Thursday, 06 August 2020


Perang Melawan Musuh (22)

31 Jul 2020, 08:25 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Johan turun dari mobil dan melangkah ke halaman rumahnya tanpa mematikan mesin mobil yang diparkirnya di pinggir jalan.  Pintu pagarnya terkunci.  Dia harus membuka pintu pagar itu sebelum mobilnya bisa diparkir di halaman.  Johan terpaksa pulang telat hari itu. Dia harus menyelesaikan konsep kontrak kerja dengan salah satu perusahaan langganan kantornya. 

Pintu baru saja dibuka. Tiba-tiba, tiga orang laki-laki tak dikenal berdiri di sampingnya. Tanpa bicara apa pun, mereka terus memasuki halaman.  Johan tahu.  Sejak ujung jalan masuk ke kompleks, ada mobil Suzuki APV mengikutinya.   Dia tidak curiga.  Johan tidak pernah mengenal orang jahat di kompleks kediamannya. Semuanya akur dan saling menghargai, walaupun seperti ada kesepakatan, untuk tidak terlalu akrab satu sama lain.  Kalau terlalu akrab biasanya berujung pada gosip dan konflik. Biarkan semuanya berjalan dengan perkawanan biasa. Tidak sampai saling berkunjung terlalu sering dan akhirnya saling berbisik.  Sebagai ketua RW, dia banyak menerima pengaduan dari warganya, tetapi semuanya tentang fasilitas di kompleks yang sering kurang berfungsi dengan baik.

“Bapak mencari siapa?” tanya Johan ketika dia melihat ketiga orang itu ikut masuk ke halaman rumahnya.

BACA JUGA: Menguji Ketabahan (21)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Mereka tidak menjawab. Malah terus masuk ke halaman dan menutup pintu pagar.  Hari sudah gelap mendekati Isya.  Lampu taman dan teras rumahnya masih mati. Tidak ada orang di rumah.  Untung lampu mobilnya masih menyala. Dia masih bisa melihat jelas.  Ketiga orang itu menyebar.  Satu orang mengenakan jaket agak longgar. Tangannya dimasukkan ke saku jaketnya. Seorang bertubuh kurus memakai topi berkemeja longgar. Yang lainnya memakai T shirt.  Mereka terus mendekati Johan. Johan curiga. Yang dihadapinya bukan orang baik-baik.  Dia mencium bau alkohol yang menyengat.  Mereka dalam keadaan mabuk, dan orang mabuk, tidak perlu berpikir panjang untuk melakukan kejahatan.

“Kau tua bangka biang kerok.  Kubikin mampus, kau!” kata laki-laki berjaket itu, mengancam.

“Siapa kalian? Jangan macam-macam kalian,” gertak Johan tak kalah mengancam.

Tanpa basa basi laki-laki bertopi itu maju. Mencoba menghantamkan pukulannya ke wajah Johan.  Agak terlambat Johan menghindar. Pelipisnya terserempet kepalan kasar itu.  Johan mundur. Yang memukul terdorong ke depan. Lelaki itu terbawa pukulannya sendiri. Gagal menemukan sasaran. Dia kehilangan keseimbangan. Nyaris jatuh. 

Johan bukanlah orang penakut.  Dulu tubuhnya kekar karena rajin berolahraga. Tapi kini, dia hanyalah seorang tua pensiunan. Badannya lemah, karena hampir tidak pernah berolahraga.  Belum lagi reumatik menyerang dirinya selama tiga tahun terakhir. Tetapi nalurinya masih jalan.  Kegesitan jurus Perguruan Cimande yang dipelajarinya separoh jalan waktu masih mahasiswa, belum hilang sama sekali. Juga ketegaran sebagai anggota Walawa, masih menyisakan teknik menghindar. Dia memanfaatkan tenaga lawan, meski tenaganya sudah sangat berkurang dibandingkan 30 tahun yang lalu.

“Hey! Ada apa kalian?  Gila kalian.  Aku gak ada urusan sama kalian!” teriak Johan.

Johan kemudia mengerti. Inilah akibat tertangkapnya dua orang pengedar narkoba yang dilaporkan ke polisi beberapa bulan yang lalu.  Mungkin ini komplotannya. Jika benar, dia dalam situasi  sangat gawat.  Di rumah, dia sendirian. Tantri dan Santi sedang pergi ke klinik mengantar Andre .

Laki-laki yang memakai T-shirt mendekati. Orang berjaket itu sangat geram. Dia marah melihat kawannya gagal menjatuhkan Johan dengan sekali pukul. Mungkin orang itu  pimpinannya, pikir Johan.

“Kau hajar dia, lalu bunuh!  Sayat-sayat mukanya. Biar mati kesakitan!” bentaknya dengan suara berat.

Si kurus ber-T shirt mengangkat tangan kanannya. Dia mengarahkan sisi telapak tangannya untuk memukul leher Johan. Dengan kecepatan tak terduga Johan mendahului. Meloncat. Mendekat. Merendahkan kaki. Dengan bertopang pada lutut, sambil memiringkan badan, tiga jari tangannya mengejang, meluncur keras menghantam ketiak lawan.  Ketiak itu, kelemahan orang. Sangat lunak dan halus. Jika terkena pukulan benda keras, sakitnya tidak akan tertahankan.  Dalam bela diri Yu Yit Su, mata, leher, ketiak dan jantung adalah sasaran utama untuk menjatuhkan lawan dengan sekali pukul. Pukulan itu akan membuat korban terkapar seketika. Kekuatan tangannya hilang sebagian. 

Laki-laki itu menjerit kesakitan. Berteriak keras. Johan tidak dapat menyerangnya lebih lanjut. Laki-laki bertopi tiba-tiba menendang lurus ke arah dada Johan.  Tak ada jalan lain. Johan berguling. Menghidar tendangan.  Bahunya terbentur tembok yang membatasi halaman dengan pintu rumah.  Darah mengucur dari dahi. Johan terluka, terbentur ujung tangga rumah.  Dia memaksakan bangun sambil memegang bahu kanannya.  Orang berjaket tertawa.

 “Hajar terus Dri!” teriaknya.  

Dia sendiri tetap berdiri menyaksikan anak buahnya berkelahi.

Johan hendak berdiri. Ketika satu tangannya masih di tanah, sebuah tendangan meluncur deras mengarah perutnya. Johan coba menahan dengan kedua tangannya.  Kaki penendang itu diangkatnya. Dan kaki kirinya melesak masuk selangkangan si pemakai T shirt.  Orang itu melenguh. Kesakitan memegang kemaluannya. Berjongkok menahan sakit. Dan secepatnya, Johan menambah tendangan kanan ke mukanya. Lelaki itu terpental jatuh di depan pimpinannya.  Kini Johan bangun. Coba memasang kuda-kuda rendah.  Silat yang dulu dipelajarinya masih bersisa. Sesaat  Johan ingat Mbah Jafri, gurunya yang sangat keras mendidiknya.  

Johan menenangkan pikiran. Berkonsentrasi. Dibiarkan badannya bergerak mengikuti naluri. Lutut menekuk membentuk sudut 90 derajat. Tangan terbuka dalam posisi siaga. Jari terbuka bergerak-gerak. Gerakan jari ini bisa mengacaukan konsentrasi lawan. Berat badan diletakkan di kaki kanan. Kaki kiri siap melakukan serangan.  Ini kuda-kuda jurus bangau dari perguruan Cimande. Beberapa teknik yang dulu dikuasai dengan baik, sekarang sebagian besar hilang.  Selama masih latihan berat, dia belum pernah terlibat dalam perkelahian.  Ini yang pertama kali.  Ini terkait dengan urusan membela anak. Membela anggota keluarga yang sedang mengalami masalah mahabesar. 

Merasa kemampuan tidak sebanding dengan lawan, Johan mengharap segera ada orang lewat. Tetapi dia berharap agar istri dan anak-anaknya tidak segera datang.  Mereka akan menyongsong bahaya.   Itu akan lebih mengacaukan konsentrasi.

Johan merasakan bahunya sangat sakit, bahkan seperti keseleo.  Dia kini hanya mengandalkan tangan kiri dan kedua kaki.  Dua laki-laki yang tadi dijatuhkan, kini bangun dan siap menyerang.  Mereka menggenggam pisau.  Johan hampir putus asa. Dua pisau berkelebat. Johan mundur beberapa langkah. Memberi ruang untuk menghindar. Ini antisipasi yang baik. Sebab, begitu si pemakai T shirt itu maju dan menyabetkaan pisau, Johan dapat menarik perutnya ke belakang, tanpa mengubah posisi kuda-kudanya. Pisau itu lewat merobek bajunya.  Tidak hanya menghindar. Dengan kecepatan yang tidak disangka, Johan menendang dagu penyerangnya dengan kaki kiri. Orang itu terpelanting.  Tetapi, Johan tidak sempat berbuat lebih dari itu.  Pisau yang satunya lurus mengarah perutnya. Dia coba tepis dengan telapak tangan kanan. Tangan kiri sigap mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pisau.  Sambil bergerak dengan satu putaran, dia pelintirkan tangan itu. Sekuat tenaga didorongnya ke atas.  Terdengar suara berderak dan teriakan keras.  Pisau itu terjatuh di tanah.  Lelaki itu terjajar di ujung tembok rumah setelah dihantam lutut Johan di perutnya.  Kepalanya membentur tembok dan berdarah.  Para penyerang itu sangat kaget mendapat perlawanan yang tidak terduga itu.  Sesungguhnya, Johan sudah hampir menyerah.  Johan memaksakan gerakan cepat yang sangat menguras tenaga. Nafasnya tersengal-sengal. Kepala mulai agak pusing. Orang yang ditendangnya, sudah siap menyerang lagi dengan pisau terhunus. Johan sudah kehabisan nafas.  Matanya kabur tertutup darah yang mengucur dari dahi.  Dia mengusap dahinya dengan lengan baju. 

Inilah akhir hidupku, pikirnya.  Dia membaca doa. Bahkan syahadat. Siapa tahu ajal akan segera datang menjemput.  Tenaganya habis.  Dia tidak bisa bertahan lagi. Namun, jika pun harus mati, matilah sambil menyebut nama Allah, pikirnya.  

Johan pasrah.  Dia siap dengan kuda-kuda lain. Jari-jari tangan dilebarkan dan menekuk kaku.  Jurus cakar yang mampu merusak muka dan mata lawan.  Biarlah aku mati, tetapi harus ada imbal balik.  Harus ada korban di pihak musuh.  Johan mengambil posisi agak aneh. Kaki menekuk rendah. Setengah jongkok. Kaki kanan ditarik ke belakang. Tangan dan jari mengembang. 

Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan dari dua orang Satpam yang melintas di situ.  Laki-laki berjaket tebal tiba-tiba mengeluarkan senjata. Dor! Terdengar letusan keras.  Johan sempat meloncat. Menghindari pistol yang mengarah kepadanya, tetapi tidak berhasil. Johan sempoyongan. Sebuah sabetan pisau tipis menggores dadanya.  Untung dia langsung meloncat ke belakang. Jika tidak, lehernya akan robek terkena sabetan pisau.  Kedua orang itu lari sambil mengacungkan pistol.  Suara mobil menderu dan APV itu melesat cepat. Salah seorang yang lengannya terkilir dan kepalanya bersimbah darah terbentur batu, diamankan Satpam.  

Johan terbungkuk merasakan perih di sisi kiri perut dan bagian belakang badannya.  Darah mengucur dari luka di perut membasahi kemeja putihnya. Dari dadanya terlihat luka memanjang dan darah merembes melewati kemejanya yang robek terkena sabetan pisau.   Agak lama dia terduduk di halaman rumahnya menunggu tetangga datang membawanya ke rumah sakit.  Keributan terjadi dan halaman rumahnya seakan dipenuhi seluruh penghuni kompleks.  Johan mengerang merasakan sakit yang sangat. Akhirnya dia tidak ingat apa-apa lagi.  Darah yang mengucur lewat lukanya cukup banyak. Dia lemah, terkulai tidak sadarkan diri.

***

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018