Saturday, 19 September 2020


Perang Melawan Diri Sendiri (26)

04 Aug 2020, 10:46 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Andreas masih memeluk tangan ayahnya ketika pelan-pelan Johan membuka mata.  Pandangannya lurus ke langit-langit di atas kepalanya.  Setelah agak lama dia secara perlahan mengumpulkan ingatannya, akhirnya dia menyadari bahwa Andre ada di sampingnya. Anak itu sedang mencium tangannya.

“Nak, kamu ada di sini,” suaranya sangat lemah dan serak.

Andre kaget, ternyata ayahnya sudah sadar.  Dia melihat ayahnya dengan penuh linangan air mata dan akhirnya air matanya turun deras ke pipinya.  Dia masih belum bisa berbicara.  Suara sesenggukannya makin keras dan pegangan ke tangan ayahnya makin kuat.   Johan mengeraskan pegangannya ke tangan Andre mengisyaratkan bahwa dia mengerti apa yang sedang ditangisi anaknya. Sedikit pun Johan tak menyesal telah melakukan perlawanan kepada pengeroyoknya, walaupun akhirnya dia menderita seperti ini.  Dia bangga telah membela keluarga.  Dia bersyukur keluarganya tidak mendapatkan musibah seperti yang dialaminya.

“Maafkan aku, Papa,” kata Andre dalam tangisnya.

BACA JUGA: Perang Melawan Diri Sendiri (25)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Hanya itu yang dapat dia ucapkan. Kerongkongannya dia rasakan seperti tersumbat, kata-katanya tersangkut, lidah kelu dan suaranya  hilang sebelum dia mampu mengeluarkannya.  Johan pun tidak dapat berbicara banyak.  Nyeri di pinggangnya tiba-tiba muncul begitu dia sedikit menggerakkan badannya.  Luka di dadanya memang mengeluarkan darah cukup banyak, tetapi tidak ada sakit yang berlebihan yang diakibatkan oleh luka itu.  Nyeri disertai ngilu yang tidak tertahankan terasa di pinggang bagian belakang.  Sedikit saja dia menggerakkan badannya, rasa nyeri menyebar ke seluruh titik badannya.  Johan memejamkan mata dan mencoba memusatkan pikirannya.  Dia teringat ketika kaki dan tangannya dipukul oleh batang tebu oleh Mbah Jafri, gurunya di Cimande sampai batang tebu itu hancur. Dia disuruh konsentrasi untuk menahan rasa sakit.  Dia konsentrasi dengan mulut terkatup. Dia menjerit tetapi dia tahan agar tidak keluar dari mulutnya. Seluruh tangan dan kakinya bengkak. Dan pada saat diurut dengan tangan kecil gurunya itu, dia merasakan sakit yang tak terhingga.  Hanya kurang dari satu jam, tangan dan kakinya tidak lagi merasakan sakit yang hebat sesudah diurut.   Itu satu keajaiban dari kekuatan konsentrasi yang tidak pernah dia mengerti. Johan mencoba lagi kali ini dalam suasanya yang berbeda.

Pengunjung Johan datang silih berganti, terutama setelah dia akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan setelah dalam tiga bulan mengalami tiga kali operasi.  Semua sudah dilakukan, tetapi dokter tidak mampu menyelamatkan dia dari kelumpuhan kedua kakinya. Direktur atasan dia dari perusahaan First-Chem Industry datang menjenguknya pada hari pertama dia pindah ke ruang perawatan.  Dia memberi semangat dan penghargaan atas keberanian Johan. Dia juga berjanji, bahwa perusahaan akan membantunya sampai ke mana pun dia harus berobat. Johan menyambutnya dengan tersenyum dan berterima kasih. Dia ingin sekali mengatakan kepada seluruh penduduk di jagat raya ini bahwa dia rela melakukan semua ini demi anaknya.  

“Barangkali Tuhan mendengar doaku, apa pun akan kukorbankan asalkan anakku diselamatkan.  Mungkin Dia sudah menepati janjinya,” pikirnya. 

Johan menerima keadaan barunya untuk duduk di kursi roda dan mengangkat satu-satu kakinya dengan tangannya apabila dia hendak ganti posisi atau bergeser tempat duduk.  Dia menganggap ini adalah kenyataan hidup dan sudah ditulis sebagai takdir yang harus diterimanya dengan tawakal. Rasa nyerinya tetap dia rasakan, tetapi dengan pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Dia beranggapan, bahwa semua ini adalah cobaan dan yang dia lakukan adalah ibadah.  

“Aku harus menerima hidup dengan keadaan begini. Kalau hanya dipikirkan dan dirasa-rasakan juga tidak ada gunanya.  Tidak akan mengurangi rasa sakitnya,” katanya dengan tabah.

Langit senja menguning diiringi semilir angin lembut saat Johan kembali ke rumahnya.  Tetangga berkumpul menyambut dan ucapan selamat datang sahut menyahut dibarengi senyum bersahabat.  Semua hormat kepada Pak RW yang sekarang duduk di kursi roda yang didorong oleh Andre.  Sakit di pinggangnya telah jauh berkurang, walaupun dokter sudah memastikan bahwa Johan tidak akan bisa terhindar dari kelumpuhan kakinya.  

(Bersambung ke Setitik Cahaya)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018