Thursday, 06 August 2020


Melawan Penderitaan (19)

28 Jul 2020, 14:50 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Pengalaman Johan selama tiga bulan sesudah melihat penderitaan Andre adalah kisah paling buruk dalam perjalanan hidupnya.  Matanya tidak kuasa melihat pemandangan yang begitu mengerikan. Dan itu terjadi di depan matanya. 

Apa yang dilihatnya itu membentuk bayangan yang terus-menerus berputar-putar. Tidak mudah hilang dari ingatannya, meskipun dia memejamkan mata kuat-kuat. Hatinya berteriak. Menjerit mendengar anaknya mengerang saat merasakan kesakitan yang tak terkira. Itu adalah anak kandungnya.  Andreas! Bayi mungil yang dulu sekian lama ditunggu-tunggu kehadirannya; yang proses kelahirannya begitu menegangkan; yang menguras seluruh kekhawatirannya; dan yang dia pupuk untuk menjadi anak terbaik di dunia.  Dia melingkar-lingkar di lantai, menggeliat dalam kesakitan, dalam penderitaan, dan berteriak menjerit dalam kehinaan.  Ayah mana yang akan membiarkan penderitaan itu terjadi pada anak kesayangannya? Lalu membiarkan dia mati dalam kesakitan dan penderitaan?  Hanya cecak dan buaya yang akan melakukannya!   Mereka yang biasa makan anaknya.

“Ya Allah, jangan dibiarkan dia seperti itu.  Ya Allah, alihkan penderitaannya kepadaku,” katanya sambil bercucuran air mata.

BACA JUGA: Mengatur Strategi (18)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

 Doa Johan sehabis sholat Magrib hari itu diiringi jeritan hati yang sangat mengenaskan.  Kalau ada satu permintaan saja yang akan dikabulan Tuhan dan dia harus memilih, maka pilihannya sudah jelas: Minta anaknya Andreas disembuhkan dari ketergantungannya kepada obat.  Tidak ada permintaan lain.  Johan rela kalau harus ditebus dengan apapun yang dimilikinya. Kehilangan nyawanya pun akan dia relakan, asal anak yang sangat disayanginya itu dibebaskan dari penderitaan.  Dia meratap. Hatinya luka, seluka-lukanya. Dia menangis. Memohon dikabulkan permintaannya yang satu ini.  Dia geram mengapa negerinya yang dulu begitu tenteram dan jadi model bagi negara lain itu, sekarang diobok-obok bermacam-macam persoalan.  Bahkan, katanya sekarang, negeri ini telah menjadi tempat pemasaran barang haram itu.  Bahkan tempat memproduksi tersebar di berbagai kota di Indonesia. Mengapa? Apanya yang kurang dengan negeriku ini? 

Johan tak habis pikir, bagaimana peredaran narkotika sampai begitu meluas menjangkau pedesaan.  Pemakainya sudah mencapai anak SMP dan bahkan SD? Pengedarnya bisa saja dipenjarakan tetapi ternyata mereka mampu mengendalikan peredarannya dari balik terali besi? Pasti ada oknum yang terlibat. Yang membuat pengedarnya mampu melakukan itu. Yang menukar harga dirinya dengan sejumlah kekayaan dunia yang hanya bisa dinikmati sesaat saja. Padahal berakibat fatal bagi bangsanya dan keturunannya. Bahkan diberitakan ada oknum penegak hukum yang terlibat?  Jadi pengedar? Tidak hanya pengguna?

Beberapa saat Johan berhenti berdoa karena pikirannya melayang ke tempat lain. Dia marah.  Tapi kepada siapa harus mengadu? Sepertinya bukan hanya dia yang tak mampu berbuat apa-apa.  Ada sistem besar yang perlu dibenahi menurut Johan. Negaranya yang besar dan terhormat itu telah merendahkan derajatnya sendiri. Dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bangsanya sedang menelikung dirinya sendiri dengan sengaja. Indonesia telah menjadi tempat pembuangan sampah, pelarian teroris, pelemparan baju bekas, mobil bekas, oli bekas dan segudang barang hina lainnya?  Johan semakin geram kalau mengingat berita di televisi bahwa Indonesia mengimpor sampah. Menjadi “Negara Pemulung”. Kok diizinkan mengimpor sampah? Kok negara besar ini mengimpor sampah? Padahal sekali saja kapal kita ketahuan buang sampah di perairan negara lain, kapal kita disandera dan awak kapalnya dihukum.  Sementara kapal asing seenaknya membuang sampah di kawasan laut kita, dan kita tidak berdaya karena kita tidak bisa membuktikannya? 

“Pengedar narkoba ini perlu dihukum berat.  Hukuman mati.  Tegas.  Buktinya, negara tetangga yang sangat keras menghukum pengedar dan pemakai narkoba aman dari serbuan barang haram ini,” pikir Johan. 

Johan menghela nafas panjang.  Bahunya naik turun. Nafasnya terus memburu.  Dia mencoba meredam kekecewaannya. Mengatur nafas sebaik-baiknya.  Tantri yang duduk di sebelahnya, masih dalam posisi bangun dari sujud. Menengadahkan tangan. Meminta dan terus meminta.  Dan nama yang disebut dalam doa itu hanya satu: Andreas.  Di kepalanya hanya tergambar mukanya. Anak yang begitu disayangi dan dibanggakannya.  

Selama Andre dalam terapi, Tantri membersihkan kamar anaknya itu dari segala barang yang memungkinkan dia mencelakakan dirinya.  Tidak ada barang yang tajam, gelas dan  belah pecah lain yang akan memungkinkan dia nekad mengakhiri hidupnya.  Sampai gunting kuku pun dia ambil dari meja anaknya itu. Tantri menggigil ketika Andre mengatakan dia ingin mati saja.

“Kalau gak ada obat itu, Pa biarkan aku mati.  Aku sakit, Ma.  Tolong, Ma,” jeritnya.

“Andre, kami semua akan tetap membantumu, jangan ucapkan kata-kata putus asa begitu.  Kuatkan.  Ini Papa dan Mama ada di sini.  Adikmu ada di sini. Apa yang harus Papa lakukan,” desak Johan.

“Tolong Papa ...,” Andre berteriak keras sambil matanya melotot marah.

Begitu hebatnya kesakitan Andre. Begitu tidak teganya Johan melihatnya. Bahkan, terpaksa pula, pernah suatu kali Johan mencari barang haram itu untuk menenangkan anaknya.  

“Apa yang harus Papa lakukan, Nak. Apa yang harus Papa lakukan,” katanya berkali-kali.

Dia tidak mau anaknya mati seperti anak cecak dan buaya yang dia lihat di channel Animal World.  Biar aku cari barang haram itu hanya untuk menenangkan Andre kali ini. Biar aku korbankan diriku.  Pekerjaan ini sangat berisiko.  Dalam ketakutan Johan menelepon nomor yang ada dalam HP anaknya. Johan sudah gelap mata.  Apa pun dilakukan agar sekali ini anaknya terbebas dari kesakitan.  Sebungkus kecil bubuk putih dia terima dari seorang anak berbaju kumuh. Dengan sorot mata bingung dia menyaksikan Andre memakai barang haram itu di depan matanya. Johan terhenyak. Bibirnya bergerak-gerak. Air matanya menggenangi bibir matanya, kemudian jatuh membanjiri pipinya.  

Aku tak bisa membiarkan dia mati kesakitan.  Hari ini aku melihat dia memakai barang haram itu dari pemberianku sendiri, ayahnya, katanya disertai engahan panjang yang dia coba terus tahan.

Johan dan Tantri sudah sepakat untuk melakukan terapi secara bertahap. Johan melakukan survai yang  serius untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai narkoba.  Jenisnya, gejalanya dan pengobatannya.  Sejumlah besar situs internet dia buka untuk membantu mencari solusi terbaik dalam upaya menyembuhkan anaknya.  Sejumlah tempat terapi baik yang formal berdasarkan ilmu kedokteran maupun yang berupa pengobatan alternatif dia kunjungi.  Baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun yang dikelola oleh pihak swasta atau bahkan pesantren dan kelompok perguruan lainnya. Banyak dia menemui korban yang sedang diobati lalu melakukan wawancara dengan para pengelolanya.  Tetapi sebagian cara penanganannya tidak sesuai dengan hati nuraninya.  Yang disebut pengobatan, menurutnya, ada yang berbentuk penyiksaan.  Mungkin maksudnya supaya kapok, jera, tetapi Johan memperkirakan cara itu akan membekas dan menjadi dendam berkepanjangan.  Dia ingin mencari pendekatan yang manusiawi bahkan penyadaran melalui pendekatan cinta dan kasih sayang daripada melalui cara penyiksaan.

Terapi harus secara bertahap. Memberikan obat ringan dalam dosis rendah, secara bertahap dikurangi dan akhirnya diputus. Itu yang akan dia lakukan. Yang jelas akan melalui fase pembersihan darah dan sirkulasi organ-organ tubuh lainnya pada tubuh anaknya, sehingga darahnya menjadi bersih dan sistem metabolisme tubuhnya kembali normal.   

Dia tahu dari survainya. Prinsip perawatan setiap rumah rehabilitasi narkoba yang ada di Indonesia sangat beragam. Ada yang menekankan pengobatan hanya pada prinsip medis, ada pula yang lebih menekankan pada prinsip rohani. Atau memadukan kedua pendekatan tersebut dengan komposisi yang seimbang. Menurut Profesor Dadang Hawari, seperti yang dia baca di dalam situsnya di internet,  terapinya harus melalui berobat dan bertobat.   Pendapat profesor yang psikolog dan dai itu cocok dengan pemikiran Johan.  Dia yakin bahwa pendekatan psikologis sangat diperlukan dalam menanggulangi masalah narkoba, baik dari sisi pencegahan maupun pengobatan.  Bersama dengan Tantri, Johan ingin melakukan pengobatan yang manusiawi dan bertahap.  Dia melihat cara yang langsung dan tiba-tiba menghentikan obat secara drastis atau yang disebut Cold Turkey sangat menusuk nuraninya.  Apalagi jika cara ini dilakukan kepada anaknya sendiri yang dilihat setiap hari, bagaimana Andre menderita yang tak tertahankan.  

Andre akan tetap sementara tinggal di rumah dengan pengawasan agak ketat sampai siap secara mental dan rohani kembali ke lingkungannya semula. Fase ini memegang peranan vital, karena menumbuhkan kembali rasa kepercayaan diri pada penderita, menumbuhkan semangat dan keyakinan bahwa dia akan sembuh dan kembali normal. Bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungannya sangat diperlukan. Yang paling utama adalah pembinaan mental spiritual, keimanan dan ketakwaan, serta kepekaan sosial kemasyarakatan. Proses ini bisa meliputi program pembinaan jasmani dan rohani. 

 Andre sudah kecanduan shabu atau yang dikenal dalam dunia narkotika sebagai  SS, Ubas, atau Ice.  Narkoba dalam kelompok Amfetamin yang dibuat secara sintetis.  Dua kali  Johan mencari bubuk putih yang dibutuhkan Andre, tetapi sesudah itu dengan bimbingan dokter Andi, Andre hanya diberikan obat penenang yang secara bertahap diturunkan baik dosis dan frekuensinya.  Pemakaian bubuk putih, kuning atau coklat dan kristal kecil berwarna putih itu perlahan ditinggalkan. Segala sesuatu yang terkait dengan pemakaian shabu dibuang.  Bong yang dipakai untuk membakar shabu dan menghisap asapnya, dihancurkan. Johan melihat bong itu mirip seperti yang digunakan untuk menghisap candu yang ada dalam gambar komik Cina zaman dulu. Sekarang konsultasi ke dokter Andi dilakukan setiap tiga hari sekali. Dokter Andi pada awalnya memberikan amfetamin dalam dosis rendah, tetapi kali ini hanya memberikan kodein yang kecenderungan ketagihannya paling rendah. Itu sudah ditakar sesuai dengan resep dokter tempat mereka berkonsultasi. Menurut Tantri, yang tahu banyak tentang obat haram ini, memang ada jenis narkotik yang sah digunakan secara medis sebagai pereda nyeri yang sangat kuat disebut opioid.  Korban yang luka parah dalam keadaan perang  atau penderita yang dilanda sakit yang hebat seperti habis operasi, mendapat suntikan opioid dalam takaran tertentu yang dampaknya sedikit memungkinkan kecanduan. 

Andre memang tidak terbantu penuh dengan obat ini.  Dia sudah mengonsumsi shabu dalam takaran dan frekuensi tinggi.  Tetapi dengan diberikannya penenang, paling tidak dia agak tenang untuk sementara dan dalam waktu yang pendek.  Tingkat agitasinya menurun dan dalam beberapa saat sesudah pemberian obat itu dia tertidur.  Resep yang diterima dari dokter Andi itu diterapkan secara hati-hati dan Johan tak henti-hentinya memantau perkembangan anaknya.    

Tantri tahu bahwa tingkat keberhasilan terapi oleh obat perlu didukung oleh upaya untuk mencegah anaknya berhubungan lagi dengan orang-orang pengguna dan pengedar lainnya. Proses aftercare inilah yang terpenting untuk mencegah si penderita kembali ke lingkungannya yang semula. Berdasarkan data statistik tingkat keberhasilan penanganan kasus ketergantungan narkoba secara medis hanya 15-20 % saja.

Untuk sementara, Johan mengamankan hubungan anaknya dengan orang lain melalui telepon genggamnya.  HP yang dia belikan sebagai hadiah ulang tahun bulan Agustus lalu itu dia simpan.  Dia catat semua nama dan SMS yang masih ada dalam memory-nya.  Menurut Johan, komunikasi Andre dengan penjual narkoba itu pasti ada dalam HP-nya.  Semua telepon yang masuk dia catat.  Penelusurannya berhasil.  Beberapa nama yang dicatatnya dia yakini mempunyai hubungan dengan pengedaran barang haram itu.

Tidak  mudah bagi Johan untuk meneliti sampai terlalu jauh.  Kelihatannya para pemain ini pintar.  Mereka tidak menggunakan nama yang jelas.  Ketika HP Andre berbunyi menunjukkan SMS masuk, yang tertulis di sana adalah Bang Hikmat.  Mungkin nama Hikmat ini pelesetan dari Nikmat  

“Ini adalah nama sandi.  Kaitan-kaitannya sudah semakin jelas,” pikir Johan.  

Dia sudah menyimpan dendam dan berniat untuk ikut terlibat secara aktif dalam memberantas peredaran narkoba yang telah membuat anaknya menjadi korban.  Dia marah. Geram. Ingin mengamuk, menghancurkan jaringan jahat itu.  

“Masyarakat harus ikut terlibat, dan aku adalah bagian dari mereka,” katanya dalam hati. 

Itulah yang akhirnya terjadi.  Johan merancang jebakan.  Dia mengirim SMS ke Bang Hikmat minta kiriman diantar. Bersamaan dengan itu dia menghubungi polisi kawan SMA-nya dulu. Pada saat transaksi dilakukan, tiga polisi menggerebek dan dua orang pengedar shabu itu langsung ditangkap dan digelandang ke kantor polisi.

 

 

 

 

(bersambung ke:Menguji Ketabahan)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018