Sunday, 09 August 2020


Menguji Ketabahan (21)

30 Jul 2020, 06:26 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Johan tidak percaya bahwa pecandu narkotik tidak bisa disembuhkan. Dia sudah berdoa dengan khusyuk dan menyampaikan kepada Tuhan satu-satunya permintaannya itu.  Andre harus sembuh total. Dia yakin, semua bisa terjadi kalau Tuhan menghendaki.

“Aku ayahnya yang bertanggung jawab akan keselamatan dia,” tekadnya dalam hati.  

“Aku akan lawan semua suara yang miring tentang anakku. Aku akan lawan semua isu negatif tentang Andre-ku,” begitu dia bersumpah dalam hatinya.

  Masyarakat telah menuntut untuk memberlakukan hukum yang lebih keras bagi penyalahgunaan narkoba.  Tetapi masyarakat telah salah dengan menghukum pengguna dengan cara mengasingkan mereka dan membunuh mereka secara sosial. Banyak warga masyarakat ikut menyalahkan pemerintah, karena setelah kasus narkoba merebak sekian lama, kasus narkoba semakin meluas dan mengganas.  Jaringan peredarannya semakin kuat dan berbahaya.  Ini bisa menghancurkan kualitas sumberdaya manusia. Johan membandingkan juga dengan peredaran penyakit AIDS yang semakin meluas.

BACA JUGA: Menguji Ketanahan (20)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Dia tidak melihat ada program yang efektif untuk menanggulangi penyebaran penyakit yang mematikan ini.  Kasus yang terungkap hanya sebagian kecil saja. Ini seperti gunung es.  Yang muncul di permukaan hanya kecil saja, tidak seberapa, tetapi yang tidak kelihatan adalah gunung besar tersembunyi di dalam laut yang bisa menenggelamkan kapal secanggih Titanic yang terkenal itu. Dua bencana yang mengancam itu ternyata telah membawa banyak korban.  Berbagai kalangan berhadapan dengan bencana besar itu, mulai dari orang yang dipenjara karena melanggar hukum sampai oknum penegak hukum, dari kelompok miskin sampai golongan kaya, dari yang golongan cecere sampai yang terhormat, dan dari kalangan eksekutif, legislatif sampai yudikatif.  Semua kalangan. Tak terkecuali.

Masyarakat bertanggung jawab, pemerintah apalagi.  Tanpa ada upaya yang jelas, tegas dan segera, kita akan dihancurkan dari dalam. Pemerintah harus menciptakan kondisi perekonomian, kesempatan kerja, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bagus, disertai oleh penerapan aturan dan hukum yang tegas. Sekarang peluang untuk melakukan kegiatan positif dan produktif semakin kurang. Johan terus melebarkan lamunannya ke berbagai arah.  

Johan mulai memerinci berbagai kekurangan di kotanya yang dia pikir mengurangi kesempatan masyarakat untuk  melakukan kegiatan positif. Lapangan olahraga, perpustakaan, kolam renang, dan tempat rekreasi yang dulu tersedia di setiap kota kecil sekalipun, sekarang sudah tidak ada bekasnya.  Masyarakat tidak dididik untuk berpikir rasional dan belajar menghargai ilmu pengetahuan, tetapi diberi hiburan mistik dan hura-hura di tengah kondisi kemiskinan.  Ini telah menimbulkan frustasi dan membuat anak muda yang begitu rawan akan pengaruh buruk, terjebak dalam angan-angan yang indah dan gampang. Di sinilah peran media yang bertanggung jawab harus muncul.  

Media adalah sumber informasi serta pembentuk pendapat umum. Tetapi media massa tidak selalu menggambarkan kenyataan. Banyak bentuk media berorientasi pasar, dengan membuat berita yang mengharukan dan sensasional. Tidak jarang pemilik media lebih mementingkan nilai bisnis dibandingkan dengan segi moralitas. Televisi telah mengajarkan penonton hal-hal yang mustahil dan di awang-awang. Kemewahan, kebrutalan, hayalan dan impian kosong. Berbagai film sinetron yang ditayangkan televisi, melakukan pembodohan dan mengajarkan gaya hidup mewah, konsumtif, main terabas, cari jalan pintas untuk mengangkat popularitas, dan menawarkan mimpi-mimpi dengan segala kemustahilannya.

Johan terus terpekur dalam lamunannya yang semakin merambah ke berbagai masalah yang sangat rumit.  Masalah narkoba dan AIDS adalah masalah semua.  Pemerintah dan masyarakat harus memikirkan bersama. Johan tetap berpikir bahwa masalah narkoba adalah kegagalan sebuah strategi dan kebijakan besar dalam membangun sumberdaya manusia.   Masalah narkoba yang diungkap sering berupa informasi yang mendorong orang untuk mencoba dan ingin mengetahui. Media cenderung memproduksi wacana yang diminati masyarakat dan pada akhirnya mampu membentuk opini massa.

Banyak sekali pertanyaan Johan malam itu. Mengapa peredaran narkoba terjadi di dalam penjara yang tidak lain tempat untuk merehabilitasi manusia yang berkelakuan menyimpang dan melanggar hukum?  Di mana letaknya rehabilitasi? Pemasyarakatan?  Yang terjadi bahkan penjara menjadi tempat sentra pelatihan kejahatan karena yang jahat bertambah jahat dan yang tadinya baik menjadi jahat. Pengedar yang baru-baru saja tertangkap ternyata baru satu hari keluar dari penjara.  Istilahnya masih fresh from the oven.  Baru keluar dari pendidikan.  

Dengan sedikit taktik Johan berhasil mengelabui beberapa pengedar dan dengan mudah polisi menangkapnya. Mungkin pengedar ini belum berpengalaman.  Seorang yang berpengalaman tidak akan nampang di jalan menjajakan barang haramnya.  Selalu ada seorang kurir dari sekian banyak kurir.  Bertingkat-tingkat dan tidak selalu harus saling mengetahui.  Kalau seseorang ditangkap lalu kawan-kawannya dalam sekian hari bisa diburu dan ditangkap lagi, maka mereka masih belum bisa disebut sebuah jaringan.  Itu masih kelas teri.  Hanya perkawanan para pemasok yang bekerja secara paralel.  Bukan jaringan yang bertingkat-tingkat atau yang dikenal dengan sitem cell yang tidak bisa dilacak intel kelas rendahan.

Johan sudah sampai pada tahap geram dan dendam kepada para pelaku kejahatan ini.  Racikan yang sederhana yang dibuat dari bahan kimia yang murah itu menjadi bahan bisnis miliaran.  Para penjahatnya mengeruk untung yang tidak alang kepalang dari bisnis haram ini dengan mengorbankan anak-anak tak berdosa.   

Malam semakin larut.  Johan masih duduk di teras memandang ke jalan yang kosong dan sepi.  Lampu jalan yang terang dikerubuti laron tadi sore sekarang sudah bersih.  Kelelawar beterbangan mendapatkan makanan ekstra yang tiba-tiba muncul.  Seperti manusia yang sekali-sekali tiba-tiba mendapatkan rezeki lebih, kelelawar itu begitu sibuk hilir mudik menerkam laron yang tidak tahu kehadirannya bakal berbahaya buat dirinya.  Demikian juga cecak dan tokek yang sibuk menerkam dan menjulurkan lidahnya.  Johan benci sekali pada cicak, karena dia pernah melihat cecak memakan anaknya.  Bayi kecil itu diterkam dan dimangsanya hidup-hidup.  Dia lihat buntut bayi makhluk kecil itu menggelepar dan akhirnya terkulai.  Dia benci sekali.  Selain cicak, buaya juga makan anaknya yang baru menetas.  

“Buaya makan buaya,” pikir Johan dalam hati. 

“Kata buaya saja sudah memberikan konotasi jahat.  Tetapi buaya makan buaya? Rupanya peribahasa “Segalak-galaknya macan tidak akan memakan anaknya” tidak berlaku buat cicak dan buaya.”

Dibayangkannya anak cicak itu adalah anaknya, Andre.  Yang begitu disayang dan disirami kasih yang tak henti-hentinya sepanjang siang dan malam.  Bagaimana mungkin ada makhluk yang memangsa anaknya.  Mana mungkin seorang anak yang menderita menjadi korban narkoba akan dibiarkan orangtuanya sampai mati.  Dibuang dan disengsarakan.  Di tempat rehabilitasi yang resmi pun dia menentang kalau anak-anak yang menderita itu tersiksa dengan dalih terapi.  Dia menyaksikan anak yang direndam dan diikat seperti seorang tahanan Nazi.

(Bersambung ke: Perang Melawan Musuh)

   

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018