Sunday, 09 August 2020


Mengatur Strategi (18)

27 Jul 2020, 09:24 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Andre sudah dua minggu tinggal di rumah.  Johan sudah menetapkan sementara anaknya dirumahkan dulu agar mereka bisa menanganinya dengan baik.  Menghadapi situasi yang sangat berat itu, sepasang suami istri sepakat untuk mengurangi aktivitas di luar kantor di tempat bekerja masing-masing. 

Sepenuh waktu luangnya akan dicurahkan untuk menangani Andre.  Hampir Tantri minta berhenti bekerja, tetapi sesudah mereka pikir matang-matang, mereka memutuskan agar Tantri meneruskan pekerjaannya.  Mereka masih memerlukan penghasilan tambahan, apalagi pengeluaran mereka akan meningkat dengan adanya kasus yang dialami Andre. 

BACA JUGA: Sebuah Pengakuan (17)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Kasus yang menimpa Andre pasti akan menguras pikiran dan menggelembungkan biaya hidup keluarga Johan. Beruntung, setelah lima bulan Johan berhenti dari jabatannya, sekarang dia mempunyai usaha sampingan membantu perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran obat-obatan dan bahan kimia.  Perusahaan yang berbasis di Jerman itu memasok beberapa pabrik plastik, pupuk, insektisida, obat-obatan dan bahkan perusahaan air minum.  Dari usaha sampingannya, dia memperoleh pendapatan yang lumayan.  Jauh lebih besar daripada gaji PNS.  Akhirnya dia juga minta pensiun dini dari PNS supaya tidak mengganggu pekerjaan barunya.   Kebutuhan dana untuk sekolah anak-anaknya adalah salah satu alasan mengapa dia pindah ke perusahaan swasta. Alasan lain tentu saja menyangkut gonjang-ganjing politik yang banyak berdampak pada pekerjaannya sebagai PNS. Itulah alasan terbesar sampai akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil pensiun dini.  

Johan berpikir, jadi pegawai negeri sekarang semakin tertekan sesudah partai politik memasuki arena birokrasi dan menyusup sampai ke tingkatan paling bawah. Profesionalisme dalam bidang administrasi pemerintahan tercemar. Sistem pembinaan profesi dan pengembangan karier sebagaimana yang dia pelajari dalam teori di sekolahnya dulu dan dalam training yang diselenggarakan oleh kantornya, tidak berjalan dengan baik. Penempatan pejabat seakan-akan tidak lagi mengikuti aturan dan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Johan khawatir arah dan program kebijakan pembangunan yang dilaksanakan di departemen tidak bisa berkelanjutan.  Apalagi rencana pembangunan jangka panjang tidak lagi disusun sehingga tidak ada acuan dalam menyusun program tahunan.  

Johan merasakan kesedihan pada saat harus berpisah dengan pekerjaan dan kawan-kawannya yang telah digelutinya selama 26 tahun.  Pekerjaan sebagai PNS itu menurutnya sangat top-down.  Kondisi itu semakin dirasakan akhir-akhir ini. Semakin banyak instruksi dan disposisi.  Sebagai pegawai negeri, dia dan banyak rekan kerjanya, semakin terbiasa dengan pola itu.  Pekerjaan staf selalu terkait dengan kegiatan atau perintah atasan.  

Pada pekerjaan barunya sebagai Corporate Relation Manager, dia harus bergerak sendiri membuat hubungan kerja sama dan promosi tanpa selalu menunggu perintah atasannya.  Statusnya manajer, padahal pekerjaan Johan lebih mirip officer daripada manajer. Pekerjaannya lebih terfokus pada menjalin hubungan bisnis dengan customer.  Memang ada arahan baku yang telah ditetapkan perusahaan, tetapi dalam pelaksanaan, masing-masing staf bekerja leluasa mengembangkan kreativitas dan kemampuannya. Dengan pola ini, performa masing-masing pegawai juga akan segera kelihatan, sehingga penilaian berdasarkan merrit berlangsung dengan baik. Bagi Johan yang kegiatannya lebih banyak di luar kantor, hal ini membuat dia lebih leluasa mengatur waktunya karena tidak tergantung pada jam kerja yang sudah dipatok tetap.  Kreativitas dan hasil kerjanya, yang dinilai sebagai kinerjanya. 

Pekerjaan di perusahaan swasta First-Chem Industry, pemasok bahan kimia itu sangat menantang dan memerlukan komunikasi profesional.  Semua itu memerlukan penampilan dan kepiawaian bicara yang baik.  Membina hubungan baik bagi Johan bukan pekerjaan yang asing, tetapi yang agak berbeda sekarang penampilannya yang harus rapi, berdasi, berkantor di gedung megah serta menemui mitra kerja dan pelanggan kelas atas. Kartu namanya dicetak dengan kualitas baik menunjukkan kelas perusahaannya. Menurut konsultan perusahaannya, kondisi ekonomi nasional sedang mulai membaik. Oleh karena itu banyak perusahaan swasta membeli asset, menanamkan investasi, dan merekrut tenaga baru.   

Johan merancang waktunya agar bisa saling mengisi dengan istrinya dalam menjaga Andre.  Pembagian waktu untuk mengurus Andre kelihatanya sudah tidak masalah.  Tinggal bagaimana mencari cara terbaik untuk terapinya. Kondisi fisik Andre sudah jauh menurun.  Berat badannya anjlok drastis. Matanya cekung dan merah.  Kadang-kadang dia berguling-guling sakit perut.  Emosinya juga sangat labil, sensitif, mudah marah dan suka bicara kasar serta melawan kalau sedang ketagihan obat.  Matanya berair dan selalu berkeringat.  Dalam keprihatinan mereka menghadapi musibah ini, Johan dan Tantri berusaha tidak mengeluh dan tidak ingin memperlihatkan kesedihan. Sikap mereka terhadap Andre memang tidak dibuat-buat, tetap memperlihatkan kepedulian yang tinggi dan hati yang tulus untuk menolong anak sulung itu. Itulah ekspresi cinta yang sesungguhnya. Asli. Bukan sepuhan.    

Untuk sementara dokter Andi terus memantau dan memberikan obat penenang kalau dia mulai agresif karena putus obat. Perilaku Andre masih  sering agitatif dan sangat fluktuatif.  Kadang-kadang dia kelihatan mulai tenang, tetapi lebih sering seperti mengalami depresi berat, malas, mengantuk dan tidak peduli kepada orang lain.  Sikap apatisnya sungguh tidak memperlihatkan bahwa dia seorang Andre yang selama lima bulan yang lalu tampil sebagai seorang anak idaman dan belahan jiwa ayah. Dalam situasi seperti ini, Johan tetap melihat selalu ada harapan, walaupun harus melalui kesabaran panjang.  

“Jangankan Andre, serigala yang jahat pun selalu dapat dijinakkan dengan pendekatan kasih sayang,” pikirnya.

Hari Sabtu pagi yang indah dihangatkan oleh matahari yang terang, langit cerah tak tertutup sedikit pun awan. Keluarga anak beranak itu masih belum melakukan kegiatan apa pun.  Mbak Ani, pembantunya, akan datang agak siang karena harus pergi ke kondangan dulu.  Tetangganya punya hajat mengawinkan anaknya. Biasanya pagi yang indah itu mengawali kesibukan yang menggembirakan di rumah ini.  Walaupun mereka tidak melakukan perjalanan jauh ke luar rumah, ada saja yang membuat mereka gembira. Tetapi suasana batin di rumah kali ini sangat berbeda dari biasanya. Andre sudah mengerang dan menggigil.  Badannya melingkar di tempat tidur seperti kejang, mukanya menunjukkan kesakitan yang sangat.  Sudah beberapa hari Andre tidak mendapat bubuk putih langganannya.  Johan masih membiarkan anaknya dalam keadaan seperti itu.  Kata dokter Andi, tempat dia berkonsultasi, Johan dan Tantri mesti melihat gejala dan dampaknya secara jelas sehingga bisa dicari terapi yang paling tepat. 

Menurut dokternya, ketagihan  narkotik adalah ketergantungan fisik dan psikologis yang kuat.  Penderitanya punya keinginan yang kuat untuk terus menerus menggunakan narkotika.  

“Sesudah mereka melakukannya dalam frekuensi yang tinggi akan timbul toleransi dalam tubuhnya, sehingga untuk menghasilkan efek yang sama diperlukan dosis yang lebih tinggi,” katanya menjelaskan.

“Itulah yang menyebabkan seseorang akhirnya mengalami ketergantungan atau kecanduan.  Kata kecanduan kan berasal dari candu karena penghisap candu akhirnya mengalami ketagihan dan ketergantungan. Istilah ketagihan kemudian dinamakan juga kecanduan. Ketagihan candu,” lanjutnya. 

“Otak kita adalah semacam Central Processing Unit atau CPU yang hebat tak terkira yang tak tertandingi oleh komputer manapun buatan manusia.  Dia tidak hanya mengolah pengalaman menyenangkan yang datang secara alamiah, akan tetapi juga kenikmatan artifisial yang diperolehnya dari  konsumsi narkotika dan obat-obatan lainnya,” kata dokter lagi. 

Johan semakin banyak belajar tentang narkotik karena Andre membutuhkan perawatannya.  Dia tahu bahwa toleransi dan gejala putus obat yang ringan dapat terjadi dalam waktu dua atau tiga hari dari pemakaian yang berkelanjutan. Sebagian besar narkotik dalam jumlah yang sama dapat menimbulkan derajat toleransi dan ketergantungan fisik yang sama, sehingga para pecandu bisa mengganti satu jenis narkotik dengan yang lainnya. Pecandu yang telah mengalami toleransi mungkin hanya menunjukkan sedikit gejala dari penggunaan obat dan berfungsi secara normal di dalam kehidupan sehari-harinya selama mereka mengonsumsi narkotik.  Itulah sebabnya dia tidak segera mengetahui masalah Andre sejak awal. Dia sudah terlanjur ketagihan, padahal orang yang mendapat narkotik untuk mengobati nyeri yang hebat, memiliki risiko yang sangat kecil untuk menjadi pecandu asalkan mereka menggunakannya sesuai dengan resep yang ditetapkan. 

“Intinya tubuh akan meminta lebih banyak lagi narkotika dari luar yang mengakibatkan munculnya kecanduan berat. Dengan mengetahui mekanismenya serta unsur-unsur yang terlibat, para dokter dapat melakukan terapi yang tepat untuk penyembuhan yang kecanduan,” kata dokter Andi mengahiri penjelasannya.                                                     

Johan manggut-manggut. 

“Rupanya begitu kompleksnya arsitektur bangunan tubuh manusia yang diciptakan Tuhan.  Kita tidak pernah menyadarinya.  Betapa hinanya seandainya manusia tidak mensyukuri pemberian Tuhan dan betapa kelirunya kalau mereka tidak mempercayai keberadaan-Nya,” pikirnya.  

“Allahu Akbar,”  Johan mengucap asma Allah.

Johan tidak berniat untuk mengetahui detail proses ketergantungan obat dari sisi ilmu kedokteran, tetapi penjelasan yang dia peroleh dari dokter maupun dari yang dia baca memberikan gambaran utuh tentang masalah narkoba yang sedang dialami anaknya.  Menurut dokter, Andre sudah ketagihan shabu dalam dosis tinggi.  Bagi Johan hal ini sudah merupakan satu bencana yang memberikan pukulan mahahebat kepada dirinya dan keluarganya.  

Gejala putus obat pada orang yang telah menggunakan narkotik dalam dosis lebih tinggi dan dalam waktu yang lebih lama, biasanya lebih buruk.  Johan sudah melihat gejala itu seperti yang disaksikan di rumahnya.  Selain kesakitan hebat yang dia saksikan, Andre terlihat hiperaktif, keadaan siaga yang tinggi, pernafasannya cepat, agitasi, peningkatan detak jantung dan demam.  

“Tanda pertama dari gejala putus obat biasanya adalah pernafasan yang cepat, yang disertai dengan menguap, berkeringat, menangis dan hidung meler. Gejala lainnya adalah pelebaran pupil mata, merinding, gemetar, kejang otot-otot kecil, wajah kemerahan, nyeri otot, hilangnya nafsu makan, kram perut dan diare,” kata dokter Andi dalam pertemuan berikutnya dengan mereka.

“Sekarang apa yang akan aku lakukan?” tanya Johan kepada dirinya sendiri. 

Menghadapi satu kasus yang satu ini, Johan seakan sedang terbebani berjuta masalah.  Sangat rumit dan memerlukan upaya panjang yang tidak saja berbiaya mahal, tetapi juga berbahaya.  Anaknya telah terlibat dalam lingkungan yang mengerikan. Dia bukan anak jahat, tetapi dia telah berada pada lingkungan yang jahat. Seperti dalam mafia. Sekali masuk di sana tidak mungkin bisa keluar lagi dengan selamat. Anggota yang mau bertobat pun akan terancam jiwanya. 

Bisakah aku, sebagai seorang bapak, menolongnya?  Mampukah aku mengatasinya?  Bagaimana aku menyelamatkan anakku yang sangat kusayangi ini? Pertanyaan itu membungkus benaknya bagai awan hitam menutup langit sampai dia tidak mampu menjawabnya.

 

 

(Bersambung ke: Melawan Penderitaan)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018