Sunday, 09 May 2021


Lebaran, Waktunya Semur Kerbau Tampil di Meja Masyarakat Betawi

30 Apr 2021, 11:25 WIBEditor : Gesha

Semur Kerbau menjadi andalan masyarakat Betawi saat Lebaran | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Lebaran sebentar lagi ! Bagi masyarakat Betawi, lebaran menjadi waktunya semur Kerbau nongol  di meja makan. Apa istimewanya semur kerbau yang masih dipelihara tradisinya secara turun temurun oleh masyarakat betawi ini?

Idul Fitri menjadi saat yang dinanti masyarakat Betawi seperti Gugun Gunadi, warga Kampung Kramat, Setu, Cipayung, Jakarta Timur. Bagi dirinya dan masyarakat Kampung Kramat, Lebaran identik dengan makan semur kerbau.

Umumnya, masyarakat Kampung Kramat membeli kerbau dengan sistem gotong royong berupa dana urunan berupa arisan, setiap anggota wajib menyetor Rp 100 ribu per bulan. Setelah arisan berjalan dua bulan, koordinator arisan membeli dua kerbau dari daerah Cileungsi, Kabupaten Bogor. 

Bermodal dana arisan itu, warga juga membayar tukang angon untuk memelihara kerbau selama 10 bulan ke depan.Dua hari menjelang Lebaran, kerbau disembelih. Warga lantas ambil peran dalam pemotongan, penimbangan, serta pembagian daging. Setiap peserta mendapat 5 kilogram daging murni serta 2 kilogram campuran tulang, jeroan, gajih, dan usus yang biasa diolah menjadi semur kerbau.

Menurut Gugun, kegiatan gotong royong ini biasa disebut tradisi andilan. Masyarakat Betawi mengutamakan daging kerbau untuk merayakan Lebaran. Saking pentingnya, orang Betawi rela menjual tanah untuk membeli kerbau.

Dilansir dari http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id/, Hidangan semur kebo andilan mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat Betawi. Tradisi ini masih terpelihara antara lain oleh etnis Betawi di sekitar Srengsengsawah, Jagakarsa dan Jatibening, Bekasi.

Tokoh Muda Betawi, Masykur Isnan menjelaskan, hidangan semur atau bagi masyarakat Betawi disebut juga dengan andilan, disajikan spesial saat lebaran sebagai wujud rasa syukur dan penanda kemenangan setelah satu bulan penuh puasa.

Ada alasan mengapa semur kerbau dianggap lebih spesial bagi masyarakat betawi. Menurut Masykur, dulu warga Betawi selain berprofesi sebagai nelayan, mereka umumnya adalah seorang petani, sehingga erat kaitannya dengan bercocok tanam di sawah atau kebun dimana kerbau digunakan sebagai alat bantu. "Oleh karenanya komoditi daging yang paling gampang dijumpai adalah kerbau," jelasnya. 

Saat hari raya semur andilan yang bernuansa coklat pekat dan legit di lidah menjadi  pendamping ketupat dan sayur sambal godog. Hantaran rantangan Lebaran di kalangan masyarakat Betawi pun selalu identik dengan semur kerbau andil, ketupat, sayur godog, dan kue kembang goyang. 

Citarasa

Di era modern, tradisi Semur Kerbau masih dipelihara turun temurun oleh masyarakat Betawi. Meskipun tidak melalui tradisi andilan seperti dahulu, umumnya mereka mencari daging kerbau di beberapa pasar tradisional. Seperti yang dilakukan warga Duri Kosambi, Jakarta Barat, Ahmad yang harus mencari daging kerbau ke 5 pasar tradisional.

“Susah kalau mau pelihara kerbau di kota begini, gampangnya harus mau cari ke pasar-pasar. Biasanya kita sudah booking duluan ke tukang daging, entar mereka cariin ke tukang jagal. Memang mahal, biasanya Rp 180 ribu per kilogram. Tapi namanya tradisi, enggak enak Lebaran tanpa daging kerbau,” tambahnya.

Lantas bagaimana sebenarnya citarasa semur daging kerbau ini Ahmad menuturkan rasanya lebih enak daripada daging sapi. “Ada rasa gurih dan kenyal daripada daging sapi. Harga mahal, enggak apa-apa, setahun sekali ini,” tuturnya.

Diakuinya,dalam memasak daging kerbau perlu resep dan cara khusu karena dagingnya  memiliki serat yang lebih kasar dibandingkan daging sapi, Jika diperhatikan dengan seksama, warna daging kerbau ternyata lebih merah pekat dibandingkan daging sapi.

Daging kerbau ternyata memiliki kadar kolesterol lebih rendah jika dibandingkan daging sapi. Karenanya, tidak perlu terlalu khawatir jika mengonsumsi daging kerbau  asal tidak terlalu banyak.

 

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018