Thursday, 06 August 2020


Kutukan Sang Nasib (17)

29 Jun 2020, 06:43 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

TABLOIDSINARTANI.COM

Bagi yang tak punya pilihan 

Berpikir adalah kerugian

Karena logika sudah mati

Kalah tak ada bedanya dengan Takdir

Ketidakpastian adalah sesuatu yang pasti terjadi di dunia nyata. Tetapi seperti statistika mengatakan, semakin tinggi tingkat ketidakpastian semakin kecil peluang untuk munculnya satu kejadian. 

Kehidupan selalu menghadapi ketidak-pastian, tetapi kehidupan jalanan adalah dunia dengan ketidakpastian yang tinggi. Apakah besok dia masih ada di simpangan Sektor Satu, apakah besok masih bisa makan, apakah besok akan memperoleh penghasilan?  

Mereka datang ke dunia jalanan bukan karena memilih, tetapi terlempar. Kalau bisa, mereka akan berontak. Tetapi manusia-manusia penghuni jalanan yang umumnya muda usia itu tidak mungkin berontak karena mereka tak bisa menolak. Jawaban terhadap tuntutan hidup jangka pendek agar bisa meneruskan hidup esok hari itu tidak bisa ditunda-tunda.

“Betul, Bang. Kawanku si Sawitri akhirnya terpaksa menerima nasib. Sesudah dipaksa oleh boss, dia jatuh ke pelukan seorang buaya tua,” kata Bong dalam diskusi dengan mahasiswa teman Polo.

“Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Jangan-jangan dia sudah pindah ke kota lain,” sambung Bong.

Pelacur anak jalanan semakin marak. Mereka terancam berbagai dampak psikologis dan penyakit. Laki-laki maupun perempuan jalanan, rentan terjerumus ke dunia pelacuran, dengan iming-iming murah dari para maniak. 

Dalam keadaan hidup terancam mereka pun dijual oleh para pimpinan geng dan diperas habis-habisan. Para pedofil menemukan lahan surga untuk melampiaskan nafsu setannya di sini. Lagi-lagi kemiskinan menjadi pemicu terjadinya kasus-kasus kekerasan tersebut.  Rendahnya pengetahuan tentang bahaya seks bebas dan tekanan ekonomi mengakibatkan mereka sangat permisif terhadap hubungan seksual bebas. 

BACA JUGA: Lagu Anak Jalanan (16)

Mereka rentan terhadap tertularnya penyakit menular seksual karena berganti-ganti pasangan. Kehidupan jalanan yang keras juga menimbulkan kekerasan terhadap anak jalanan yang dilacurkan, seperti kekerasan fisik dan seksual yang seringkali dilakukan oleh sesama anak jalanan. Bahkan tidak jarang dilakukan oleh aparat keamanan. 

Kemiskinan menjadi pemicu utama turunnya mereka ke jalan. Tetapi bagi yang punya kekuasaan, kekerasan terhadap mereka adalah akibat rendahnya moral orang-orang yang ditugasi untuk menjaganya. Kekerasan seksual sampai pembunuhan yang menimpa anak jalanan seakan tidak diungkap secara tuntas, seakan nasib anak-anak jalanan selama ini nasibnya terabaikan. 

Kehidupan anak-anak semakin menyedihkan, dan anak jalanan kian meningkat jumlahnya. Krisis ekonomi dan moral merupakan pemicu, tapi hukum tidak memberikan jaminan kepada mereka untuk terentas dari keterpurukannya. Berbondong-bondong anak-anak dari keluarga miskin memenuhi jalanan. Baik dari kota setempat, dari kota lain terdekat, atau dari propinsi lain.  

Keadaan kota mengundang maraknya anak jalanan. Kota yang berpenduduk padat, bergelut dalam kemiskinan, kekerasan dalam rumahtangga dan keluarga bermasalah lainnya telah membuat anak kurang perhatian, kurang gizi, kurang pendidikan, kurang kasih sayang dan kehangatan jiwa, serta kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya.  

Di antara anak-anak jalanan, sebagian ada yang sering berpindah antar kota. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. 

Seorang anak yang terhempas dari keluarganya, lantas menjadi anak jalanan disebabkan oleh banyak hal. Penganiayaan kepada anak merupakan penyebab utama anak menjadi anak jalanan. Penganiayaan itu meliputi mental dan fisik mereka. 

Mereka merupakan korban berbagai penyimpangan mulai dari kekerasan di rumah, di antara sesama anak jalanan dan bahkan korban oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. 

Mereka perlu diberdayakan tidak hanya dalam bidang eknomi, tetapi dibidang pendidikan, moral, keadilan dan jaminan hukum. 

Pemerintah sudah berinisiatif membangun ‘Rumah Singgah’ dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, tetapi itu saja tidak cukup. Cara pandang masyarakat yang cenderung memandang rendah para pengasong dan anak jalanan itu harus pula berubah. Seharusnya mereka turut membantu anak-anak itu dengan penuh cinta kasih. 

Programnya sudah sangat banyak dan namanya macam-macam dan memikat. Pendidikan, bimbingan belajar, bimbingan agama, dialog, wirausaha, seni, kelompok bermain dan lain-lain. Tetapi kesemuanya itu menuntut komitmen tinggi dari semua pihak termasuk masyarakat. Itulah makna yang berlebih membantu yang kekurangan. Tidak hanya membantu dalam bentuk harta tetapi juga dalam bentuk perhatian dan kasih sayang.

Polo tak berhasil mengurai benang yang sudah kusut dan tak tahu lagi di mana ujung dan pangkalnya. Lingkaran permasalahan itu sudah menjadi semakin besar dan menjerat siapa pun. 

(Bersambung ke: Nurani Telah Mati)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018