Saturday, 15 August 2020


Mengejar Angin (21)

03 Jul 2020, 16:29 WIB

Novel Memed Gunawan - Bong Anak Anak Langit | Sumber Foto:Ahmad Soim

BONG...paling tidak suka ditanya masa depan karena dia terlalu sibuk menjalani hari-harinya yang panjang. Yang ingin dilakukannya tiap hari adalah bagaimana menjinakkan matahari supaya sengatnya tak lagi melepuhkan punggung dan telapak kakinya

 

TABLOIDSINARTANI.COM

Zubair bertanya kepada Wakil-Wakilnya

“Siapakah yang membuat aku miskin?”

“Siapakah yang mengantar aku ke tempat sini?”

“Akukah?”

“Atau Tuankah?”

Manusia dikaruniai rezeki berbeda-beda. Itu adalah bagian dari iman kepada taqdir yang telah digariskan Tuhan. Tapi Rukun Islam menegaskan kewajiban semua umat manusia untuk berbagi, dengan semua umat lain. Istilah ‘Kurang Beruntung’ yang dibuat manusia adalah ungkapan yang keliru, karena hakekatnya di mata Tuhan keberuntungan tidak dinilai dari tebalnya harta dan kekayaan duniawi. Tapi tegas disebutkan bahwa yang mempunyai harta berlebih wajib menyantuni yang kekurangan, yatim piatu dan fakir miskin. 

Fadzaalikal ladzii yadu’ul yatiim. Wa laa yahudhdhu ‘alaa tha’aamil misqiin.

Fakir  miskin dipelihara oleh negara adalah undang-undang, tetapi kemampuan bisa saja terbatas sehingga anak-anak miskin terpaksa tumpah ke jalan. Terjadinya anak jalanan adalah akibat kemiskinan dan oleh karena itu penanganannya tidak terlepas dari kaitan dengan kemiskinan. Hak anak-anak untuk mendapat pendidikan, jaminan kesehatan, makanan bergizi dan perlindungan dari kekerasan masih terabaikan. 

“Tapi kita hanya bicara kemiskinan dalam arti pendapatan. Miskin itu bisa sangat luas pengertiannya,” kata Safina.

“Ya, aku tahu. Masih banyak miskin yang lain seperti miskin ilmu, miskin pengalaman, miskin perasaan dan miskin-miskin lainnya.”

“Betul. Mari kita bicara sekarang Kemiskinan yang Non Pendapatan seperti yang disebut-sebut oleh Bank Dunia.”

“Yang jelas Bank Dunia yang banyak bicara kemiskinan itu tidak miskin. Pegawainya kaya raya. Cerita kemiskinan di hotel mewah yang dibiayai negara miskin peminjam utang dari mereka ha ha ha….,” Polo tertawa terbahak-bahak.

“Mengentaskan kemiskinan tidak harus oleh orang miskin, kan?”

“Tidak harus, tetapi sedikitlah tahu diri.”

“Mereka kan kerja di belakang meja, tak pernah melihat dan merasakannya dengan hati sanubarinya.”

“Otaknya yang dipakai, ya.”

“Mungkin melihatnya harus lebih komprehesif, tidak hanya dengan otak tetapi juga dengan hati dan perasaan. Mereka perlu pendekatan yang tidak hanya rasional tetapi dengan kasih sayang.”

BACA JUGA: Bang Polo Mengajariku Berlari (20)

“Itu ada kaitannya dengan keikhlasan, ya.”

“Persis.”

“Menurutku, kemiskinan non-pendapatan itu penting dijadikan ukuran karena lebih masuk akal, dan mencakup aspek yang riel di masyarakat. Harus diperhitungkan masalah pendidikan, kesehatan, gizi, infrastruktur dan lain-lain. Dan juga sikap masyarakat.”

“Kalau sikap masyarakat terhadap kaum miskin itu hanya empati tidak disertai upaya nyata, atau ukuran kemiskinan yang dipakai sangat sempit, maka pengentasan kemiskinan itu susah dicapai. Kita harus memberdayakan, tidak hanya memberi dalam bentuk charity,” sambung Polo.

“Itu seperti mengejar angin. Nggak jelas apa yang dikejar dan tidak bisa diukur, sudah sampai di mana kita kejar?”

“Lagi pula, kalau kemiskinan hanya diukur dengan pendapatan, orang miskin yang dapat BLT bisa langsung dikategorikan tidak miskin, ya. Itu bisa mengelabui kita sendiri. Kita sudah puas karena sistem dibuat untuk memuaskan kita. Itu onani namanya.”

“Kamu yang onani. Aku gak pernah ha ha..”

“Aku juga cuma sekali-sekali kok. Dari pada disalurkan ke tempat yang salah. Tidak berbahaya seperti onani tentang kemiskinan.”

“Maksud kamu lebih baik mati di tangan dari pada mati di lubang?” ejek Safina.

“Ha ha ha….. Kamu sudah pintar rupanya. Dari siapa kamu belajar, hah? Jauh-jauh disekolahkan ke Amerika, kok belajar onani, ha ha….”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. 

Fasilitas pendidikan semakin menurun dan sistem pendidikan membuat sekolah berlomba mengejar status yang tidak bisa dimengerti akal sehat. Banyak sekolah yang berbisnis, mengejar keuntungan, lupa akan tugas utamanya yang mulia: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Yang dinilai adalah angka yang seringkali membabibuta sehingga melupakan esensi dan tujuan pendidikan: Membangun Manusia Seutuhnya. Yang sehat, yang semangat, bekerja keras, tak henti belajar dan berpikir untuk menjadi orang yang lebih baik. 

“Caranya tidak bisa sepihak, harus dari berbagai sisi. Harus ada program pemerintah yang memberdayakan, peran masyarakat dan keinginan yang kuat dari mereka untuk memberdayakan dirinya sendiri.”

“Ini contoh yang sangat nyata. Lihat anak-anak jalanan itu. Apakah mereka mampu menolong dirinya untuk melepaskan dirinya dari kehidupannya sekarang, bahkan dengan bantuan pemerintah sekali pun? Menurutku sangat berat kalau sikap dan cara pandang mereka terhadap hidupnya seperti itu. Mereka harus menyadari bahwa kehidupan mereka bisa berubah. Pendidikan bagi mereka itu sangat diperlukan.”

“Kamu dengar kan si Lele dan kawan-kawannya, bagaimana menganggap kehidupannya sekarang?”

“Ya, sudah merasa nyaman dalam standar hidup yang sangat tidak layak. Kalau standar yang mereka pakai seperti itu, upaya mengentaskan mereka menghadapi tantangan yang berat.”   

“Mereka tidak mampu menggerakkan kesadarannya. Mereka mengganggap bahwa keberadaannya di jalanan adalah sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Tuhan sehingga mereka hanya menerima dengan sabar.” 

“Makanya aku ingin mereka sekolah dan terus belajar.”

“Itupun hanya bagian kecil dari solusi untuk mengentaskan mereka dari keterpurukannya, Fina. Mereka memerlukan bantuan dan uluran kasih sayang di samping usaha mereka sendiri. Semua yang buruk ada di lingkungan mereka dan mencekeram mereka. Kita hanya melihatnya seolah-olah semua ini karena kesalahan mereka. Padahal semua ini adalah kesalahan sistem besar yang tidak berjalan dengan baik. Sebagian adalah kesalahan kita. Mungkin indikator yang kita pakai sebagai keberhasilan itu yang tidak benar.”

Keduanya termenung dan diam. Gemerlap kota besar hasil pembangunan fisik dan ekonomi yang terus berlangsung secara perlahan telah menyulap ketenangan dan kedamaian sebuah kekosongan menjadi karut marut kegelisahan dalam kepadatan. 

Perlombaan manusia di dalam mencapai keinginannya telah membuat sebagian orang tersisihkan dan terpinggirkan. Kelompok yang tersisih hanya menempati kulit luar keberhasilan pembangunan sebuah negeri. 

Tangannya menggapai-gapai untuk meraih kebutuhan yang semakin susah untuk didapat. Untuk memperoleh sesuatu yang besar, diperlukan upaya yang lebih dan kemampuan yang baru. 

Keadaan sudah berbeda dengan yang dihadapi oleh generasi sebelumnya. Lapangan kerja saat ini menuntut manusianya menguasai keterampilan yang berbeda karena teknologi sudah berubah. Jika kaum tersisihkan ini tidak mampu menguasai kepintaran baru itu, maka hanya kesempatan pinggiranlah yang dapat mereka raih. Mereka tercampak ke jalanan dan tempat buruk lainnya.

  Di balik keberhasilan dan indikator perekonomian, ternyata angka gizi buruk tetap tinggi dan bahkan meningkat pada tahun-tahun terakhir. Kesehatan ibu dan anak masih ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain. Ada keterpurukan dan masalah besar yang menghadang dalam menghadapi tantangan ke depan yang tersembunyi di balik gemilang yang selama ini selalu diagungkan. 

Angka kematian ibu dan bayi masih tinggi, bahkan paling tinggi di kawasan Asia dan baru 72 persen persalinan dibantu oleh bidan terlatih. 

Air bersih menjadi barang yang semakin mahal, tidak hanya karena kebutuhannya meningkat tetapi juga karena sumbernya semakin berkurang dan kualitasnya semakin menurun. Penggunaan yang semena-mena telah menguras cadangan air dalam tanah sehingga daerah pantai di kota besar semakin disusupi air laut. Penggunaan air besar-besaran telah diberikan kepada sesuatu yang tidak prioritas yang tidak melibatkan kepentingan publik. Hotel mewah dan lapangan golf memompa air tanpa mengikuti aturan kelestarian sumberdaya.

Demikian juga di bidang pendidikan. Kualitas sarana semakin terpuruk. Gedung sekolah negeri tersingkir ke tempat-tempat pinggiran dan sudut kota dan dengan kualitas bangunan yang rendah. Hanya sekolah yang berbiaya mahal yang mempunyai fasilitas yang lengkap. Kelompok penduduk miskin terpuruk di sekolah berkualitas rendah. Angka presentase lulusan SD yang melanjutkan ke sekolah menengah masih rendah sementara hasil pendidikan masih belum memadai karena kualitas guru juga masih rendah.

“Apa yang kamu pikir harus dilakukan oleh negara kita untuk mengatasi semua ini?” tanya Safina sesudah terdiam beberapa lama.

“Aku pikir manusianya.”

“Siapa manusianya?”

“Yang mengurusi negeri ini. Mereka harus mendasari setiap langkah dalam membangun negeri ini dengan kasih sayang, keinginan untuk memberdayakan dan mendahulukan kepentingan publik.”

“Yang namanya pro poor itu?”

“Ya, betul. Konsepnya sudah ada, kita menunggu hasilnya. Tapi kita tidak harus menunggu. Kita sebagai individu sudah bisa mulai. Bisakah kita lebih peduli?”

“Betul. Anak-anak jalanan itu tidak hanya menderita lahir tetapi juga menderita batin karena kita yang seharusnya bagian dari solusi, bahkan menjaga jarak dan  memandang mereka sebagai kelompok yang harus dijauhi.”

“Jangan salahkan mereka kalau akhirnya mereka jadi keras, tidak peduli dan dibesarkan dalam genggaman orang-orang yang jahat di sekitarnya.”

“Mudah-mudahan mereka bisa tergugah jiwanya untuk peduli. Supaya hidup jadi lebih bermanfaat. Tidak hanya peduli dalam ucapan atau motto yang tidak berisi,” harap Polo. 

(Bersambung ke: Tuaq Barat)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018