Di malam yang dingin itu, tidak ada yang tahu ketika malaikat Izrail mengangkat nyawanya, menghentikan penderitaan dunianya. Calung sudah meninggal dan tubuhnya mengejang ketika adzan shubuh berkumandang.

Lele berteriak keras ketika bangun pagi. Semua kawannya berkumpul menyaksikan pemandangan yang mengharukan. Calung melingkar memeluk bahunya. Tangannya memegang dompetnya yang lusuh. Di dalamnya ada secarik kertas Surat Jalan dari desa yang ditandatangani lurah di desanya yang sudah menguning karena tua. Tertulis di sana nama, umur, dan alamat.

Ada uang 12 ribu rupiah dan foto dua orang tua, yang diperkirakan adalah orangtuanya. Dompet itu dipegangnya seolah tanda permintaan tolong agar kepergiannya diberitakan kepada orangtuanya.

“Oh, jadi nama si Calung itu Galuh. Aku baru tahu sekarang,” kata Lele.

“Orang Garut dia.”

“Tapi namanya terlalu bagus buat jadi pengasong. Galuh. Waw. Itu kan nama wayang.”

“Bukan nama wayang itu nama kerajaan di Jawa Barat, goblok,” sergah bang Tokek.

“Kenapa kamu pikir nama wayang?” Bong bertanya.

“Aku sih karena lihat matinya seperti sedang nyembah kayak wayang, ha ha …”

Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Tak ada kesedihan berkepanjangan dalam dunia jalanan dan asongan. Karena mati adalah kejadian sehari-hari. Dan hidup mereka begitu dekat dengan kematian. Polusi, kecelakaan lalulintas, kejahatan, pemerasan, dan ancaman adalah bunga kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. Di dunia mereka, nurani sepertinya sudah mati.

“Nama gak penting. Cuma bikin kagok aja di sini. Mau raja kek, mau raden kek, mau apa aja, di sini disulap jadi pengasong, dan bang Tokek penguasanya. Kalian ingat itu.”

“Aku sudah mengira dia orang Sunda. Kalau ngomong  ‘P’ sama ‘F’ suka ketuker melulu,”  tambah si Loren.

“Ahhh.. kau, kayak anak sekolahan aja. Tahu ‘F’ sama ‘P’. Sana Lu, kerja lagi. Tuh dagangan Lu udah nunggu. Lapar gak bisa nunggu. Biar aja si Calung ada yang ngurusin,” kata bang Tokek.

“Polisi sudah menelepon rumah sakit, sebentar lagi dia dibawa ke sana.”

“Di mana dia akan dikuburkan, Bang?”

“Bukan urusan Lu. Mereka lebih tahu dari Lu. Mereka lebih pintar, makanya jadi Polisi, jadi Dokter, jadi Insinyur. Gak jadi pengamen dan asongan kayak Lu. Ngarti?” bang Tokek berpura-pura galak.

“Seribu tahun lagi si Calung bakal jadi berlian. Ha ha…”

Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Tak ada suasana kematian di kalangan anak jalanan. Mati adalah sesuatu yang biasa, karena setiap hari ada orang mati di jalanan Jakarta.  Obrolan tentang si Calung sudah berhenti begitu mereka membubarkan diri dari hadapan jasad membeku itu. Selesai. Tak ada sisa emosi yang biasa melekat kalau ditinggal seorang kerabat.

“Kalian harus mengucap Innalillahi wa inna ilaihi roji’un kalau ada orang yang mati,” kata bang Tokek.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” sahut mereka hampir bersamaan.

Mereka pun bubar bersamaan meninggalkan jasad yang sudah kaku tanpa perasaan duka. Polisi sudah datang dan ambulans meraung dan mengedip-ngedipkan lampu merahnya.

Lagu ‘Impian Anak Jalanan’ yang biasa dinyanyikan si Calung dengan gaya dangdutnya samar-samar menyelinap ke telinganya. Bong berjalan menunduk mengenang si Calung yang gembira dan tidak peduli pada keadaannya.

“Dia tidak peduli nasibnya. Hidup baginya memang begitu. Masing-masing pasrah dengan takdirnya,” katanya mengenang.

Suara si Calung seolah mengikuti langkahnya.

 

Kau mampu patahkan sayapku

Kau mampu tambatkan kedua kakiku

Tapi kau tak akan dapat

Mematahkan semangatku untuk hidup

 

Lampu neon di gedung indah

Hanya pemikat mata yang tergoda

Tapi aku kan tetap berjalan

Menuju tujuanku di sana

 

Berdendang anak jalanan

Berdendang dengan rentak kehidupan

Ku mohon perlindunganMu yang Esa

 

Aku dan mereka sama

Punya hati dan punya cita-cita

Kota ini tempat ku belajar arti hidup

 

Ku tinggalkan kampung halaman

Ku tinggalkan semua yang ku sayang

Demi masa depan yang cemerlang

Semoga ku diberi pedoman

 

 

(Bersambung)

***

 

 

[1] Batuk yang terus menerus tanpa henti

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018