Saturday, 19 September 2020


Perang Melawan Diri Sendiri (25)

03 Aug 2020, 06:36 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Andreas diam-diam pergi menengok ayahnya sendirian pada hari ketiga.  Ibunya dan Santi akan datang sesudah makan siang.  Sudah dua hari Tantri tidak masuk kantor. 

“Hari ini Mama ke kantor dulu dan akan pulang cepat.  Kita akan menengok Papa bersama-sama,” katanya kepada kedua anaknya.  

Tetapi Andre berangkat sendiri ke rumah sakit naik angkot. Johan masih berada di ruang ICU.  Dia masih belum boleh ditengok oleh yang lain, kecuali keluarga dekatnya.  Suhu badannya masih tinggi dan detak jantungnya masih belum beraturan.  Mukanya kelihatan pucat, dan kerut-kerut di wajah dan lehernya menggambarkan sosok laki-laki yang tua dan lelah.  Dokter mengatakan kondisinya masih kritis tetapi stabil.  Andre tidak mengerti istilah itu.  Buat apa stabil tetapi kritis.  Dia mau ayahnya kembali seperti semula.  Harus.  Dia tidak rela kalau ayahnya menderita karena kelakuannya.

“Semua luka yang ada di badannya adalah kesalahanku dan semua darah yang menetes dari badannya adalah dosa-dosaku,” katanya lirih.

BACA JUGA: Perang Melawan Diri Sendiri (24)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Dipandangnya wajah tua dan lelah itu lama-lama. Wajah yang selalu memberikan dia harapan dan semangat.  Dia hampir tidak pernah dimarahi dengan keras, apalagi dipukul seperti kejadian yang dia dengar di TV dan baca di koran-koran.  Kekerasan dalam rumah tangga tidak pernah terjadi di dalam keluarga Johan. Pendidikan di dalam keluarga itu begitu harmonis. Andre banyak sekali mendapat penjelasan dari orangtuanya tentang berbagai hal yang dia belum tahu dan yang dia ingin tahu. 

“Mereka menjawab semua pertanyaanku dengan baik dengan bahasa yang sesuai dengan umurku. Mereka menjelaskan dengan contoh dan kiasan, atau dengan penjelasan langsung yang sangat bijak,” kenang Andre.

Lama sekali dia memeluk dan menciumi tangan ayahnya sambil menangis.  Ayahnya masih tertidur.  Sakit bekas operasi dan terutama pada bagian tulang belakangnya yang sangat hebat mengharuskan dia mendapatkan obat pengurang sakit yang agak keras.  

Mungkin dia mendapatkan morfin atau bahkan heroin yang lebih keras lagi untuk mengurangi rasa sakitnya, pikirnya.

Ayahnya yang begitu bersih dari dunia narkoba, taat ibadah, tak lepas dari sholat dan berdoa dan selalu ingat setiap saat kepada Allah, tiba-tiba harus merasakan aliran narkoba dalam tubuhnya.   

Jarum infus masih menempel di tangannya dan tetesan dari tabung infus itu seakan menghunjam hati Andre.  Orang tua yang terbaring lemah di depan matanya adalah ayahnya yang sejak dia bayi sampai dia dewasa menjaganya dengan mempertaruhkan jiwa raganya.  Semakin lama dia mengenang perjalanan hidup dengan ayahnya, Andre semakin merasakan badannya merinding.  Masa-masa indah dan gembira ketika dia belajar berenang.  Ayahnya memegang dan menggerakkan kakinya, lalu tangannya dan tiba-tiba dia melepaskannya sehingga dia megap-megap.  Tetapi akhirnya dia bisa muncul ke permukaan air dan ayahnya tertawa dan bertepuk tangan.  Dia marah sekali pada ayahnya tetapi ternyata dengan begitu dia bisa berenang dalam waktu cepat. Dia ingat ketika belajar menulis dan menggambar, menghubungkan titik-titik yang dibuat ayahnya, kemudian dia bersorak sesudah gambar itu terbentuk.

“Kelinci, Pa!” katanya gembira.

“Gambarmu bagus sekali, Nak,” puji ayahnya.

Dia sangat gembira dipuji ayahnya, padahal yang membuat titik-titik itu adalah ayahnya. Johan selalu memanggil dia Nak, sebuah panggilan yang sarat dengan kasih sayang dan perhatian.  Sampai sekarang pun dia masih memanggil seperti itu.  Sesudah dia dewasa, panggilan itu selalu mengingatkan dia bahwa dia tetap anak yang terus dipupuk dengan kasih sayang walaupun dia sudah besar dan dewasa.

Andre teringat waktu dia naik ke kelas lima SD.  Ada mainan yang sangat dia inginkan tetapi harganya agak mahal.  Dia mengatakan keinginannya itu pada ayahnya dan sangat surprise ayahnya menjanjikan akan membelikan mainan itu kalau dia naik ke kelas lima.  Pulang dari sekolah bersama orang tuanya sesudah hari kenaikan kelas dia menanyakan lagi janji ayahnya.

“Tentu saja Papa ingat, Nak.  Papa akan selalu mencoba menepati janji.”

Di rumah ayahnya memberikan uang sebanyak Rp 30 ribu rupiah untuk membeli mainan itu.  

“Andre saja yang bayar, Papa kasih uangnya sekarang.  Nanti sore kita sama-sama pergi ke toko mainan itu,” kata ayahnya.

“Tetapi terserah kamu, Nak.  Uang itu milik kamu semuanya.  Kamu mau belikan uang itu untuk mainan atau kamu simpan uang itu di tabunganmu kemudian kita bersama-sama membuat mainan itu.  Pilih mana yang terbaik buat kamu,” tawar ayahnya.

Johan hanya menguji anaknya, apakah dia akan membeli mainan itu kalau dia menggunakan uangnya sendiri.  Jangan-jangan karena bukan uang sendiri makanya Andre mau membeli mainan yang harganya mahal itu.  Andre berpikir keras.  Uang sebanyak itu yang sekarang ada di lemari adalah miliknya penuh. Uang itu begitu berharga.  Akhirnya sore itu sebelum berangkat ke toko, Andre memutuskan untuk menyimpan uang itu di tabungan dan membuat mainan itu bersama ayahnya di rumah.  

“Aku mau uangnya saja, Pa.  Mainannya kita bikin sendiri aja,” katanya memutuskan. 

Selepas ayahnya berhenti dari jabatan yang dipangkunya selama bertahun-tahun itu memang ada perubahan dalam kondisi keuangan keluarga, tetapi ayahnya tidak pernah mengeluh sama sekali.  Tunjangan jabatan ayahnya yang besarnya hampir sama dengan sebulan gajinya itu sudah dihentikan. Mobil dinasnya harus dikembalikan termasuk uang bensin dan segala fasilitas lainnya juga tidak diberikan lagi. Tetapi dia tetap memperlihatkan optimisme dan harapan. Tidak sedikit pun dia merasa takut dan khawatir. Dia selalu mengatakan selalu ada jalan selama mereka berusaha dan meminta kepada Tuhan. Ayahnya banyak memperhatikan toko kecilnya yang sekarang mendapat pasokan lebih banyak termasuk dari pabrik roti dan makanan kecil.  Dari sanalah penghasilan sampingan terbesarnya dia peroleh.     

Andre juga menyaksikan dengan samar ketika muka ayahnya begitu tegang dan bingung ketika memutuskan untuk membeli obat buat dirinya hanya karena tidak sanggup melihat penderitaannya karena ketagihan obat.  Dalam istilah sekarang disebut putus obat, yaitu tidak diberikannya obat kepada penderita yang sudah masuk dalam kategori kecanduan.  Ayahnya mengeluarkan air mata melihat dia sedang kesakitan.  Rasa sakit seluruh badan, di antara persendian, dan hawa panas yang rasanya membakar paru-parunya tidak dapat dia sembunyikan.  Dia berteriak menyumpahi dan memaki siapa saja.  Waktu itu Andre merintih dan terkapar di lantai disaksikan oleh orangtua dan adiknya.  Semuanya menangis melihat penderitaannya.  Akhirnya ayahnya nekad untuk mencari barang haram itu hanya untuk mengurangi penderitaan anaknya.  

“Ke mana Papa harus mencarinya, Nak,” isak ayahnya dengan nada bingung.

 Inilah awal keterlibatan ayahnya. Dia beberapa kali harus mencari orang yang menurutnya, begitu keji memanfaatkan orang yang sakit dan kecanduan untuk memperoleh pendapatan haramnya. Johan merasa sangat marah dan dendam kepada pengedar obat terlarang itu dan akhirnya melaporkannya ke polisi.  Karena itulah ayahnya mengalami balas dendam dari kelompok pengedar yang mengeroyok di halaman rumahnya.

Ada satu keajaiban yang dialami Andre dalam lima hari hari ini.  Sekian lama dia tidak mendapatkan asupan obat maupun terapi yang diberikan dokter Andi, tetapi tidak merasakan ada kebutuhan akan obat itu. Rasa menyesal dan cinta kepada ayahnya seakan-akan telah mengalahkan segalanya.  Dia lupa dan tidak merasa ada kebutuhan untuk mengonsumsi obat.  Badannya tidak merasakan kesakitan seperti yang dialaminya selama ini.  Otaknya seakan diputar 180 derajat dari keinginan akan obat haram itu menjadi rasa penyesalan dan cinta yang demikian besar. Cinta mengalahkan segalanya. Andre hanya mengira-ngira bahwa keseluruhan pikirannya sekarang sedang terfokus pada ayahnya yang sedang sangat menderita, akibat perbuatannya. Rasa penyesalan yang mendalam dan rasa cinta yang sekarang sedang mengembang, menghabiskan seluruh rongga dalam kepalanya. Semua sel otaknya telah menghilangkan pikiran yang lain termasuk ketagihan terhadap obat haram itu. Ini satu keajaiban.  Dia senang sekali. Dia merasa bahagia!

Aku ternyata sanggup mengendalikan pikiranku asal aku mau. Dengan sungguh-sungguh. Konsentrasi yang kuat bisa mengalahkan segalanya. Seperti sahabat Rasul, Abubakar yang karena begitu konsentrasinya pada saat sholat, dia sama sekali tidak merasakan sakit ketika anak panah yang menacap di dadanya, dicabut. Otak mengendalikan keseluruhan organ, dan jika kemampuan manusia dalam mengendalikan itu dikembangkan, maka ada kekuatan yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia. 

 

***

(Bersambung)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018