Sunday, 09 August 2020


Menguji Ketabahan (20)

29 Jul 2020, 06:39 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Johan pernah mendengar soal narkoba ini sejak dia masih SMA.  Tetapi sama sekali dia tidak pernah tertarik dan ingin tahuKawan-kawannya yang badung dulu ada yang membawa ganja kering dan menawarkan kepadanya kalau dia ingin mencoba. 

Tetapi tak sedikit pun dia tertarik.  Melihatnya saja takut. Dalam benaknya, barang itu adalah pembawa bencana dan hanya mendatangkan malapetaka. Malapetaka itulah yang sedang terjadi pada diri anaknya, dan dampak kepedihannya sekarang ini bagai badai dahsyat melanda seluruh anggota keluarganya.  

Berita yang buruk selalu saja jadi berita yang laku untuk dijual.  Itu ilmu yang dia pelajari semasa kuliah di Jurusan HI.  Oleh karena itu dia paham betul kalau berita yang dia baca di internet kebanyakan berita buruk dan dengan judul yang agak sensasional. Orang bisa terkenal dalam sehari karena berbuat kejelekan, sementara orang yang membangun kebaikan, lama sekali baru diketahui orang. Bahkan temuan orang pintar, pelukis dan musikus, banyak yang menjadi terkenal dan diakui kehebatannya sesudah mereka meninggal. Galileo, Michael Angelo  dan Sebastian Bach namanya menjadi sangat terkenal sesudah mereka tidak ada lagi di dunia. Hampir semua penemu di bidang ilmiah dan perintis pengetahuan, selama mereka hidup tetap menderita dalam kemiskinan. 

BACA JUGA: Melawan Penderitaan (19)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Hanya dalam waktu beberapa hari saja tetangga sekelilingnya sudah mengetahui kalau Andre, anak yang gagah, banyak berprestasi dan terkenal di kalangan anak muda itu sudah terjerumus ke dalam jurang kehinaan.  Jadi pecandu narkoba.  Sebagian besar anggota masyarakat melihat hal ini sebagai kegagalan total, tidak hanya individu yang bersangkutan, tetapi kegagalan seluruh keluarga.  

“Kalau ada anggota keluarga yang terjerumus ke sana lebih baik biarkan mati saja.  Dia tidak akan pernah bisa dikembalikan ke kondisi semula.  Dia akan membuat seluruh anggota keluarga menderita.  Lebih baik diasingkan.  Dibuang!”

Ungkapan itu banyak keluar dari masyarakat karena begitu bencinya mereka pada narkoba dan pada penggunanya. Keluarga Johan mulai merasakan cibiran tetangganya, walaupun dia tidak mendengar langsung.  Tetapi mereka mulai menjauh.  Teman-teman Andre satu kompleks sudah jarang yang datang bertandang ke rumahnya untuk sekadar mengobrol  dan main gitar. Padahal, dengan datang bertandang, mengajaknya bersosialisasi, menurut Johan, akan sangat membantu Andre dalam proses penyembuhan.

“Ada apa dengan Andre?”  kata kawannya di kantor.

“Bagaimana sampai bisa terjadi, Pak Johan?” kata yang lain.

“Saya selalu mendengar dia sebagai anak baik, Pak.”

Itu mula-mula pertanyaan yang mucul dari kawan-kawannya di kantor.  Semua seperti merasa ikut bersedih dan simpati.  Johan menyikapinya dengan hati-hati.  Dia tetap tabah dan tidak memperlihatkan muka nelangsa yang membuat orang lain kasihan, walaupun dalam hatinya Johan menangis sejadi-jadinya.  Tetapi sesudah itu komentar para sahabat dan tetangganya menjadi semakin miring.  Mula-mula mempertanyakan “ada apa”, “mengapa demikian”, lalu “kasihan”, “pantas saja”, lalu “makanya kalau punya anak ....”, terus sampai telinganya terasa panas.  Akhirnya dia seperti disumpahi semua orang.

Kasus narkoba ini memang kejam.   Bencana besar seperti itu tidak mendapat simpati orang seperti halnya bencana lain yang membuat orang ingin menolong.  Johan dan Tantri bertekad untuk mengatasi permasalahan ini dengan pendekatan kasih sayang.  Anaknya adalah anak manusia kekasih hatinya.  Dia bukan barang mati yang kalau rusak bisa dibuang.  Demikian juga bapaknya di Labuhan Batu dan mertuanya di Malang memberi dukungan penuh.  Ini kejadian pertama yang menimpa keluarga besar itu.  

“Katakan Johan apa yang bisa aku bantu.  Katanya di sini ada pusat rehabilitasi yang baik.  Kalau kalian mengizinkan, aku akan membawanya ke sini,” kata bapaknya di telepon.

Tawaran senada juga datang dari bapaknya Tantri.  Pak Hermansyah Effendi yang sangat bijak itu menjanjikan perawatan yang baik di Batu, Malang.  Tempatnya bagus, udaranya sejuk dan ditangani oleh perawat dan dokter yang profesional.  Tetapi Johan bertahan.  Keluarganyalah yang paling bertanggung jawab dan dia yakini akan paling berhasil dalam menangani kasus Andre.   

Johan dan Tantri merasa terhibur dengan simpati yang diberikan orang tuanya.  Selama beberapa minggu ini hatinya sedih tak terkira mendapat perlakuan yang menyakitkan dari tetangga dan bahkan sahabatnya seperti ini.  

Ini menunjukkan betapa beratnya masalah narkoba.  Penderita dan pengguna mendapat hukuman tidak langsung dari masyarakat, karena dia dicurigai akan jadi contoh jahat di lingkungannya, seperti orang yang menderita sakit kusta.  Dia harus diasingkan mirip pada zaman para nabi.  Keluarganya dianggap orang yang tak mampu menjaga anaknya, sehingga jadi contoh kegagalan yang  tidak perlu didekati.  Baik pencegahan maupun terapinya memerlukan kerja sama dan pengertian  seluruh lapisan masyarakat. 

Beberapa bulan sebelumnya, pada hari Minggu pagi atasan Johan di departemen pernah datang ke rumahnya memberikan simpati.  Dia mengerti kondisi Johan yang sedang kesulitan tidak hanya pikiran tetapi juga keuangan.  Biaya yang harus dikeluarkan untuk dokter, konsultasi ke psikolog, datang ke beberapa pusat rehabilitasi kecanduan narkoba dana khusus untuk menjaga Andre selama dalam terapi sangat besar.  Asuransi Kesehatan PNS yang disebut Askes, membayar sebagian biaya pengobatan Andre, tetapi biaya keseluruhan itu cukup besar. Dia perlu meminjam ke sana sini.  Tabungannya sudah habis dan pinjamannya ke Koperasi Pegawai sudah menumpuk. Gajinya banyak terpotong untuk membayar utang.  Demikian juga Tantri, sudah habis-habisan menggunakan penghasilannya untuk membeli obat dari apotek tempat dia bekerja. Walaupun mendapat keringanan berupa diskon khusus buat apoteker, selama lima bulan itu dia sudah masuk dalam kategori kelabakan.

“Katakan saja apa yang bisa saya bantu.  Saya mengerti sekali kesulitan yang sekarang sedang kalian alami,” katanya.

Johan merasa sangat terbantu dengan janji Pak Hari Soejatmiko atasannya itu.  Dia orang yang sangat bijaksana dan paling banyak memperhatikan kepentingan pegawai.  Berkat bantuannya, Johan bisa memperoleh cicilan rumah dari kantornya. Pak Soejatmiko tahu betul keadaannya. Johan memang tidak meminta bantuan apa-apa dari kantornya, kecuali pinjaman ke koperasi yang memang menjadi hak semua karyawan yang menjadi anggotanya.  Hampir semua anggota koperasi pegawai meminjam uang ke koperasi.  Selain semuanya perlu pinjaman, koperasi juga adalah sumber yang paling mudah memberikan pinjaman.  Dengan bunga hanya 12% setahun dibandingkan dengan bunga bank sebesar 18 sampai 20% setahun.  Belum lagi bank memerlukan agunan, sementara koperasi hanya memerlukan kartu pegawai dan slip gaji.  

Johan sudah hampir menjual mobilnya yang sekarang sudah berumur lebih dari 20 tahun itu.  Tetapi harganya tidak akan seberapa dibandingkan dengan kebutuhannya yang begitu besar.  Toko kecil yang Jual Beli Mobil Bekas di ujung jalan menawar 25 juta rupiah.  Memang itu harga pasar yang sekarang berlaku.  Tetapi Johan sementara bertahan dulu karena mobil tua itu diperlukan untuk menunjang mobilitas keluarganya selama Andre dalam terapi.  Johan sudah mengembalikan mobil pelat merahnya ke kantor sesudah dia tidak lagi memegang jabatan struktural. Untung akhirnya Johan mendapat pekerjaan baru di perusahaan First-Chem Industry itu.  Utang ke koperasi pegawai sudah ditutup dengan uang Tabungan Asuransi Pensiun atau Taspen yang dia terima begitu menyatakan berhenti dari pegawai negeri. Uang Taspen sebesar 15 juta rupiah itu dia bayarkan langsung menutup utangnya ke koperasi sebesar 12 juta. Dia meninggalkan departemen dengan hati lega dan langkah ringan diiringi oleh rasa haru sahabat-sahabatnya. Johan meninggalkan nama baik di kantornya.

 

(Bersambung)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018