Saturday, 19 September 2020


Setitik Cahaya (27)

05 Aug 2020, 10:31 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Setahun sudah waktu berlalu, banyak perubahan berarti telah terjadi dalam keluarga Johan.  Sesudah dia mendapat perawatan intensif selama tiga bulan, termasuk tiga kali operasi dan fisoterapi, akhirnya Johan diizinkan kembali ke rumahnya. Tantri sudah membuat beberapa perubahan kecil di rumahnya.  Tangga ke rumahnya dan semua yang dibatasi dengan tembok pembatas rendah, sudah diganti dengan lantai yang menurun landai sehingga  kursi roda Johan bisa lewat dengan mudah. Ada kata bijak yang dia baca di rumah sakit yang selalu dia ingat dan ingin diterapkan untuk membantu suaminya.

In an orderly word there always a place for disorderly

Sekarang keluarga itu mempunyai seorang yang perlu bantuan dalam tanda kutip. Keadaan di rumah harus disesuaikan, sehingga Johan bisa akses untuk melayani dirinya sendiri, walaupun dia harus mengandalkan kursi rodanya. Johan juga tidak suka kalau segala sesuatunya ditolong orang lain.  Pinggangnya masih terasa ngilu dan kadang-kadang nyeri, tetapi dia mencoba tidak memikirkannya.  Ini akan jadi bagian hidupnya sehari-hari. Tuhan telah memberinya ujian, dan sebagaimana menghadapi ujian, dia harus lulus dengan angka meyakinkan. Sakit adalah bagian ujian di dunia, dan menjalani sakit adalah bagian dari ibadahnya. Johan sudah berhenti bekerja sebagai PNS maupun sebagai Corporate Relation Manager di First-Chem Industry. Kondisinya tidak memungkinkan melakukan pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Kendati begitu, aktivitasnya di rumah tidak berhenti. Dia terus mengikuti perkembangan ilmu, informasi dan politik. Tidak untuk menjadi pengamat, tetapi untuk menambah pengetahuannya sendiri.  Dia banyak membaca, apa pun yang menurut dia ada gunanya. 

BACA JUGA: Perang Melawan Diri Sendiri (26)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Tantri kembali menekuni kerjanya sebagai apoteker di apotek yang sama.  Dia tidak pernah pindah dari tempat kerjanya sejak 24 tahun yang lalu. Apoteknya juga bertambah maju setelah menyediakan beberapa ruangan untuk praktik dokter. Tetapi dia menjalani pekerjaannya dengan datar saja, tidak ada gejolak yang berarti. Jenis pekerjaannya bukan yang memerlukan aktivitas yang berubah setiap saat, tetapi memerlukan ketelitian, keapikan, dan pemeriksaan yang Standard Operational Procedure (SOP)-nya tidak mengalami perubahan dalam waktu singkat.  Buat sebagian orang membosankan, tetapi tidak buat Tantri karena ini adalah dunia karier pilihannya.

Santi sudah naik ke kelas dua SMA di sekolah yang sama dengan Andre.  Sejak dia masuk ke SMA itu, Santi mengalami tekanan yang membuat dirinya selalu merasa terhimpit. Tidak leluasa.  Santi adalah anak yang ceria dan banyak gagasan. Hatinya mudah dipacu dengan melihat keberhasilan orang lain. Tetapi kali ini tidak mudah bagi Santi untuk menempatkan dirinya walau di dalam lingkungan sekolah yang tadinya sangat dikenalnya sekalipun. Banyak kerikil penghalang yang membatasinya berlari kencang. 

Bayangan kakaknya yang membekas di banyak kepala di lingkungan sekolah itu masih menghantui mereka. Andre yang jadi idola dan sekaligus sumber cerita buruk jadi pembicaraan yang tak habis-habisnya.  Hal itu menjadi kendala besar buat siapa pun yang terkait dengan nama Andre.  Tayangan di televisi dan berita di koran tentang ayahnya dan Andre menimbulkan banyak persepsi tentang keseluruhan keluarganya. Santi bukan lagi Santi yang bermuka ceria dan selalu tersenyum manis, tetapi menjadi adiknya Andre yang kecanduan narkoba atau anaknya Pak Johan yang pemberani dan pahlawan. Jati dirinya seakan hilang ditelan kemasyhuran kakak dan ayahnya dalam citra yang berbeda. Tidak itu saja. Malahan musik yang jadi kebanggaanya bukan lagi sesuatu yang dianggap seni maupun prestasi, tetapi menjadi identik dengan shabu dan narkoba.  Ini yang membuat Santi resah. 

Andre sudah masuk lagi di sekolah yang sama.  Andre mengulang di kelas tiga. Bagi Andre sendiri, status sebagai mantan pecandu narkoba tidak bisa dihilangkan dengan terapi macam apa pun.  Walaupun hatinya sudah bertekad untuk meninggalkan masa lalunya yang kelam, wajahnya yang mendapat predikat suram itu ada di mana-mana, tertempel di lingkungan sekolahnya. Di halaman, di gedung, di kelas dan di mata setiap muridnya. Publikasi di media dan televisi memang sangat efektif. Dunia pers dengan mudah mempromosikan seseorang ke jenjang keberhasilan atau menjatuhkan orang ke jurang kekalahan. Itulah kekuatan media. Menciptakan image seseorang dengan mudah. Menciptakan opini publik dalam sekejap. Positif atau negatif. Oleh karena itu banyak pihak merasa penting untuk memelihara mereka bahkan berusaha membeli mereka. Tidak semua media juga jujur. 

Andre tidak dapat melupakan tatapan penuh pertanyaan yang menembus jantungnya dari teman dan para mantan penyanjungnya.  Dulu mereka mengantarkan Andre ke puncak keberhasilan dan ketenaran ketika mereka bersorak dan berteriak “Andre ... Andre ....” Dulu, waktu dia melantunkan berbagai lagu nostalgia diiringi petikan gitarnya yang mempesona. Kini mereka serba kagok. Sama-sama takut menyinggung perasaan kalau salah ucap dan salah tingkah. 

Kawan-kawan sekelas Andre sudah  lulus SMA dan sebagian besar diterima di perguruan tinggi. Lainnya masuk di program D3 yang katanya lebih cepat selesai dan bisa segera bekerja.   Kiki yang anak kiai sudah lama tidak bertemu walaupun dia mendengar kabar kawannya itu ada di pusat rehabilitasi di sebuah pesantren. Sedangkan Asep sudah tinggal dengan orangtuanya di Ciamis.  Orangtua Asep telah menjual rumahnya di Depok  dan pindah kembali ke kampungnya di Ciamis untuk menghindari Asep terlibat lagi dengan obat yang merusak itu. 

Ternyata banyak perubahan dalam waktu setahun yang diakibatkan oleh sekadar iseng dan coba-coba. Ternyata begitu dahsyat pengaruh sebungkus kecil serbuk putih itu terhadap kehidupan manusia. Dia bisa menghentikan kegiatan ekonomi keluarga yang sedang berkembang seperti pada kasus orangtua Asep. Dia bisa memberantakkan kehidupan sebuah keluarga.  Dia bisa menghancurkan nama baik seorang tokoh yang semula dipuja oleh masyarakat. Sesal sebesar Gunung Himalaya itu menggumpal lalu menyumbat hati dan jantungnya sehingga tak henti Andre merasa hidupnya tidak berarti. Dia menarik nafas panjang dan mengumbar pikirannya ke mana-mana.  

Andre bertekad untuk kembali menekuni sekolahnya yang tertinggal setahun. Terapi selama satu tahun akibat perkenalannya dengan obat adiktif berbahaya itu mencuri waktu produktifnya.  Dia telah kehilangan waktu belajar satu tahun di SMA dan kehancuran kariernya dalam dunia musik yang sedang begitu menanjak.  Dalam waktu selama itu, dia idle, tidak menghasilkan apa-apa. Nihil. Kosong. Satu kesalahan besar bagi seorang manusia hidup yang berakal sehat. Dia tidak hanya tidak berguna bagi dirinya, tetapi juga menghancurkan kehidupan orang lain.

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018