Thursday, 24 September 2020


Masuk Perangkap (14)

23 Jul 2020, 07:44 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Waktu terus berjalan tak terasa.  Hari ini lewat berlalu dan kemarin pergi tak akan kembali. Tanpa siapa pun mampu menahan kepergiannya. Siapa pun akan melalui perjalanan yang berfluktuasi, kadang ada di atas dan kadang ada di bawah. Lagi-lagi, positif dan negatif yang berlawanan itu selalu berdekatan dan bahkan berpasangan. 

Seperti hidup dan mati.  Kematian seseorang itu menempel melekat pada kehidupannya. Kematian bisa datang kapan saja, seperti juga kelahiran yang setiap hari datang tanpa henti. Begitulah yang dialami Andreas dan kawan-kawannya.  Puja-puji akan kepiawaiannya tidak selamanya mereka terima.  Kelelahan yang amat sangat sering mendera mereka, karena energi terkuras hebat. 

Sekolah dan belajar merupakan kegiatan rutin yang tidak mungkin ditinggalkan, sedangkan latihan musik yang tadinya sekadar hobi, sekarang menjadi keharusan. Ada keinginan dan cita-cita yang terkait dengan musiknya itu. Mau tidak mau, latihan itu sekarang menjadi beban. Pertunjukan musiknya tidak lagi santai seperti pada awalnya.  Sekarang ada target. Sekarang harus lebih baik dari yang lalu.  Yang akan datang harus lebih bagus dari hari ini.  Dan tidak hanya memainkan alat musik dan menyanyi.

BACA JUGA: Masuk Perangkap (13)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Mereka terus memikirkan lagu apa yang akan dibawakan, cara baru apa yang dipertontonkan, pengantar apa yang akan disampaikan.  Ada desain.  Ada perencanaan. Semuanya harus dipikirkan. Ini adalah beban. Mereka bertiga tidak hanya dibayangi oleh kegembiraan dan kepuasan, tetapi juga stres dan kecewa, target dan harapan, dan beban ambisi yang sebenarnya belum waktunya mereka pikul.  

Pak Daniel mengajar mereka dengan disiplin tinggi. Pada jam latihan semuanya harus berkonsentrasi dan tidak ada yang bergurau. Petikan gitar mereka harus seirama dengan lagu yang dinyanyikan. Harus pas dan serempak. Andre tidak pernah bercerita tentang kelelahan kepada Pak Daniel. Biasanya, selepas latihan berat itu, mereka bertiga memulihkan tenaga dengan tidur. Dan sekarang? Pil putih itulah satu-satunya obat yang dianggap dapat memulihkan tenaganya dalam waktu yang singkat. Selama itu, semuanya berjalan lancar. Untunglah pria berkacamata itu selalu datang pada saat mereka membutuhkan. 

Tablet putih kekuning-kuningan itu diterimanya lagi dengan gratis.  Bahkan mereka sudah melangkah lebih jauh.  Sekarang telah mulai mencoba serbuk putih yang bernama shabu.  Si abang berkacamata hitam menyebutnya shabu atau dibalik menjadi ubas, tetapi Tantri pasti tahu bahwa itu adalah turunan Amfethamin yang bernama Metamphetamine, senyawa kimia yang merupakan stimulan yang memberikan rasa percaya diri dan gairah bagi pemakainya.  

Bermula dari hanya keinginan untuk mempertahankan stamina dan kebugaran agar pertunjukanya berhasil. Kini mereka mulai terus menerus menggunakan serbuk putih itu dalam frekuensi yang makin sering. Karena kebutuhan rutin akan obatnya terus terpenuhi, tidak ada perubahan yang membuat orang lain curiga bahwa tiga sekawan ini telah mulai terlibat jauh dalam mengonsumsi si obat ajaib itu.

Memang Amfetamin dan turunannya tergolong obat yang memacu kerja otak, sehingga disebut stimulansia yang menimbulkan rasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, hubungan dengan orang lain menjadi akrab. Yang tidak diketahui oleh Andre dan kawan-kawannya adalah dampak serius yang ditimbulkannya dalam jangka panjang. Diawali dengan gejala tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Yang termasuk ke dalam jenis stimulansia ini selain shabu adalah ekstasi, kokain, dan bahkan nikotin yang terdapat dalam tembakau. Dampak penggunaan yang tidak terkontrol tidak pernah mereka pikirkan. 

Secara perlahan mereka mulai terperosok pada ketergantungan. Tanpa menggunakan obat itu, mereka merasa lelah, tidak bersemangat dan tidak bisa konsentrasi. Sekarang dia harus mencari dan membeli. Dia membutuhkan pada setiap kesempatan. Lagi, lagi, dan lagi.

Mereka sama sekali buta terhadap pengaruh yang berbahaya akibat penggunaan obat-obatan ini terhadap tubuh. Sebagai seorang apoteker Tantri mengetahui dampak berat yang akan dialami oleh para pengguna shabu. Dampak yang serius dan sangat membahayakan. Tantri tidak menyadari bahwa ancaman itu sedang mencengkeram anak kesayangannya.  Dia tidak menyadari di balik kesuksesan Andre dalam permainan musik dan pertunjukannya ada tangan-tangan keji yang sedang menjerumuskan anak sulungnya ke dunia yang kotor dengan resiko cacat dan bahkan kematian.  

Sejak Andre aktif di dunia musik, jauh di lubuk hatinya Tantri selalu kuatir karena dunia musik, yang biasanya diikuti dengan  kehidupan gemerlap dan kehidupan malam akan sangat rawan terhadap narkoba. Banyak kasus yang dia dengar dan dia baca di berbagai media. Tidak kurang sejumlah bintang film dan selebritis terkenal terjerumus ke dunia hitam tersebut sehingga mematikan karir mereka dan menghancurkan dirinya maupun keluarganya.  Obat itu akan berpengaruh jahat sehingga para penggunanya akan menderita gangguan  kerja seluruh sistem syaraf. Dampaknya itu yang sangat ditakuti Tantri.

Menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi anak muda pada masa sekarang ini menurut Tantri adalah ibarat meniti jembatan tinggi yang sempit dan panjang. Kalau terpeleset maka akibatnya akan fatal. Terlalu besar resiko yang harus ditanggungnya.  Gangguan terhadap syaraf-syaraf tersebut akan mengakibatkan kebutaan, gerakan yang tidak terkontrol sehingga bisa melakukan apa saja, seperti mengganggu orang atau berkelahi, dan melakukan sesuatu yang memalukan di luar kesadarannya. 

Pengaruh lain ke otak muncul dalam bentuk timbulnya rasa takut dan kurang percaya diri dan gangguan memori jika tidak menggunakannya. Dalam jangka panjang, secara perlahan bisa merusak sistem syaraf pada otak, mulai dari gangguan yang ringan sampai ke gangguan permanen. Saat penggunaan obat, muatan listrik dalam otak berlebihan. Jika sudah kecanduan, maka lama-lama kelamaan syaraf bisa rusak.

Semua dampak yang akan ditimbulkannya sangat mengerikan.  Dan yang lebih menyulitkan, sekali seseorang terjerumus ke dalam ketergantungan obat ini, mereka tidak mudah untuk meninggalkan kebiasaan buruknya. Terlalu banyak yang menjadi penghalangnya.  Dirinya sendiri, karena sistem tubuhnya yang terus meminta asupan obat; pengaruh teman yang terus menarik korban untuk tetap dalam lingkungan mereka; dan tekanan para pengedar yang mengambil keuntungan dari ketergantungan korbannya.

Tantri bergidik kalau membayangkan akibat fatal yang akan diderita seorang pengguna narkoba. Itu adalah suatu kehancuran kehidupan seseorang. Dan tentu saja dia tidak ingin hal itu terhadap siapa pun yang disayanginya. Korban pun sudah sangat banyak. 

Kasus narkoba sudah sangat serius. Tapi penanggulangannya masih belum optimal. Menurut H. KRH Henry Yosodiningrat, Ketua Umum DPP Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat), sedikitnya lima orang meninggal dunia setiap hari di Indonesia akibat kecanduan narkoba, sebanyak empat juta penduduk Indonesia saat ini menderita kecanduan narkoba dan sedikitnya lima orang dari penderita meninggal dunia setiap hari atau 1.800 orang dalam setahun. Setiap hari penderita baru bertambah delapan orang. Sedangkan peredaran narkoba di Indonesia menyerap dana masyarakat hingga Rp 800 miliar per hari atau mencapai Rp 292 triliun setiap tahun.

Andre dan kawan-kawannya juga mulai berpetualang mencicipi mengisap ganja.  Ini pun berasal dari iseng dan coba-coba. Abang berkacamata hitam itu mengatakan ganja bisa sejenak melepaskan diri dari stres dan kecapaian tanpa ada pengaruh apa-apa di kemudian hari. Cacahan daun tanaman species Canabis sativa ini tidak terlihat aneh sama sekali di mata mereka.

Jika sudah dalam keadaan kering, ganja tidak ada bedanya dengan tembakau. Andre sendiri tidak tahu bagaimana bentuk daun ganja yang sebenarnya. Yang dia terima dari seorang yang memberikannya cuma-cuma itu sudah dalam bentuk rokok.  Tembakau dari rokok kretek itu dikeluarkan sebagian dan diganti cacahan halus berwarna coklat.  Dari luar terlihat seperti rokok biasa, tidak ada yang curiga.  Andre dan kawan-kawannya yang mencoba mengisap rokok khusus itu dalam waktu yang singkat merasakan kenikmatan yang menakjubkan.  Badannya seakan melayang dan pikirannya tenang.  Tak ada ketakutan, persoalan, kesulitan yang kadang-kadang melilit pikirannya. Kenikmatan yang hebat, seolah-olah badannya melayang ke dunia yang lain yang sarat kebahagiaan. 

Malam hari sesudah pengalaman pertama menghisap rokok khusus itu, Andre pulang dalam keadaan segar, dan nafsu makannya meningkat.  Dia makan banyak dan kemudian tertidur pulas sampai tidak bisa dibangunkan untuk sholat Isya.  Ayahnya hanya menggeleng-geleng kepala tanpa tahu apa yang telah terjadi.

Dia menatap anak kesayangannya itu di antara harapan dan kecemasan. Anaknya kini semakin beranjak dewasa. Enambelas tahun sudah dia membesarkan anak ini dengan segala curahan kasih sayangnya. Jiwa raganya akan dia korbankan untuk keberhasilan hidup anak ini. Anak yang sempurna dilihat dari semua sisi. Andreas Johan Siregar. Tumpuan harapan untuk menancapkan keunggulan marga Siregar yang sangat dibanggakannya. Johan membetulkan selimut anaknya yang melorot kemudian perlahan ke luar dari kamar Andre.

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018