Thursday, 06 August 2020


Sebuah Pengakuan (16)

25 Jul 2020, 07:45 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Rumah Johan mendadak riuh ketika dua orang kawan sekolah Andre datang membawa Andre dalam keadaan teler.  Badannya basah berkeringat, jantungnya berdegup keras dan kesadarannya sangat menurun.  Dia masih berbicara tidak keruan yang tidak bisa dimengerti logikanya.  

Santi membuka pintu dan langsung berteriak memanggil ibunya melihat kakaknya dipayang dalam keadaan lemah tidak bertenaga.  Badannya tergantung di bahu dua orang yang menggotongnya.  Andre yang beberapa bulan lalu berbadan kekar itu kini lemah seperti tidak bertulang. Tantri berteriak memanggil Johan yang saat itu sedang sholat Isya.

“Dia ngobat, Bu. Nyabu,” kata salah seorang anak itu.

“Kami lihat dia tergeletak di belakang sekolah dalam keadaan tidak sadar,” kata temannya yang lain.

Tantri terhenyak. Badannya gemetar dan lemas melihat sesuatu yang paling ditakutkannya terjadi pada buah hatinya. Dia sudah melihat ada perubahan pada diri Andre, tetapi tidak pernah membayangkan sejauh itu.  Lagi pula Tantri sangat pecaya bahwa anaknya sangat bisa dipercaya, jauh dari bayangan seperti yang dihadapinya hari ini. 

BACA JUGA: Masuk Perangkap (15)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Atau aku secara tidak sadar berusaha menolak kecurigaan itu karena begitu sayang padanya sehingga tidak ingin melukai hatinya dengan menanyakan secara langsung kepada Andre?  Hati seorang ibu bisa membaca pikiran dan hati anaknya.  Bukan membaca dengan logika, tetapi dengan perasaan seorang ibu. Kini pikiran jelek yang ada dalam kepalanya jadi kenyataan.  Kecurigaannya telah terbukti.  Dia tetap menganggap anaknya tidak apa-apa dan dia tetap percaya, Andre yang sangat disayangnya itu, tetap sebaik seperti dulu.  Tantri telah berpura-pura pada dirinya karena begitu sayang pada anaknya.  

Sebagai seorang Sarjana Farmasi dia memahami, bagaimana kerja zat psikotropika berpengaruh terhadap sistem syaraf manusia sehingga dampaknya sanngat serius. Kini di hadapannya terbaring seorang pecandu yang mirip orang sakit flu berat, cairan keluar dari hidung, keluar air mata, muntah, dan kesadarannya hilang.  Dan dia adalah anaknya yang menjadi sandaran kasih sayangnya. 

Bom meledak di kepala Johan sesudah akhirnya Andre terus terang bahwa dia sudah terjerumus ke lembah hitam.  Lama dia diam tidak bisa bergerak.  Johan merasa lebih baik diam tidak melakukan sesuatu daripada dia kemudian kalap dan melakukan tindakan yang salah.  Sebagai orang yang banyak  gagasan dan banyak memberikan jalan keluar buat orang lain yang sedang dilanda masalah, Johan tidak bisa apa-apa menghadapi anaknya sendiri yang mengalami masalah. Johan, juga seperti halnya Tantri, masih percaya bahwa anaknya masih baik-baik saja walaupun sempat mempertanyakan kejujurannya. 

Perubahan fisik yang dia amati selama tiga bulan terakhir memang belum mengisyaratkan bahwa dia sudah menjadi pengguna obat haram itu. Rupanya dalam dua bulan berikutnya tanda-tanda itu semakin jelas.  Andre pernah dua hari tidak pulang dengan alasan dia akan manggung di kota lain dengan mendapat bayaran tinggi.  Lagi pula waktu itu hari Sabtu dan Minggu sehingga dia beri keleluasaan agar anaknya bisa mengembangkan kreasinya.  Tetapi setelah perilakunya semakin aneh, Johan secara keras bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Andre menyangkal keras waktu itu.  Mukanya tengadah dan menatap wajah ayahnya dengan sangat meyakinkan. Dia sudah jadi pembohong yang ulung. Sorot mata dan mimik mukanya tidak mencerminkan sama sekali bahwa dia sedang berbohong. Tetapi kali ini kebohongannya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.  Kenyataan.  Bukti.  Andre tergeletak lemah di sofa seperti seonggok manusia yang tidak berguna.  

Semalaman mereka bertiga terjaga, tidak sekejap pun memicingkan mata. Santi menangis seperti ditinggal mati seorang kekasih.  Air matanya tak berhenti mengalir, dan kini matanya merah dan bengkak.  Seorang kakak kebanggaan yang segalanya serba istimewa seperti dewa dari kahyangan kini ambruk seperti pakaian basah.  Mukanya yang cakap dan dagunya yang terbelah seperti buah peach itu tidak lagi bercahaya.  Muram, layu dan kotor.  Mulutnya kadang-kadang terbuka mengeluh tanpa kedengaran jelas apa yang dikatakannya.

Tantri membersihkan muka anaknya dengan handuk basah. Dia peluk erat dan dia cium keningnya.  Dua tetes air matanya jatuh ke pipi Andre, dan melihat seperti itu Santi tambah menangis. Santi mau berteriak keras, tetapi suara tangisnya dia tutup rapat dengan kedua telapak tangannya.  Hanya air matanya merembes lewat jari-jarinya.  Johan yang mulai sadar akan situasi segera memeluk Santi dan menenangkan anak perempuannya.  Santi seorang anak gadis manis periang yang hampir tidak pernah membuat masalah dalam keluarganya.  Santi sangat sayang kepada abangnya, sehingga apa pun yang dimilikinya akan dengan senang hati diberikan apabila diminta kakaknya.   

Ketika adzan Shubuh bergema hujan air mata mereka sudah mereda, tetapi kesedihan tetap mengendap dalam hati mereka.  Kejadian seperti itu adalah pengalaman pertama.  Tidak tahu apa yang harus mereka lakukan kecuali membawa Andre ke dokter.  Andre masih tetap dalam keadaan lemah.  Matanya nanar melihat orangtua dan adiknya.  Kalau ada tatap penyesalan yang diperlihatkan Andre, bagi Johan cukuplah untuk sementara itu, tetapi dia tidak melihat rasa penyesalan yang ditunjukkan anak sulungnya itu.

“Sabar, ya, Pa.  Abang kelihatannya belum sadar betul. Nanti kalau sudah sadar kita baru tanya bagaimana hal ini bisa terjadi,” kata Santi seolah dia bisa membaca hati ayahnya yang kecewa.

Johan mengerti apa yang dikatakan Santi.  Anaknya seakan menjadi sangat dewasa.  Ini saran yang sangat bijak yang dia dengar dari anaknya.  Padahal Santi hanya ingin terus melindungi kakaknya dari kemarahan ayahnya.

Jam 8 pagi bertiga mereka mengantarkan Andre ke dokter Andi yang rumahnya berada di ujung jalan ke kompleks.  Tantri sudah bikin janji akan membawa Andre sebelum dokter itu berangkat ke tempat kerjanya. Dia bukan dokter khusus yang menangani pasien korban narkoba, tetapi dokter umum itu termasuk yang bertangan dingin.  Dia banyak dipercaya oleh masyarakat di sekitar kompleks.  Pasien di tempat praktiknya di sebelah garasinya sangat banyak.

Pagi itu Johan dan Tantri berkonsultasi banyak sesudah dokter itu memeriksa keadaan Andre.  Tantri menjelaskan secara rinci tanda-tanda yang dilihatnya di diri Andre selama ini walaupun dia mengakui bahwa dia tidak mempunyai kecurigaan yang berlebihan terhadap anaknya. Tantri melihat kesibukan Andre belajar dan berlatih musik sehingga tidak berfikir bahwa anaknya masih sempat melakukan hal yang tidak terpuji. Apalagi prestasi di sekolahnya masih terus menunjukkan peningkatan.

Dokter Andi memahami apa yang dijelaskan oleh Tantri secara panjang lebar. Apa yang dikatakan Tantri sudah memberikan sebagian gambaran apa yang perlu dilakukan untuk menangani Andre. Konsultasi yang memakan waktu hampir satu jam itu tidak membuat dokter Andi merasa terganggu. Dia berjanji untuk membantu dan menyarankan Johan dan Tantri datang ke tempatnya setiap saat mereka memerlukan.

“Semua tergantung kepada kita yang sehat,” katanya.

“Kasus seperti ini harus ditangani secara hati-hati.  Jangan sampai kita memberi reaksi yang salah diterima oleh Andre sehingga akan membuat dia lebih frustasi.”

“Tetapi terus terang, penyembuhan ini tidak mudah.  Kita bisa memberikan pengobatan, tetapi pengaruh lingkungan luar termasuk pengaruh teman-temannya sangat besar. Itu  yang akan membuat dia terus kecanduan,” sambungnya lagi.

“Seperti Ibu Tantri tahu, narkoba dapat memberi pengaruh besar pada tubuh. Ada yang mengurangi aktivitas kerja syaraf, sehingga digunakan untuk menenangkan seseorang agar dapat tertidur. Ada yang mengaktifkan susunan syaraf pusat sehingga dapat merangsang dan meningkatkan kemampuan fisik seseorang. Ada pula yang menimbulkan perasaan yang tidak riil atau khayalan-khayalan yang menyenangkan,” begitu dokter Andi menerangkan.

“Penyalahgunaan narkoba dapat menimbulkan kesengsaraan yang berkepanjangan akibat pengaruh buruk pada otak atau susunan syaraf pusat seperti daya ingat, perhatian, perasaan, persepsi, dan motivasi.  Dampak lanjutannya adalah seperti yang Pak Johan dan Ibu Tantri rasakan sekarang. Seluruh keluarga dan bahkan masyarakat terkena akibatnya. Makanya, perlu dukungan dari orang terdekat terutama keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar.” 

“Harus ada komitmen dari semuanya,” ujarnya.

Sepulangnya dari dokter Andi, mereka berempat diam seribu bahasa.  Johan sudah menelepon ke kantornya bahwa dia tidak bisa masuk hari ini karena ada keperluan sangat penting.  Dia tidak pernah absen kalau tidak perlu sekali.  Tetapi kejadian ini adalah kejadian mahahebat dan berdampak mahabesar. Sambil menyetir mobil, dia berpikir apa yang akan dikatakannya kepada Andre.  Semula memang darahnya sudah mendidih dan ingin marah, tetapi kata-kata anak gadisnya itu meredam kemarahannya.  Seketika, kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubunnya itu turun sampai ke titik aman.  Logikanya kembali berfungsi.  Dalam beberapa hal tertentu Johan menyerahkan penyelesaian masalah kepada Tantri.  Sebagai laki-laki kadang-kadang kemarahannya tidak terkendali. Dia tidak sabar melihat sesuatu yang sangat menyimpang dari akal sehatnya.    

Sebelum Johan bertanya sesuatu, Andre datang sungkem ke pangkuan ayahnya.  Dia tidak berkata apa pun.  Kepalanya menggeleng-geleng menunjukkan penyesalan terhadap apa yang telah dilakukannya. Johan masih terdiam. Matanya masih memandang jauh entah ke mana.  Akhirnya Tantri yang menarik tangan Johan dan meletakkannya di kepala Andre. Andre menangis keras.  Tangannya keras memegang tangan ayahnya.  Semuanya terdiam dan tegang.  Tak ada yang bicara.  Mata Johan mulai berkaca-kaca.  Diperhatikannya rambut anaknya yang acak-acakan tidak keruan, dan badannya yang telah jauh menyusut.  Akhirnya di antara sedu-sedan yang keras Andre memaksa berbicara.   

“Maafkan aku, Papa,” katanya.  Dia menunduk dan mencium tangan ayahnya, lalu dengan badan bergetar dia melanjutkan lagi “Aku tak tahu lagi harus gimana menjelaskannya kepada Papa.”

“Aku tak bisa mengatakannya mengapa bisa terjadi,” katanya seolah dia menjawab walaupun tak seorang pun bertanya.

Air matanya keluar deras dan dia terus menangis sejadi-jadinya di pangkuan ayahnya.  Johan melihat setumpuk kesedihan yang sedang bersimpuh di pangkuannya.  Segunung dosa yang sedang melekat di kakinya. Kesedihan dan dosa itu adalah seorang pemuda yang gagah dan pintar yang dia namakan Andreas yang berarti laki-lakinya laki-laki. Yang sedang bersimpuh di kakinya. Johan tidak bisa bicara.  Suaranya tersekat di kerongkongan.  Di kepalanya bercampur  antara kemarahan, kepedihan, sayang dan cinta.  Semuanya campur aduk dan dia tidak tahu perasaan hatinya waktu itu harus dinamakan apa.  Anak kesayangannya yang sejak bayi dia timang, dia manja dan dia doakan, setelah besar dia didik dan dia sekolahkan, diimpikan dan diharapkan menjadi seorang berguna dan dapat dibanggakan.  Sekarang adalah tumpukan kegagalan yang tidak mudah untuk diurai dan dipecahkan.

“Kalau aku tidak kuat iman, kalau aku sakit jantung, kalau aku tidak bisa menahan nafsu, mungkin aku sudah mati saat ini,” pikir Johan.

“Barangkali aku lebih baik mati. Buat dirinya sendiri barangkali betul! Tetapi itu sama sekali tidak memecahkan persoalan.  Persoalan besar ini harus ditangani, bukan untuk ditinggalkan.  Mati bukan menyelesaikan persoalan tetapi meninggalkan persoalan kepada yang masih hidup.  Dengan cara itu barangkali aku malah meninggalkan dosa yang lebih besar,” pikiran itu menyelubungi kepala Johan.

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018