Sunday, 09 August 2020


Sebuah Pengakuan (17)

26 Jul 2020, 18:53 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM -Kalau dia ingat jahatnya obat itu dan dampaknya terhadap anaknya dan juga dirinya, dia rasanya akan tega untuk langsung saja membunuh anaknya.  Tetapi anak kesedihan yang sedang bersimpuh itu adalah anak kandungnya dan tempat menumpahkan seluruh kasih sayangnya. 

Di setiap titik tubuhnya adalah penjelmaan dirinya, yang pandai, yang gagah dan segala yang terbaik.  Tantri menangis sambil memeluk anaknya.  Bertiga mereka berpelukan menangisi kekacauan yang tiba-tiba seakan menghancurkan seluruh harapannya.  Tantri yang mengenal betul dampak narkoba terhadap tubuh manusia sudah memperkirakan tahapan panjang yang harus dia tempuh untuk mengembalikan kondisi anaknya yang sekarang seakan setumpuk daging yang tidak ada gunanya.  

Dia paham bahwa pada awalnya Andre hanya bermaksud untuk meningkatkan daya tahan dan energinya. Tetapi niat baiknya itu dijalani melalui lorong yang telah membawanya ke lembah kehinaan. Orang bersimpati terhadap penderita kanker, tetapi kepada penderita narkoba? Semua pasti membuang muka dan menunjuknya sebagai aib.  Tidak hanya penderitaan penggunanya tetapi seluruh keluarganya.

BACA JUGA: Sebuah Pengakuan (16)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Andre telah mulai mengonsumsi amfetamin, shabu dan ganja sampai kecanduan pada tingkat paling berat.  Bagi Johan dan keluarganya, pekerjaan sangat berat yang akan dihadapinya nanti tidak hanya menyadarkan Andre tetapi juga mengatasi tekanan pengedar yang akan terus mengajak para penderita untuk tidak meninggalkan kebiasaan haramnya. 

Malam itu mereka semua berkumpul dan banyak diam.  Isyak tangis Santi yang melihat kakaknya tak lebih dari barang rongsokan membuat suasana makin mencekam.  Santi merasa berdosa karena memberikan uang terus menerus buat kakaknya dan ternyata digunakan untuk membeli barang haram itu.

“Kalau aku tahu Abang akan menggunakan uang itu untuk membeli barang sialan itu aku tak akan memberikannya,” katanya lirih.

“Papa, aku terlalu banyak berdosa sama kalian.  Papa bunuh aku saja.  Bunuh aku, Pa,” kata Andre memelas.

Mendengar ucapannya semua menangis dan memeluk Andre.  Sementara Andre mulai gemetar badannya karena sudah dua hari dia tidak mendapat asupan barang haram yang biasa dikonsumsinya. Dia sudah ketagihan.  Terlambat mengonsumsinya merupakan siksaan yang tiada taranya.  

Ini gejala putus asa yang menjadi ciri khas yang menderita ketergantungan pada narkoba. Tantri sudah melihat gejala yang timbul.  Andre menggigil menahan sakit, cairan keluar membasahi hidung dan matanya seperti sapi yang terkena penyakit mulut dan kuku.

Andre merasakan perutnya melilit seperti sedang dipilin.  Dadanya sesak seperti dihimpit beban yang sangat berat. Dia mencoba terus bernafas. Berat.  Setiap menarik dan mengeluarkan nafas terasa hawa panas melewati tenggorokannya. Dadanya seakan dibakar. Membara dan sakit tidak terkira. Hidung dan matanya terasa perih dan kini dipenuhi cairan yang terus keluar tanpa bisa ditahan. Gatal dan sakit. Seluruh persendiannya ngilu, sakit dan entah apa lagi namanya yang dia tidak bisa sebutkan. Dalam penderitaannya itu dia tetap tidak sadar akan dirinya. Seluruh organ tubuhnya tidak dapat lagi dikendalikan.  Otaknya sudah dikuasai satu kebutuhan. Obat. Zat adiktif yang dia biasa pakai.

Kaki dan tangan Andre bergerak ke segala arah memperlihatkan kesakitan dan penderitaan. Dia merasakan perutnya mual, perih seperti rasa lapar akibat tidak makan berhari-hari.  Itu berlangsung terus diremas-remas oleh ototnya yang tak berhenti berkontraksi.  Akhirnya dia muntah mengeluarkan cairan isi perut yang kuning dan berbau tidak sedap. Andre teriak. Teriak keras agar teriakannya menembus dinding dan terdengar oleh siapa saja yang bisa menolong dia. 

Dalam penderitaannya itu, kotoran cair menyembur dari dalam celananya seperti orang diare atau kena penyakit kolera. Kehinaan itu lengkaplah sudah. Dia terbaring dipenuhi semua kotoran yang dikenal oleh manusia. Badannya kembali menggigil dan bulu-bulu badannya berdiri persis seperti penderita flu berat. Kedinginan di tengah suhu badan tinggi, detak jantung yang cepat dan tekanan darah tinggi.  Ini adalah penderitaan mahahebat.  

Tak seorang pun tahu mereka harus bagaimana menangani Andre dalam kondisi ini.  Tubuhnya sedang minta asupan narkoba yang biasa dipakainya.  Semua menyaksikan kesakitan yang teramat sangat dan penderitaan yang menyeramkan.  Andre sudah lemas kehabisan tenaga dan nafasnya tersengal-sengal. Johan dan istrinya tidak tahan melihat penderitaan tetapi mereka seakan kehilangan akal.  

Penderitaan akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pecandu terhadap narkoba yang menimbulkan rasa segar dan semangat ini begitu mengerikan. Tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Andre terus berguling-guling dan teriak. 

Tantri adalah apoteker yang mengerti betul tentang obat, tetapi bagaimana menangani orang sakit bukanlah keahliannya. Dia bisa membantu mengurangi penderitaan Andre dengan memberikan amfetamin dalam dosis ringan tetapi Tantri merasa akan lebih aman jika menunggu sampai dokter datang.

Segera Tantri membersihkan badan Andre. Bersama-sama mereka mengangkat Andre ke kamar mandi dan Tantri dengan naluri seorang ibu membuka pakaian anaknya dan dengan tanpa sungkan membersihkan badannya. Semua ini mengingatkan dirinya seakan sedang mengurus Andre waktu masih bayi, ketika setiap hari dia membuka bajunya, memandikan dan mengganti popoknya. Andre baginya tetap seperti bayi. Yang dia sayangi dengan sepenuh hati. Air matanya menetes ketika dia menyiram, membersihkan kotoran dan menyabuni badan anaknya. Anak yang sedang berangkat dewasa dan sedang berusaha menemukan jatidirinya. Yang telah mengarungi jalan yang salah.  Tapi Tantri tetap mencoba untuk tidak menghakimi walaupun hatinya sedih tak terkira.

Andre masih terbaring lemah di tempat tidurnya.  Kini dia sudah berpakaian bersih dan ditutup selimut.  Tantri meletakkan handuk basah di atas kepala Andre untuk menyegarkan dan memulihkan kesadarannya. Sementara Johan masih tetap berdiri terpaku. Tidak bisa berkata apa-apa. Untung Santi masih sadar. Dialah yang segera menelepon dokter Andi minta dia datang untuk memberi pertolongan.  Hampir satu jam mereka harus menunggu karena dokternya sedang memeriksa pasien di tempat praktik di rumahnya.  Akhirnya dokter Andi datang dan memberikan suntikan untuk menenangkannya sementara. 

“Saya hanya memberikan penenang agar dia tidak berontak dan agresif.  Lain kali berikan saja penenang kalau dia ketagihan lagi.  Kalau Ibu tidak menyimpan cadangan saya akan tulis resepnya,” kata dokter Andi.

“Saya masih menyimpan beberapa,” jawab Tantri.

Dokter Andi kemudian menjelaskan keseluruhan proses terjadinya kecanduan narkoba kepada Johan dan Tantri dengan rinci dan panjang lebar. Bagi Johan penjelasan ini sangat teknis. Jauh dari bidang keilmuannya, tetapi dia sangat tertarik karena terkait dengan kasus anaknya. Johan mendengarkan dengan seksama. Sebagian besar tidak dipahaminya, tetapi bagian akhir penjelasan Dr. Andi dia simpan baik-baik dalam ingatannya.

“Pada orang-orang yang mengalami ketergantungan pada narkoba, mereka akan terus membutuhkan zat adiktif tersebut. Jika pemakaiannya dihentikan atau jumlahnya dikurangi akan timbul gejala putus obat. Gejalanya bergantung jenis narkoba yang digunakan. Narkoba juga mengganggu fungsi organ-organ tubuh lain, seperti jantung, paru-paru, hati dan sistem reproduksi, sehingga dapat timbul berbagai penyakit. Ganja menyebabkan hilangnya minat, daya ingat terganggu, gangguan jiwa, bingung, depresi, serta menurunnya kesuburan. Sedangkan kokain dapat menyebabkan tulang sekat hidung menipis atau berlubang, hilangnya memori, gangguan jiwa, kerja jantung meningkat, dan serangan jantung.”

“Jadi, perasaan nikmat, rasa nyaman, tenang atau rasa gembira yang dicari mula-mula oleh pemakai narkoba, harus dibayar sangat mahal oleh dampak buruknya. Seperti ketergantungan, kerusakan berbagai organ tubuh, berbagai macam penyakit, rusaknya hubungan dengan keluarga dan teman-teman, rongrongan bahkan kebangkrutan keuangan, rusaknya kehidupan moral, putus sekolah, pengangguran, serta hancurnya masa depan dirinya,” jelas dokter Andi.

 (Bersambung ke: Mengatur Strategi)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018