Saturday, 15 August 2020


Perang Melawan Musuh (23)

01 Aug 2020, 09:23 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Samar-samar Johan mendengar suara.  Sangat jauh dan tidak jelas.  Matanya masih tertutup, tetapi dia melihat berbagai warna seperti sejuta pelangi menerpa matanya. Semuanya samar.

Bergoyang dan terus bergerak seperti gerakan ombak.  Johan mulai ingat potongan kejadian yang menimpanya dan beranggapan sekarang dia sudah mati.  Dia mencari-cari tubuhnya seperti yang dibaca dalam buku cerita, bahwa jika seseorang sudah mati, dia akan melihat tubuhnya terbujur kaku.  Seperti yang dia lihat di film Ghost ketika Patrick Swayze mati ditusuk penjahat di pinggir jalan, kemudian dia melihat jasadnya sendiri terbaring berlumuran darah. 

Johan tidak melihat jasadnya sendiri. Tidak kelihatan.  Namun ada suara yang dikenalnya.  Seperti suara istrinya.  

“Itu Tantri,” katanya.  

“Itu istriku.  Apakah dia juga sudah mati. Mengapa dia mati? Atau justru aku masih hidup?” pertanyaannya ditujukan kepada dirinya.

BACA JUGA: Perang Melawan Musuh (22)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Pelan-pelan Johan membuka mata. Bukan main kagetnya. Cahaya terang menerpanya. Dia merasakan silau yang seakan membutakan mata. Rupanya dokter sedang memeriksa dan menyalakan lampu senter kecil persis di matanya.

“Pak Johan sudah sadar?” kata dokter ramah.

Johan tidak mengerti apa maksudnya.  Lama dia mengingat, barulah serpihan cerita perkelahian yang begitu menegangkan bersatu kembali menjadi cerita yang agak utuh.  Dia mulai mengerti mengapa sekarang berada di ruang ICU.  Di sekelilingnya terlihat tirai kain berwarna putih, dan di jendela terlihat bayangan manusia.  Ada yang mirip istrinya, mirip Andre dan juga mirip Santi.  

“Oh ... itu ternyata memang mereka, itu bukan bayangan,” batinnya.

Semakin lama semakin jelas.  Dia melihat keadaan sekelilingnya, dan semakin terasa juga perih di perut bagian kirinya.  Ada rasa baal, matirasa dan pegal di bagian belakang yang sangat mengganggunya.  Dia tak mampu bergerak.  Matanya ngelantur ke berbagai sudut.  Dia lihat Tantri mengusap air matanya.  Dia lihat Andre diam tak bergerak, matanya kosong.  Dia lihat Santi menangis.  Semuanya menunjukkan wajah sedih.  Barulah dia menyadari penuh tentang perkelahian sengit yang dialaminya. Tetapi sedikit pun Johan tidak menyesal akan apa yang telah dilakukannya.  Dia bersyukur bahwa istri dan anaknya belum datang pada saat perkelahian  dengan ketiga bajingan itu.  Pasti akan sangat berbahaya bagi keselamatan mereka, jika saat itu mereka ada di sana. Pelan-pelan dia mengucap syukur.  Johan tersenyum. 

Ingatannya kembali mengumpul utuh. Selang transfusi, infus dan oksigen yang dialirkan melalui hidungnya  terasa sangat mengganggu, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia pasrah. Rupanya selama satu hari dokter belum melakukan operasi untuk mengambil proyektil yang ada pada bagian pinggangnya, karena memerlukan persiapan, konsultasi dan membentuk tim. Ini adalah operasi yang sulit, karena letak peluru yang bersarang di tempat yang sangat kritis. Seumur hidupnya baru kali inilah dia masuk ke rumah sakit sebagai pasien. Dia suka terserang flu atau diare, tetapi itu dianggap sebagai kejadian kecil saja yang dia obati sendiri dengan obat yang tersedia dan dijual bebas di apotek, Flu End atau Diatab. Kali ini adalah kejadian yang paling berat yang pernah dialaminya. 

 Johan kembali merasa lelah tak terkira. Pandangannya kabur. Lalu berbagai warna seakan datang lagi memenuhi matanya. Berputar membuat kepalanya pusing dan badannya terasa melayang. Lalu dia merasa masuk ke lorong yang panjang dalam perjalanan yang jauh. Dia tertidur.  Pengaruh anastesi membawanya kembali ke alam mimpi.  

 Ketika sadar Johan sedang didorong masuk ke ruang operasi. Lorong yang menghubungkan ruang ICU dengan ruang operasi itu tidak panjang, tetapi Johan merasakan perjalanan yang sangat jauh seakan sedang menuju ke dunia lain.  Kematian. Kain putih yang menyelimuti tubuhnya memberi rasa tenteram.

“Aku dalam keadaan siap menghadap Tuhan,” pikirnya.

Matanya masih jelas melihat ruang operasi yang terang dan dinding serba putih. Peralatan elektronik yang tidak dikenalinya terletak di sekitar meja operasi. Tiga orang perawat mengangkat tubuh Johan dan memindahkannya ke meja operasi yang dilapisi plastik putih. Johan mengerang kesakitan. Pinggangnya ngilu seperti sedang diremas-remas dan sakitnya menyebar ke semua pori-porinya. Kakinya terasa berat dan baal.

Johan terbaring tidak berdaya di meja operasi. Dua lampu sorot di atas badannya memancarkan cahaya terang menyilaukan. Beberapa orang dokter berpakaian hijau dan bertopi kain hijau mengelilinginya dan ramah menyapanya. Mereka berjanji akan melakukan yang terbaik untuk membantunya. Johan mengedipkan mata, memberi tanda terima kasih. Dia sudah pasrah. Istrinya sudah mengisi dan menandatangani formulir persetujuan kepada rumah sakit untuk melakukan operasi.  Semuanya sudah dipersiapkan sempurna. 

Dokter yang memimpin operasi memberi penjelasan dengan ramah dan hati-hati tentang operasi yang akan dilakukan. Termasuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi Johan tidak takut sedikit pun. Semua risiko akan dihadapinya dengan tabah. 

Aku kembalikan kepada Sang Maha Pencipta. Hidupku dan matiku hanya Dia yang menentukan. Aku relakan apa pun yang akan terjadi. 

“Ya Allah, berikan yang terbaik bagiku dan bagi keluargaku. Kembalikan anakku Andre menjadi sebaik-baiknya umat-Mu,” ucapnya dalam hati.

Ketika dokter memasangkan masker di mukanya, Johan mengucap Basmallah dan dalam beberapa saat, kembali dia merasakan masuk lorong penuh warna dan terombang-ambing memasuki dunia mati rasa. Dia masih mendengar dokter berbicara, berbagai kesibukan dan suara denting berbagai peralatan operasi. Selebihnya adalah seperti tidur dan mimpi panjang yang tidak bisa diingat awal dan akhirnya.   

(Bersambung ke Perang Melawan Diri Sendiri)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018