Thursday, 06 August 2020


Masuk Perangkap (15)

24 Jul 2020, 08:32 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - “Kasihan dia sangat kecapaian.  Biarkan dia tidur dulu, mungkin bisa sholat nanti malam kalau bangun dan badannya sudah segar,” kata Johan kepada istrinya. 

“Dia terlalu memaksakan dirinya untuk berlatih musik. Mama lihat dia kurang belajar akhir-akhir ini,” sambut Tantri.

“Ya, Papa gak keberatan kalau dia mendalami musik, tetapi dia harus menyelesaikan sekolahnya paling tidak lulus jadi sarjana,” bela Johan.

“Pendidikan itu sangat penting.  Apa pun yang akan mereka harapkan nantinya, dasarnya harus pendidikan,” lanjut Johan.

Kata-kata Johan ini pernah jadi bumerang ketika dia katakan kepada Andreas waktu mereka berdebat tentang pendidikan.

“Tetapi kata Pak Daniel, guru musikku, piano adalah dasar segala macam musik yang ada.  Aku gak belajar piano, tetapi langsung mendalami gitar?” bantah Andre.

BACA JUGA: Masuk Perangkap (14)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

“Itu hanya karena kita tidak sanggup membeli piano!” jawab ayahnya tegas.

Sudah tiga bulan Andre tidak kelihatan segar dan kokoh seperti biasanya.  Memang akhir-akhir ini Johan melihat ada sedikit kelainan pada anak laki-lakinya itu.  Dia kelihatan lelah, kelopak matanya menggantung, mukanya tidak segar dan terlihat seperti selalu kelelahan. Tampak pucat dan loyo. Tetapi dia tidak curiga jauh.  Akhir-akhir ini dia sangat sibuk berlatih musik dengan kawan-kawan satu grupnya, ditambah dengan ujian-ujian yang begitu banyak yang biasanya menumpuk pada pertengahan semester.

“Kamu jangan terlalu memaksakan diri berlatih musik kalau lagi banyak ujian, Nak.  Utamakan dulu pelajaranmu,” kata ayahnya suatu sore ketika Andre baru saja datang ke rumah.   

“Iya, Pa,” jawab Andre sambil menunduk dan langsung masuk ke kamar tidurnya.

Kali lain Andre datang dengan kegembiraan dan semangat yang tinggi sampai membuat seisi rumah kaget.  

“Bang, kok gembira amat hari ini? Kamu dapat lotere, Bang?” tanya Santi .

“Ah, kamu bisa aja.  Boleh dong Abang sekali-sekali senang,” jawab Andre santai.

“Abang mau pentas lagi, ya” tanya Santi .

“Kok kamu sudah tahu. Siapa yang bilang?”

“Tadi ketemu Kang Asep. Dia cerita mau ke Pelabuhan Ratu diundang oleh apa tuh, Hotel Samudra Beach, ya.”

“Tetapi jaga selalu kesehatan dong, jangan sampai kayak kemaren dulu.  Kok kelihatan loyo banget kayak orang habis minum pil koplo,” Santi bergurau.

“Kok tahu pil koplo?” Andre agak kaget takut perbuatannya ketahuan adiknya.

“Ya, baca buku cerita, ha ha ha ...  Itu kan banyak diberitakan di koran. Yang minum pil itu jadi koplo alias goblok,” Santi tertawa terbahak-bahak.

“Tetapi jauh-jauh hari bilang sama Papa, dong, Bang.  Minta izin. Dia suka khawatir,” kata adiknya menyarankan.

“Ya. Aku akan cerita,” jawab Andre pendek.

“Dan juga bagi-bagi honornya.  Kali tabungan Abang udah segini, ya,” kata Santi sambil mengangkat tangannya di atas kepalanya.   

  Andre tertawa melihat tingkah adiknya.  Diam-diam Andre mulai khawatir. Keinginannya untuk terus menggunakan serbuk putih dan ganja itu sudah tidak bisa ditahan lagi.  Keinginan kuat yang tidak bisa dia tolak. Satu keharusan. Seperti makan. Tanpa itu dia merasa lelah tak bersemangat. Logikanya tetap jalan.  Dia tahu bahwa dia dalam taraf ketagihan dan dia harus melakukan upaya sesuatu untuk berhenti, tetapi dia tak kuasa. Terlebih lagi karena teman-temannya yang sama-sama menggunakan barang haram itu selalu menggodanya.

Andre tahu kalau di Indonesia ganja dikelompokkan sebagai zat adiktif dan yang ketahuan menggunakan atau menyimpan barang haram akan berhadapan dengan hukum.  Di koran yang dia baca, ada beberapa pengedar bahkan pengguna ganja yang ditangkap polisi dan mendapat hukuman berat.  Bertahun-tahun. Rupanya baik pengguna maupun pengedar diganjar hukuman berat.  Apalagi di Malaysia. Mereka dihukum mati. Andre merinding membayangkan hal itu. Ketakutan itu muncul.  Tetapi pada saat dia sedang memerlukan, semuanya hilang dari pikirannya.  Otaknya tidak jalan untuk dibawa berpikir normal.  Seluruh gerak tubuh dan ototnya tidak lagi dalam kekuasaannya.

Dalam keadaan sadar, hatinya tetap mengatakan bahwa apa yang sedang dialaminya adalah satu kesalahan besar, satu bencana buat kehidupannya.  Tetapi dia menolak dan tidak mengakui kata hatinya dengan berpegang pada pendapat lain yang menyatakan beberapa nilai positif dan manfaat tanaman ganja selama penggunaannya terkontrol. Masyarakat Aceh masih menggunakan daun tanaman ini untuk bumbu masak. Selain itu, di negara lain seperti Belanda, ganja sudah dilegalkan untuk dihisap di tempat tertentu.    

Tak ada bahaya berlebihan dari tanaman ini seperti yang selalu disebutkan orang.  Daun ganja memang bisa menimbulkan efek halusinogen yang membuat orang yang mengonsumsinya terhalusinasi, tetapi itu tidak sampai membuat efek negatif yang besar.  Oleh karena itu, Andre tidak khawatir benar akan dampaknya.  Dia hanya ingin sekali-sekali melanglang buana ke alam yang menyenangkan. 

Tidak selalu dikejar dengan belajar, pekerjaan rumah dan ulangan. Latihan musik juga kadang-kadang dirasakan jenuh. Dia ingin membebaskan diri dari segala keluhannya. Lagi pula barang yang di kalangan penjualnya disebut cimeng, gele, atau entah nama apa lagi untuk barang terlarang itu, mudah diperoleh asal melalui orang yang tahu.  Biasanya para pemakai saling mengetahui rahasia, di mana dan kepada siapa membelinya serta berapa harganya.  Para pengedar narkoba memang telah membangun rantai jaringan yang hanya diketahui di kalangan mereka sendiri.

Bahkan di antara para pengedar sendiri, rantai jaringan itu bisa tetap misterius. Mereka bisa tidak saling mengetahui satu sama lain. Itulah sebabnya, aparat keamanan sering kali kesulitan membongkar tuntas jaringan itu. Sang bandar utama perdagangan barang haram itu, bisa terus leluasa mengendalikan peredaran barang-barang sejenis itu.

Andre tidak menyimak kata “menyebabkan ketagihan” yang justru menjadi jalan yang menjerumuskan ke jurang bencana. Andre antara lupa dan ingat bagaimana pertama kali dia mengisap ganja. Yang jelas dia memperolehnya dengan cuma-cuma dan betul-betul hanya karena ingin coba-coba. Dia tidak tahu siapa yang memberinya.  Tanpa menghisap rokok khususnya atau mengisap uap shabu lewat “bong” pembawa neraka itu, seakan dia tidak bisa mendapat kebahagiaan dan kepuasan.

Tentang amfetamin dan shabu-shabu, menurut Andre ternyata tidak juga menyebabkan kematian.  

“Ini hanya untuk membangkitkan gairah dan kemampuan,” pikirnya. 

Kini Andre sudah mulai merasakan ketergantungan berat. Keinginannya untuk bermain musik menjadi lebih baik dan lebih populer itu telah menjeratnya ke lembah bencana yang sulit untuk kembali. Perjalanan untuk kembali dari jurang yang curam berdinding licin begitu melelahkan.  Begitu dia terpeleset kembali ke dasar jurang, dia kembali menikmati kebahagiaan palsu itu melalui penghilangan kesadaran dan akal sehatnya.   Tanpa menggunakan serbuk putih itu, seakan-akan dia tak bisa perkasa bermain musik dan bertahan lama di panggung. Seolah-olah, semuanya tidak bisa jalan. Serbuk putih yang dihisap uapnya melalui bong yang diberikan abang berkacamata hitam itu serasa memberikan kehidupan baru. Bubuk yang satu ini dirasakan lebih nikmat dan fancy. 

Andre seperti sudah lengkap menjadi penikmat narkoba sejati.  Tidak hanya menikmati pengaruh terhadap pikirannya, tetapi juga menikmati cara mengonsumsinya.  Seperti makan enak yang tidak hanya karena makanannya yang membuat nikmat, tetapi juga cara penyajian, tempat dan cara membuatnya, agar makan bisa lebih berselera.  Fancy. 

“Ya, memang seperti enaknya menikmati makanan Jepang “Shabu-Shabu” atau “Tepanyaki” yang dimasak langsung di depan mata,” pikir Andre.

Sekarang orang berkacamata itu sudah tidak pernah datang lagi membawa barang gratisan.  Andreas harus membeli barang itu lewat orang lain.  Tetapi tidak sulit, karena dia bisa beli dari tukang rokok yang nongkrong di pinggir jalan dan buka sampai tengah malam, atau pesan dari anak-anak yang sehari-hari berjualan koran di pinggir jalan. Kadang-kadang dia tertawa sendiri membaca berita tentang narkoba yang katanya beredar dan dijual secara gelap.  Bagi dia yang sudah tahu, barang itu dengan gampang diperoleh di mana pun dan kapan pun dia memerlukannya. 

Nomor HP Abang berkacamata itu tersimpan rapi di memori HP-nya dan kalau dia memerlukan pasokan dia bisa langsung pesan dengan menggunakan kata sandi.  Semuanya mudah dan sepertinya orang tidak peduli.  Andre tahu betapa banyak anak yang satu sekolah dengannya sudah ngobat seperti dia.  Sangat banyak. Walaupun dia mengeluarkan uang cukup besar untuk memenuhi keinginannya, tetapi masih bisa dicukupi oleh hasil pertunjukannya. Sampai saat ini dia tidak meminta uang dari orangtuanya. Sekarang  badannya terasa semakin lemah, semakin tak bertenaga, mengantuk serta sering hilang keseimbangan apabila agak lama barang itu tidak tersedia di kantongnya.  Walaupun sering pulang telat, Andre selalu memberikan alasan yang masuk akal. Ayahnya sampai sekarang belum menaruh curiga terhadap apa yang terjadi.

“Ingat, Nak.  Jaga kesehatan kamu.  Jangan terlalu habis-habisan melakukan kesukaan kamu karena kalau sudah sakit akan merugikan kamu sendiri. Kamu harus menjaga kesehatanmu sendiri.  Segala sesuatu harus selalu ada dalam keseimbangan,” Johan mengingatkan pada suatu hari ketika melihat Andre begitu lelah pulang dari sekolah.    

Johan sangat mengamati perubahan dalam diri Andre, tetapi dia tidak pernah berpikir terlalu jauh.  Ini perubahan pada diri anak muda pada saat umur pancaroba, pada umur ketika anak muda mencoba menemukan dirinya sendiri.  

“Yang penting aku masih bisa membimbingnya,” pikir Johan. 

Tetapi lambat laun Johan mengetahui kalau hasil ulangan dan performa sekolahnya mulai menurun.  Andre menjadi malas.  Tidak bergairah.

Andre sebenarnya tidak mencoba sengaja karena ingin berpetualang yang berisiko.  Hanya saja keseriusan dalam berlatih musik dalam grupnya yang begitu melelahkan disertai semangat untuk menampilkan yang terbaik, itu dilakukan dengan cara yang salah.  Anggota grupnya yang terdiri dari anak-anak baik itu terjebak ke dalam perangkap orang jahat yang sudah terorganisasi  yang mempunyai  jaringan yang sangat rahasia.  Memang ada dampak perubahan yang mereka alami secara sangat tiba-tiba.  Mereka merasa ada kekuatan dan inspirasi serta kreativitas baru dalam penampilannya di panggung. 

Dia puas dan bahagia dengan reaksi penonton yang memberikan applaus yang memuaskan.  Keinginan untuk menghasilkan performa yang tinggi itu kemudian ditebus dengan konsumsi barang ini secara terus menerus sehingg telah berakibat pada fase ketagihan.  Permulaan yang sepele mulai dari merokok sampai kemudian mengonsumsi ganja dan memakai shabu ternyata berlanjut pada taraf yang lebih berbahaya lagi.  Menjadi lebih sering dan lebih banyak.  

Tingkat adiktif ini telah membuatnya tak tahan ingin mencoba yang lebih keras untuk membuat dia terbang ke awan atau memberi kekuatan yang hebat.  Sekarang Andre merasa seakan-akan tak ada kekuatan yang bisa menahan dia untuk tidak mengulangi kebiasaan jeleknya itu.  Dan para penyedia dan penyalur akan terus membuatnya terjerumus lebih dalam.  Inilah bencana hebat yang akhirnya membuat Andre dan kawan satu grupnya terperangkap ke dalam gelapnya kehidupan.

Permasalahannya semakin rumit, karena akibatnya tidak hanya menyangkut kesehatan dan dirinya sendiri, tetapi juga keluarga dan lingkungan. Belum lagi keterlibatan dalam dunia kriminalitas yang mengancam keamanannya.  Andre menjadi seorang pengguna dan akhirnya kecanduan pada taraf tingkat tinggi.  Proses ini begitu pendek, hanya selang lima bulan sejak Andre mencoba pil putih, serbuk putih, dan rokok ajaib sampai akhirnya dia berada pada kondisi yang memilukan.

 (bersambung ke Sebuah Pengakuan)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018