Saturday, 19 September 2020


Setitik Cahaya (28)

06 Aug 2020, 10:03 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Tanpa peduli dengan tatapan yang tajam seisi sekolahnya, dia kembali ke SMA-nya mengulang di kelas tiga. Ruangan kelas itu masih tetap sama.  Meja dan kursi, papan tulis dan jendela sekelilingnya tidak berubah.  Cat temboknya abu-abu muda, warna yang sejuk. Tidak melelahkan mata. Jendela dan pintunya bercat putih, semuanya meninggalkan kenangan yang mendalam buat Andre.  Yang beda adalah suasananya, orang-orangnya, pandangannya, senyumannya yang dingin dan serba ragu-ragu.  Suasananya sekarang tidak menggembirakan.  

Tidak ada cahaya yang menerangi hatinya untuk mencurahkan kegembiraan. Semuanya dingin. Termasuk guru yang dulu sangat senang berbicara dengannya, sekarang dia menyapa pada saat terpaksa saja. Ini buat Andre adalah hukuman yang teramat berat.  Sampai terpikir bahwa hidupnya sudah berakhir dan merasa tidak berarti lagi.  Masih untung ayahnya tetap memberi semangat seperti dulu.  Seorang ayah sejati yang pernah dia sakiti, tetapi ternyata dia tetap tidak berubah dan terus memberikan kasih sayang dan perhatian. Ayahnya selalu memaafkan semua yang telah diperbuatnya, tidak peduli kesalahan yang menyakitkan dan membuat ayahnya mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Ayahnya ibarat telaga yang luas yang selalu menyediakan air bening dan dingin untuk meredakan semua keresahan dan membersihkan kotoran. Semuanya menjadi sejuk dan bersih kembali.  Telaga yang sangat luas seakan tak bertepi. Yang tak henti memberikan kenyamanan, perlindungan dan keteduhan.

Dalam lima bulan terakhir Andre tidak lagi memakai obat apa pun. Dia merasa sudah terbebas dari keinginan untuk telibat lagi dalam kehidupan yang kelabu itu. Kelabu barangkali kurang tepat menggambarkan kehidupan masa lalunya. Seharusnya sesuatu yang gelap, pekat dan menjijikkan yang telah melumuri tubuhnya dari ubun-ubun sampai ujung jari kakinya, sehingga dia tidak mampu mengendalikan pikiran sehatnya.  Dia seperti tidak berakal, mirip binatang, yang hanya mengumbar nafsu tanpa sedikit pun akal sehat mengendalikannya.  Kesadarannya ada pada titik nadir, dan bahkan tidak layak disebut kesadaran karena yang dia lakukan adalah perbuatan setan.

BACA JUGA: Setitik Cahaya (27)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

“Andreee ... kamu melamun,” bisik ibu Surbakti yang tiba-tiba telah berdiri di sampingnya. 

Sapaan lembut itu hampir tidak terdengar oleh murid lain, tapi sangat mengejutkan buat Andre. Panggilan ibu gurunya itu mengembalikan kesadarannya.

“Maaf, Bu,” jawab Andre.

“Nanti temui ibu di kantor pada jam istirahat, ya,” katanya lagi.

Andre mengangguk. Dia malu setengah mati mendapat sapaan lembut dari ibu gurunya itu.  Ibu Surbakti adalah guru IPA yang genius dan sangat disegani.  Dia lulusan Fakultas MIPA di Institut Pendidikan Bandung.  Seorang guru yang sangat pandai dan banyak disukai oleh murid-muridnya.  Semua murid hormat padanya.  Ibu guru yang usianya sekitar lima puluhan itu sukar dicari tandingannya.  Dia banyak membantu muridnya yang ketinggalan dalam pelajarannya melalui pelajaran tambahan atau bahkan muridnya diundang datang ke rumahnya untuk diberi penjelasan.

“Ayo sini masuk Andre, duduk di sini,” kata ibu Surbakti sambil menggeser kursi yang ada di sebelahnya ketika Andre masuk ke kantornya.

Andre duduk dengan pandangan setengah takut dan setengah malu. Matanya hanya sekejap saja melihat muka gurunya, sesudah itu dia lebih banyak menunduk, memperhatikan lantai.

“Andre, ibu ingin bicara panjang sebenarnya, tetapi waktu kita tidak memungkinkan.  Kamu dengarkan kata-kata Ibu, tidak usah memberi komentar atau jawaban. Dengarkan dengan baik, lalu pikirkan dan renungkan di rumah, ya,” kata ibu Surbakti.

Andre diam dan mengangguk

“Ibu senang sekali kamu sudah kembali ke sekolah dan mau belajar kembali.  Ibu sangat bangga, Ibu rasa orangtuamu juga sangat bangga,” katanya sambil punggungnya disandarkan penuh pada punggung kursinya.

“Tinggal satu hal yang kamu harus lakukan.  Kamu harus bangga sama dirimu sendiri. Jangan menghukum dirimu dengan terus-menerus memikirkan seluruh kesalahan masa lalumu. Tak ada orang yang lepas dari berbuat salah. Yang terpuji adalah orang yang menyadari kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki dirinya. Lakukan upaya memperbaiki dirimu dengan sebaik-baiknya. Ambilah hikmah dan belajar dari masa lalumu. Perdalam apa yang baik dan kamu sukai.  Dan berdoa. Nah, nanti kamu kembali ke rumah, renungkan baik-baik apa yang harus kamu lakukan buat dirimu, dan besok datang ke sekolah dengan semangat baru.  Ingat kata-kata ibu. Lakukan yang terbaik buat dirimu. Kamu harus bangga sudah sangat berhasil dengan musikmu, kamu harus bangga karena menjadi seorang murid yang pintar. Jangan ragu, jangan pikirkan masa lalu yang pernah meresahkan kamu. Mulai dari titik ini, temukan kembali kehidupanmu itu. Janjilah sama dirimu, bukan sama ibu, ya!”

  Nasihat itu pendek, tidak ada petatah-petitih. Andre pulang ke rumah membawa cahaya semangat dan tekad. Lilin kecil dalam kepalanya menyala menerangi kegelapan.  Belum terang benderang, tetapi ini adalah awal kembalinya semangat menjadi Andre yang pernah jadi kebanggaan begitu banyak orang. Keesokan harinya dia menemui lagi ibu Surbakti dan mengatakan bahwa ada beban yang sekarang ini dia simpan karena pengalaman buruk yang dialaminya.

“Kalau kamu tidak keberatan katakan apa adanya yang menjadi beban kamu itu,” saran ibu Surbakti.

“Bagaimana caranya, Bu?”

“Ceritakan pengalamanmu di depan teman-temanmu, supaya kamu terbebas dari beban dan sekaligus teman-temanmu dapat belajar dari pengalamanmu,” katanya.

Akhirnya semua ganjalan yang membelenggu pikirannya itu keluar dalam satu diskusi terbuka tentang narkoba dan keterlibatan dirinya yang begitu menyakitkan.  Andre bercerita jujur tak ada yang disembunyikan. Betapa sakitnya dia menyakiti dirinya sendiri, baik fisik maupun pikirannya, betapa dia menyakiti orang tuanya dan Santi yang disayanginya, betapa sakitnya dia mengorbankan karier dan sekolahnya.  Seisi sekolah hening mendengarkan Andre yang dengan sepenuh hatinya mengungkapkan perasaannya. Ayahnya benar! Kejujuran adalah modal utama dalam hidup. Dia telah lepaskan kepura-puraan, dia buang kepalsuan hidupnya dan kembali mencoba menemukan kehidupan yang sejati.

Dalam diskusi jujur itu dia pandang ayahnya yang menyaksikannya di kursi roda.  Ayahnya tersenyum dan mengangguk. Ditatapnya mata anaknya dengan pandangan sayang dan bangga.  Tidak sedikit pun dia memperlihatkan kekecewaan dan penyesalan akan kehidupan masa lalu anaknya.  Satu tahun adalah masa yang sangat pendek buat kehidupan, tetapi masa yang teramat panjang dalam mengarungi kepedihan.  Perjalanan yang penuh onak itu telah dijalaninya dengan kepenatan yang tak terkira, dan dia merasa sekarang sedang masuk ke jalan panjang menuju beribu bintang yang meneranginya. 

Di barisan belakang dia lihat Santi memandangnya dengan bangga dan dengan air mata tergenang di bibir matanya.  Andre yang begitu jauh terjatuh dalam jurang yang hina dan menakutkan itu ternyata tetap membanggakan.  

Tak ada kakak yang sehebat kakakku Andre, katanya dalam hatinya.  

Pengalaman terlibat narkoba yang menurut sebagaian besar orang akan menghancurkan ternyata di tangan kakaknya dapat dibalik menjadi pengalaman yang berharga untuk dipelajari orang lain.  Inilah bedanya kakakku dengan orang lain.

Yang terakhir disampaikan Andre adalah kata-kata yang diucapkan ibu guru Surbakti yang baru didengarnya lima hari sebelumnya. Banggalah kepada dirimu sendiri. Lakukan segala sesuatu yang baik dan kamu sukai dengan sebaik-baiknya.  Dan jangan lupa berdoa. Jangan diganggu perasaan dengan selalu menyesali masa lalu. Mulai dari titik ini, temukan kembali kehidupanmu itu. 

 

(Bersambung ke: Kemenangan Ayah)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018