Friday, 07 May 2021


“Buatlah Petani Tersenyum”

11 Apr 2021, 10:39 WIBEditor : Ahmad Soim

Tokoh petani di food estate Kapuas | Sumber Foto:Dok Humas Kementan

 

 

Oleh: Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr - Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Saat ini kondisi pertanian di Indonesia dihadapkan dengan jumlah petani yang dalam tiga tahun terakhir terus mengalami penurunan, meski di tahun 2020 naik 2,23 %. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah petani pada tahun 2017 sebanyak 35,92 juta, menurun menjadi 35,7 juta orang pada tahun 2018 dan 34,58 pada tahun 2019. Bappenas memperkirakan bahwa jika tren penurunan ini berlangsung terus, maka pada tahun 2063, jumlah petani di Indonesia akan habis.

Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya jumlah petani adalah pendapatannya yang rendah karena penguasaan lahan yang sempit dan produktivitas rendah. Petani padi dengan penguasaan lahan di kisaran 0,3 - 0,5 ha, pendapatannya hanya sekitar Rp 1,3 – 2 juta per bulan (berdasarkan data PSEKP).

Namun demikian dibalik rendahnya pendapatan, petani mempunyai pekerjaan yang sangat mulia, yaitu menyediakan pangan untuk kita semua. Coba bayangkan bagaimana kondisinya jika petani mogok kerja, kita mau makan apa?.

Dalam kondisi petani seperti itu, maka untuk meningkatkan pendapatannya, setidaknya bisa ditempuh melalui dua upaya. Pertama, dengan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk yang dihasilkan. Implementasi inovasi teknologi dan korporasi petani dalam program food estate merupakan alternatif untuk menggenjot produktivitas dan nilai tambah. Kedua, memberikan peluang atau akses kepada petani untuk bisa mendapatkan tambahan pendapatan bagi keluarganya dari luar sektor pertanian, di antaranya dari sektor industri, manufaktur, jasa dan lain sebagainya.

BACA JUGA:

Penyuluh pertanian berperan penting dalam meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan pendapatan petani. Tentu petani akan merasa senang, bahagia, dan tersenyum bila pendapatannya meningkat. Ternyata memang ciri penyuluh sukses adalah bila dia mampu membuat petani tersenyum.

Sesungguhnya tuntutan petani itu tidak pernah muluk-muluk bahkan sederhana saja. Petani akan senang bila sebelum bertanam mereka bisa mengakses kredit usaha rakyat (KUR) untuk modal. Bila mereka mau tanam, maka pupuk, benih, dan pestisida tersedia dengan harga terjangkau. Bila panen, maka mereka tentu akan bersuka cita bila harga jual tidak perlu tinggi, tapi cukup memadai untuk membuat mereka semangat dan bergairah melanjutkan usaha taninya.

Reorientasi Penyuluhan

Dengan demikian maka nampaknya perlu reorientasi penyuluhan yang selama ini berlangsung, yaitu penyuluhan bukan hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi tapi juga bagaimana caranya agar petani tersenyum. Dengan kata lain, penyuluhan tidak hanya di hulu atau on farm saja, yaitu bagaimana mendapatkan KUR dan asuransi, tetapi juga di hilir atau off farm bagaimana meningkatkan nilai tambah dan mendapatkan harga jual yang baik.

Peluang penyuluh untuk membuat petani tersenyum memang tidak mudah apalagi saat ini kita masih berjibaku dengan penanganan pandemi covid 19. Namun demikian, dengan segala ketekunan, kerja keras, dan kerja ikhlas, tentu bukan hal yang mustahil pertanian menjadi andalan perekonomian nasional.

Di saat pandemi covid 19 tahun 2020, PDB nasional mengalami penurunan hingga angka negatif, tapi sektor pertanian mampu menggeliat tumbuh positif. Data BPS menunjukkan bahwa PDB sektor pertanian tahun 2020 tumbuh positif mencapai 16,24% pada triwulan II, tumbuh 2,15% pada triwulan III, dan mencapai 2,59 % pada kuartal IV. Subsektor tanaman pangan merupakan pendukung utama pada kuartal IV tersebut hingga mencapai 10,47 persen akibat produksi dan luas panen yang meningkat.

Selain penyediaan sarana prasarana, implementasi inovasi teknologi, pemberdayaan dan rekayasa kelembagaan petani termasuk kelembagaan ekonomi petani menuju korporasi petani, serta membangun kerjasama dengan off taker dan akses pasar merupakan bagian yang sangat penting untuk membuat petani tersenyum. Penyuluh yang berperan untuk merubah pengetahuan, sikap dan keterampilan petani harus selalu hadir di setiap detak jantung petani.  

Dengan demikian maka pendampingan petani merupakan kata kunci untuk membuat petani tersenyum. Penyuluh wajib mendampingi petani bagaimana caranya mendapatkan KUR dari Bank dan asuransi dari Kementan, lalu bagaimana mengimplementasikan inovasi teknologi agar produktivitas dan nilai tambah meningkat. Demikian pula petani dan kelembagaannya harus diberdayakan agar bargaining position petani tinggi sehingga daya saing juga meningkat dan harga jual produk petani menarik.

Pendampingan melalui Kostratani

Salah satu program utama Kementerian Pertanian adalah Komando Strategis Pembangunan Pertanian Tingkat Kecamatan (Kostratani). Kostratani itu hakekatnya adalah pemberdayaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), penyuluh dan petani, serta berbagai lapisan masyarakat di tingkat kecamatan yang ditujukan untuk mencapai kedaulatan pangan nasional dengan memanfaatkan teknologi modern termasuk teknologi informasi.

Penyuluh pertanian di seluruh pelosok tanah air harus bergerak secara berjamaah dan masif dalam program pendampingan melalui Kostratani. Pertama, pendampingan agar petani bisa mengakses modal melalui KUR. Pemerintah telah menetapkan bunga KUR hanya 6 % jauh lebih rendah dibandingkan kredit lain.

Kedua, pendampingan akses petani terhadap asuransi pertanian. Kementerian Pertanian mengeluarkan program asuransi, yakni Asuransi Usata Tani Padi (AUTP) dan Asuransi Usata Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K). Premi AUTP Rp 180.000/ha/mt, swadaya petani 20% atau Rp 36.000/ha/mt dan bantuan pemerintah   80% atau Rp 144.000/ha/mt. Sedangkan AUTS/K, preminya: Rp 200.000/ekor/th, sehingga petani membayar Rp 40.000/ekot/th dan bantuan pemerintah  Rp 160.000/ekor/th.

Ketiga, pendampingan penyaluran pupuk bersubsidi melalui e-RDKK. Beberapa ketententuan yang perlu disampaikan kepada petani, yakni: (1)  Pupuk Bersubsidi dialokasikan untuk sub sektor Tanaman Pangan (termasuk PATB), Hortikultura, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan; (2) Pupuk bersubsidi untuk petani yang telah bergabung dalam kelompok tani, WAJIB menyusun e-RDKK dan menggarap lahan paling luas 2 ha dan petani tambak paling luas 1 ha per MT, dan (3) Penyaluran pupuk bersubsidi dapat dilakukan dengan Kartu Tani.

Keempat, pendampingan implementasi program Kementan yang meliputi: (1) Penyusunan programa penyuluhan pertanian dan CP/CL program kegiatan, (2) Percepatan pencapaian target program dan kegiatan pembangunan pertanian (kuantitas dan waktu), (3) ketersediaan benih, pupuk, alsintan, teknologi, pembiayaan, pangan, informasi harga, dengan 5 TEPAT (waktu, jumlah, tempat, mutu dan harga, dan (4) program dan kegiatan pembangunan pertanian yang intensif.

Kelima, pendampingan implementasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, nilai tambah, dan daya saing. Peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih bermutu dan berpotensi hasil tinggi, pengelolaan air, pemupukan berimbang, pemanfaatan alsintan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan panen yang baik. Efisiensi input factor produksi melalui penggunaan kompos, pestisida nabati, alsintan pra dan pasca panen. Peningkatan nilai tambah berarti petani harus melakukan olahan agar keuntungan lebih baik. Petani padi jangan jual padi atau gabah tapi beras, petani jagung jangan jual jagung tapi pakan ternak, petani kedelai jangan jual kedelai tapi jual tempe atau tahu dan lain-lain.

Agar produk berdaya saing maka petani harus tekan HPP serendah-rendahnya alias tingkatkan efisiensi dan produktivitas setinggi-tingginya, serta lakukan pengemasan yang menarik agar orang tertarik untuk membelinya. Pendampingan peningkatan nilai tambah dan daya saing dilakukan pada semua lini tahapan agribisnis, yakni pada on farm, off farm, pemasaran hingga ekspor dengan melibatkan para stake holder.

Keenam, pendampingan petani juga melalui program pekarangan lestari. Setiap jengkal tanah selama masih ada sinar matahari harus ditanami. Jangan biarkan waktu berlalu sedetik pun untuk tidak tanam. Setiap detik tanam berarti setiap detik juga panen. Di perkotaan, bisa dengan mengembangkan hidroponik, vertical farming, urban farming, family farming, dan lain-lain.

Ketujuh, petani dan kelembagaannya (poktan, gapoktan, KEP, dan lain-lain) harus terus diberdayakan agar mandiri dan mampu berbisnis secara berkelompok, serta terus didorong menuju korporasi petani. Petani juga diarahkan untuk memahami distribusi dan pemasaran online atau market place online, tidak perlu tatap muka datang ke pasar atau mall tapi cukup manfaatkan aplikasi, seperti lapak Kostratani online. Terkait pemanfaatan teknologi informasi (TI) dorong petani milenial terlibat dalam bisnis pertanian dari hulu sampai hilir karena mereka umumnya menguasai IT, cerdas, dan kaya dengan ide-ide kreatif seperti para start up yang saat ini menjamur di tanah air.

Kedelapan, pendampingan petani di kawasan food estate berbasis korporasi petani pada prinsipnya adalah penyuluh melakukan pendampingan secara komprehensif berkelanjutan dari pendampingan pertama hingga ketujuh. Program ini menjadi harapan Presiden RI Joko Widodo dan menjadi program super prioritas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Bila program pendampingan ini berjalan dengan baik maka pasti petani akan tersenyum. 

--+

 

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Sumber : Chacha
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018