
Ecoprint adalah Teknik memberi warna dan corak (motif) pada kain
TABLOIDSINARTANI.COM, Batu -- Kain yang diwarna dengan teknik ecoprint memiliki motif unik dan berharga tinggi. Daun, bunga dan kayu dijadikan bahan untuk ecoprint. Haragnya bisa menyamai harga batik tulis.
Ecoprint jelas Sugeng Pribadi adalah Teknik memberi warna dan corak (motif) pada kain, kulit atau bahan lainnya dengan menggunakan bahan alami. Bahan alami yang digunakan berasal dari tanaman meliputi beragam jenis daun, bunga, kayu, atau bahan tanaman lainnya yang memiliki corak dan warna yang khas.
Sugeng Pribadi, pemilik Redsoga Kedaikadu Art Shop yang beralamat di Jl. Patimura Gang 5 No 30 Kel.Temas Kec.Batu Kota Batu Jawa Timur mengembangkan ecoprint sejak 2016 dengan ekstrak daun ke media kain, kulit domba atau kulit sapi.
Menurut Sugeng, daun yang bisa digunakan adalah yang mempunyai tekstur dan klolofil tinggi serta bahan-bahan yang mempunyai tanin yang kuat, untuk budidaya tanaman bahan pembuatan ecoprint, Sugeng menanamnya di sekitar halaman rumahnya yang sekaligus juga sebagai galeri. “Sifat daun itu sendiri ada tiga macam, menyerap warna, mentransfer warna dan menutup warna, contohnya daun jarak, daun lanang, cinadol, katul,” katanya.
Menurutnya ada 2 (dua) teknik pembuatan ecoprint, yaitu teknik pukul atau pounding dan teknik kukus atau steam.
Sugeng menjelaskan teknik pukul atau pounding dilakukan dengan cara meletakkan daun-daun di atas kain atau bahan lain kemudian ditutup dengan lapisan kain atau blangket. selanjutnya dipukul pelan-pelan secara langsung menyesuaikan bentuk daun atau alur daun secara perlahan menggunakan alat dari bahan kayu atau besi sebagai alat pemukulnya.
Apabila menggunakan besi harus pelan tidak terlalu keras atau cepat untuk menghindari kain agar tidak berlubang. “Setelah semua selesai kemudian kain penutup daunnya di buka dan daun-daun bekas tadi bisa untuk pupuk atau media tanam itulah bentuk ekologi,”katanya.
Setelah selesai kemudian diangin-anginkan selama 3 hari, proses selanjutnya adalah penguncian warna supaya tidak pudar atau luntur dengan dicelupkan ke dalam air kapur, bisa juga air tawas atau air tunjung selama 5 menit kemudian diangin-anginkan lagi selama 3 hari baru dicuci dengan detergen, dapat juga dengan air yang mengandung garam karena dapat memunculkan nutrisi yang berbeda.
BACA JUGA:
Pengunci warna juga bisa merubah warna, seandainya kita ingin warna yang cerah menggunakan air tawas, untuk yang lembut menggunakan air kapur, sedangkan warna gelap dengan air tunjung. Jenis kain yang bisa dipakai berbahan katun, sutra, wool, sedangkan kain yang mengandung polyester tidak bisa digunakan karena tidak mempunyai daya serap.
Teknik yang kedua adalah kukus atau steam, sebelum kain digunakan harus di mordanting dahulu, atau dinetralisir menggunakan air tawas. Lebih lanjut Sugeng menjelaskan, “1 sendok makan air tawas dicampur dengan 1 liter air biasa kemudian diaduk, selanjutnya bahan bakunya baik itu kain, kulit, direndam selama 1 (satu)malam,” katanya. Fungsinya untuk menetralisir kain yang dari pabrik karena mengandung unsur kimia, lilinnya, dan juga juga untuk membuka pori-pori kain supaya klorofil mudah masuk ke pori-pori kain, setelah itu diangin-anginkan selama 1(satu) hari baru bisa diproses.
Lebih lanjut Sugeng menjelaskan sebelum kain di proses kukus atau steam harus dicelukan dulu ke air tawas, air kapur, bisa air tunjung. Dalam kondisi agak basah kemudian tempeli daun-daun dengan motif yang dikehendaki, pastikan komposisinya, motifnya, sesuaikan dengan kebutuhanya, baru diatasnya tutup dengan kain atau blangket, bisa yang berwarna ataupun polos, setelah itu dilipat atau digulung dengan batang kayu lantas diikat dengan menggunakan tali benang atau tali rafia sesuai dengan besar kecilnya tempat mengukus yang dimiliki kurang lebih selama 2 jam.
Proses setelah didinginkan adalah diambil daun-daunnya yang bisa dimanfaatkan untuk pupuk atau media tanam sehingga ramah lingkungan, kemudian diangin-anginkan tidak boleh terkena sinar matahari langsung selama 3 hari, langkah terakhir dilakukan pengunci warna untuk menghindari luntur atau pudar warna daunnya.
Bertahan 5 Tahun
Dengan menggunakan merk produk Redsoga Ekoprint produk ini bisa bertahan sampai 5 tahun yang diaplikasikan dalam bentuk bahan kain, tas, dompet, sepatu kulit, jilbab, pashmina dan bentuk cendera mata lainnya. “apabila menggunakan daun jati untuk mentransfer warna merah menggunakan air kapur, warna ungu menggunakan air tunjung, dan bila menginginkan warna ping menggunakan air tawas, “ imbuhnya.
Menurut Sugeng motif unik mengunakan jenis daun lanang dan daun jarak merah, hal ini karena bentuknya artistik apalagi ada bekas dimakan ulat, sedangkan daun lanang warnanya menarik dan pekat, kadang bisa kuning , kadang juga orange.
Lulusan SMA Negeri Batu yang juga seorang pemahat atau pematung yang belajar ecoprint secara otodidak menjelaskan alasannya bergeser keecoprint adalah bentuk kontribusi saja. “Seni murni difaktor ekonominya untuk keseharian tidak dapat memenuhi, karena lama, lakunya lama, harganya tidak terjangkau dan orang-orang tertentu saja memahami seni murni, tapi kalau dihandycraf orang paham dan terjangkau harganya serta kebutuhan pariwisata sebagai salah satu daya tariknya,” katanya.
Produk ecoprintnya sudah merambah ke beberapa negara diantaranya, Hongkong, Prancis, Australia serta Jepang, sedangkan pasar dalam negeri sepertinya belum banyak yang tertarik hal ini barangkali kurang mensosialisasikan bahwa ecoprint produk ramah lingkungan sedangkan bahan dari sekitar kita untuk itu penting selalu mengedukasi atau pelatihan karena masih jarang mengetahui, dimana, pangsa pasarnya, sebesar apa peminatnya, harganya serta prosesnya. “ untuk bahan kain 450 ribu dan apabila sudah menjadi baju harga bisa 600 ribu sedangkan bahan kain sutra bisa 5 juta,”imbuhnya.
Hal ini dirasakan wajar karena produk ecoprint secara teknik memang perlu orang yang benar-benar mempunyai ketrampilan mengingat produk ecoprint mempunyai karakteristik tidak bisa memproduksi motif atau desain yang sama meskipun prosesnya sama, hal ini dikarenakan karakter daun tentunya berbeda-beda, secara teknis sederhana tetapi proses menunggnya yang memakan waktu lama.
Bebagai penghargaan telah Sugeng dapatkan diantaranya Peraih penghargaan terbaik ke 2 dalam rangka peringatan hari peduli sampah nasional Kota Batu Tahun 2021 kategori pengolahan sampah kriteria individu, Sebagai pengisi workshop peringatan hari peduli sampah nasional dari Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Timur tahun 2020, berpartisipasi dalam Sowan The Spirit Of East Java sasto Painting Exhibition, Hungary 2019.
--+
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/