Monday, 10 August 2020


Perang Melawan Diri Sendiri (24)

02 Aug 2020, 08:10 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Hampir satu tahun Andre mengalami masa sulit akibat pengaruh narkoba.  Selama dalam cengkeraman kekuatan dunia kelabu itu dia tidak mampu menggunakan akal sehatnya.

Sel otaknya seakan-akan tertutup oleh jelaga hitam yang jauh lebih jahat dari penyakit Alzheimer. Dia lupa akan semua pengalaman indah apa pun yang telah dialaminya dengan orang yang menyayanginya. Pada saat tubuhnya membutuhkan pasokan narkotik, yang ada dalam pikirannya adalah barang haram itu.  Lewat kesakitan yang muncul dari setiap pori-pori tubuhnya dia akan memaksa siapa pun untuk memenuhi keinginannya.  Dengan segala cara, termasuk yang paling tidak masuk akal seorang manusia sehat.

Setelah satu tahun dalam situasi seperti itu, akhirnya semua kebohongannya kepada dunia terungkap ketika dia tersungkur teler di belakang sekolah. Selama terapi, secara bertahap pemakaian narkotika itu dikurangi dan diganti dengan yang kadarnya semakin lemah. Ayah dan ibunya tidak henti-hentinya berusaha untuk membawanya kembali ke alam nyata dan kehidupan normal. Ini adalah pekerjaan yang tidak mudah bagi siapa pun. Andre tidak dapat melepaskan diri dari keinginan akan narkoba yang terus-menerus mendesak sampai merasakan dadanya sesak. Apa pun yang dilihatnya, dirasakan dan dibacanya selama itu berhubungan dengan kehidupannya dengan zat adiktif itu seakan menariknya kembali untuk masuk ke dalam dunia itu.  Dia seperti ada di depan lorong gelap dan kemudian ada kekuatan besar yang menghisapnya untuk masuk kembali ke dalamnya. 

BACA JUGA: Perang Melawan Musuh (23)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Barang yang berhubungan dengan kebiasaan buruknya sudah dihancurkan oleh ibunya, tetapi pikiran Andre tentu saja tidak dapat dikontrol oleh siapa pun.  Termasuk oleh dirinya sendiri. Pengalaman bersahabat dengan bubuk putih yang dampaknya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata itu melekat dalam dirinya. Maka, ketika dia teringat teman, Kiki, Asep, dan kelelahan sesudah main musik, lalu langsung terbayang muka Bang Hikmat yang berkacamata hitam itu dalam kepalanya.  Lalu berlanjut dengan keinginan untuk mendapatkan kembali bubuk putih yang memberi kekuatan, semangat, kenikmatan dan khayalan di awang-awang.

Andre berperang dengan dirinya untuk lepas dari cengkeraman setan yang selalu mengganggunya.  Jeritan karena kesakitan akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi telah membuatnya hilang kesadaran dan perasaan. Andre tak sepenuhnya sadar ketika dia memaksa orang tuanya untuk memenuhi permintaannya.  Dia telah berkata kasar di luar batas kesopanan dan tatakrama seorang anak terhadap ayahnya. Mungkin dia tidak sadar akan perbuatannya, tetapi yang mendengarkan hatinya sakit tak terkira lebih dari mendapat berjuta tamparan.  Kalau pun pengadilan  dunia mengatakan dia tidak dapat dipersalahkan karena melakukan itu dalam keadaan tidak sadar, Tuhan sudah mencatat semua perbuatannya sebagai suatu tindakan yang terkutuk. Dia telah melukai hati orang tuanya. Yang kini tua mendekati renta tetapi tetap tulus dan tidak mengenal lelah membesarkannya.  

Sekarang dia menyaksikan ayahnya terbaring lemah dengan luka di sekujur tubuhnya.  Dari balik jendela kaca dia melihat perban di pinggang dan dadanya masih berwarna merah berlumuran darah.  Selang plastik berseliweran memenuhi hidung, mulut dan tangannya. Tabung infus transparan itu kelihatan meneteskan cairan. Dia sangat takut melihat alat infus itu, karena seperti sedang melihat malaikat mencoba memberi kehidupan pada orang mati. Cairan itu hanya mempertahankan seseorang yang sama sekali tak berdaya agar tidak mati, tetap hidup walaupun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia melihat nafas ayahnya berhembus satu-satu dan suara tik ... tik ... tik ... pada alat digital yang menempel di dinding itu terus berbunyi dalam ritmik yang tetap dan teratur.  Grafik berwarna hijau yang terus berlari menunjukkan jantungnya terus berdetak tanpa henti.  Andre membayangkan kalau tiba-tiba grafik itu berjalan mendatar dan suara tik ... tik ... tik ... itu berubah menjadi suara panjang tiiiiiiiiiik ....  Itulah akhir kehidupan.  

“Akhir kehidupan?” pikirnya. 

Dia sendiri sudah mengakhiri hidupnya meski sekarang belum mati. Kehidupannya telah berakhir. Kehidupannya tidak lagi memberikan kegunaan buat dirinya, buat yang lain dan buat siapa saja.  Tuhan pasti sudah memberikan hukuman sebelum dia mati sekalipun.

Andre menatap lagi ruangan ICU yang bersih dan serba putih itu. Ini betul-betul suasana rumah sakit di ruang ICU yang penuh dengan perasaan mencekam dan sangat dekat dengan kematian.  Kematian seakan-akan berseliweran di atas kepala ayahnya dan kematian itu melalui cara yang tidak dikehendaki ayahnya.  Ayahnya pernah bilang bahwa dia ingin mati di jalan Allah, sambil menyebut nama Allah dan tetap sambil memuji Allah.  Sementara dirinya masih menjalani hidup yang begitu hina dan kotor, penuh dengan dosa kepada orangtua dan saudara yang mencintainya.  Dan dosa kepada semua orang yang dia bohongi.  Dan terutama kepada dirinya yang penuh dengan kepura-puraan.  

Aku melarikan diri dari kenyataan hidup, dengan terus menerus mencari kesenangan palsu.  Yang kujalani semuanya adalah kebohongan dan kepura-puraan.  Dan semuanya itu dibayar oleh penderitaan orang lain.  Yang kutebar adalah kebencian, kemunafikan, kebohongan dan kejahatan.  Di hadapanku tidak ada dunia lain, kecuali bayangan dan fatamorgana kebahagiaan, tipuan yang sepenuhnya aku sadari sendiri. Tetapi akibat kebodohanku sendiri aku terus dikejar-kejar kecemasan dan kegelisahan. Tujuannya memperoleh kenikmatan sesaat sambil tidak mengerti mengapa semua itu dia perbuat.  

Pada hari kedua sesudah operasi, Johan mulai sadar.  Dia masih di ICU. Matanya masih nanar memandang ke sekeliling ruangan.  Pengunjung masih tidak diperbolehkan masuk. Dia dianggap masih kritis.  Operasi untuk mengeluarkan proyektil peluru itu cukup sulit karena proyektil itu bersarang di tulang belakangnya.  Dokter mengalami kesulitan. Di sana terdapat jaringan syaraf yang begitu rumit sehingga memerlukan kehati-hatian ekstra agar syarafnya tidak terganggu pada saat dokter melakukan operasi.  Tak urung operasi mikro yang sulit dan memakan waktu sepuluh jam itu tidak sepenuhnya berhasil mengembalikan Johan ke kondisi awalnya.  Peluru pistol kaliber 42 itu merobek tulang di atas diskus pangkal pinggangnya.  Peluru pistol itu bersarang di antara tulang L3 dan L4, walaupun tidak sampai merobek dan menghancurkan tulangnya.  Dokter mengkhawatirkan, Johan akan mengalami kelumpuhan.  Satu tim dokter telah dibentuk untuk melakukan penyelamatan terhadap Johan.  Kepolisian membantu melakukan pengamanan, sedangkan biaya sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan First-Chem Industry tempat Johan bekerja. 

Johan merasakan sakit di bagian belakang badannya tetapi tidak lama kemudian dia pun tertidur lagi.  Obat penghilang sakit masih terus bekerja.  Dokter tahu bahwa sakit yang diderita pasiennya itu tidak main-main. Johan terus dibiarkan tertidur agar dia tetap tenang dan banyak beristirahat.

Nama Johan Siregar tiba-tiba terpampang di koran nasional. Potret rumahnya dan dia sendiri pada saat masih sehat maupun sesudah terbaring di rumah sakit muncul di berbagai media.  Bahkan di televisi.  Publikasi akan kepahlawanan orang tua ini tentu saja membanggakan departemen dan perusahaan tempat Johan sekarang bekerja walaupun mereka tidak mengharapkan berujung dengan kesedihan seperti itu.  Tetapi tak urung pemberitaan itu berdampak secara langsung terhadap Andre.  Dia menjadi kutu busuk yang terkenal seantero jagat yang telah membuat masalah besar dalam keluarga sehingga semua orang mengutuknya sebagai anak durhaka. Namanya tidak hanya tercemar di lingkungan tetangga, sekolah dan kantor orangtuanya, tetapi sekarang sudah di tingkat nasional.  

Semakin banyak yang mengutuk, semakin mudahlah Tuhan menjerumuskannya ke neraka yang paling dalam. Dia selalu mengatakan  pada saat minta doa waktu mau mengikuti pagelaran musik di Bandung: “Semakin banyak yang mendoakan, semakin mudah Tuhan meluluskan permintaannya.” Ungkapan itu berlaku juga ketika semakin banyak orang mengutuknya. Semakin gampang Tuhan memasukkannya ke neraka jahanam.

 

***

(Bersambung)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018